Topswara.com -- Aroma buah-buahan, beras, minyak goreng, dan berbagai makanan memenuhi suasana peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Dukuh Gedongan, Desa Brunosari, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.
Warga setempat memiliki tradisi turun-temurun berupa ancak, yakni walimahan yang berisi beragam kebutuhan pokok, makanan, hingga perlengkapan rumah tangga untuk dibagikan kepada tamu undangan.
Tradisi tersebut bukan sekadar menghadirkan hidangan. Warga bergotong royong mempersiapkan ancak, mulai dari mengumpulkan kebutuhan hingga mengangkutnya.
Bahkan, satu ancak dapat bernilai sekitar Rp10 juta hingga Rp15 juta. Pada Maulid tahun ini, sekitar 330 ancak disiapkan untuk memenuhi kebutuhan sekitar 320 tamu undangan, dilansir dari Kompas.com
(31 Agustus 2026).
Tradisi ini tentu memperlihatkan kuatnya semangat berbagi, gotong royong, dan menjaga hubungan antar masyarakat. Warga bahkan memandang pembuatan ancak sebagai bentuk keikhlasan dan ungkapan syukur. Tradisi tersebut juga melibatkan berbagai generasi sehingga menjadi sarana mempererat kerukunan warga.
Namun, ada hal yang perlu direnungkan. Ketika memperingati Maulid Nabi, apakah kecintaan kepada Rasulullah SAW cukup diwujudkan melalui tradisi yang berbeda-beda di setiap daerah?
Sekadar Tradisi atau Wujud Ketaatan?
Dalam kehidupan masyarakat Muslim, sering kali kecintaan kepada Nabi diwujudkan dalam berbagai bentuk yang berbeda. Ada yang mengadakan pengajian, bershalawat, berbagi makanan, membuat ancak, atau menggelar berbagai kegiatan sosial. Semua itu dapat menjadi sarana untuk mengungkapkan kegembiraan dan rasa syukur.
Namun, jangan sampai peringatan Maulid berhenti pada aspek seremonial dan tradisi semata. Sekularisme yang mempengaruhi cara pandang sebagian umat dapat membuat agama ditempatkan sebatas urusan spiritual dan budaya. Akibatnya, mencintai Nabi dipahami cukup dengan melakukan berbagai bentuk perayaan sesuai kebiasaan masyarakat masing-masing.
Padahal, Rasulullah SAW tidak hanya membawa ajaran tentang ibadah ritual. Beliau membawa risalah Islam yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Karena itu, kecintaan kepada Rasulullah SAW semestinya tidak berhenti pada perayaan, tetapi diwujudkan dengan mengikuti risalah yang beliau bawa.
Allah SWT berfirman: “Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali Imran: 31)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa cinta kepada Allah harus dibuktikan dengan ittiba’ kepada Rasulullah SAW. Maka, mencintai Nabi bukan sekadar memperbanyak ungkapan cinta, tetapi juga mengikuti tuntunan beliau.
Ittiba’ sebagai Bukti Cinta
Maulid seharusnya menjadi momentum untuk mengenal kembali kehidupan Rasulullah SAW dan menumbuhkan semangat mengikuti ajaran beliau. Tradisi berbagi seperti ancak dapat menjadi bagian dari kebaikan sosial, tetapi jangan sampai dianggap sebagai inti dari kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Sebab, bentuk syukur yang benar bukan sekadar menghadirkan kemeriahan atau memperbanyak hidangan. Syukur atas diutusnya Rasulullah SAW harus diwujudkan dengan menerima risalah Islam dan berusaha menerapkannya dalam kehidupan.
Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang menaatiku, maka sungguh ia telah menaati Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dengan demikian, ukuran kecintaan kepada Nabi bukanlah seberapa besar biaya yang dikeluarkan dalam sebuah perayaan, seberapa banyak makanan yang dibagikan, atau seberapa meriah kegiatan dilaksanakan. Ukurannya adalah sejauh mana seorang Muslim menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan dan mengikuti syariat yang beliau bawa.
Jangan Berhenti pada Simbol
Tradisi ancak di Dukuh Gedongan menunjukkan bahwa masyarakat masih memiliki semangat kebersamaan yang kuat. Nilai gotong royong, berbagi rezeki, dan mempererat silaturahmi tentu merupakan hal yang baik. Namun, umat Islam perlu memastikan bahwa tradisi tidak menggantikan substansi ajaran Islam.
Jangan sampai Maulid hanya menjadi momentum tahunan yang selesai setelah acara berakhir. Jangan pula kecintaan kepada Nabi hanya tampak dalam lantunan sholawat, hidangan, dan tradisi, tetapi tidak terlihat dalam kehidupan sehari-hari.
Mencintai Nabi berarti mencintai risalah yang beliau bawa. Mengikuti Nabi berarti berusaha menjalankan perintah Allah dan meninggalkan apa yang dilarangNya. Dengan demikian, Maulid semestinya menjadi momentum untuk memperkuat keimanan, memperbaiki akhlak, dan meneguhkan tekad untuk menjalankan Islam secara kaffah.
Tradisi boleh berbeda antara satu daerah dan daerah lainnya. Namun, standar kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak boleh diserahkan kepada budaya atau kebiasaan manusia. Standarnya adalah wahyu dan keteladanan Rasulullah SAW.
Karena itu, semangat berbagi melalui ancak patut diarahkan menjadi bagian dari kebaikan yang lebih besar: mengenalkan umat kepada risalah Islam dan mendorong mereka untuk mengamalkannya. Jangan sampai besarnya ancak justru lebih diingat daripada besarnya risalah yang dibawa Rasulullah SAW.
Pada akhirnya, peringatan Maulid bukan hanya tentang bagaimana kita merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi tentang bagaimana kita membuktikan bahwa kita benar-benar mencintai beliau. Sebab cinta yang sejati bukan hanya diucapkan, melainkan dibuktikan dengan ittiba’ kepada seluruh risalah yang beliau bawa.
Wallāhu a'lam biṣ-ṣawāb.
Oleh: Anggun Istiqomah
Aktivis Muslimah

0 Komentar