Topswara.com -- Shalat adalah ibadah yang paling resmi dalam Islam. Dan dalam shalat inilah kita sedang 'bermuwajjahah' atau berkomunikasi langsung dengan Rabb semesta Alam.
Tak ada alasan seorang yang melakukah shalat itu terburu-buru baik bacaannya maupun gerakan-gerakan shalat. Seolah ada yang dikejar sehingga dirinya tidak merasa sedang berkomunikasi dengan Allah swt.
Padahal orang yang shalat terlalu cepat sehingga tidak thuma'ninah, telah ditegaskan Rasulullah adalah sejahat-jahatnya pencuri, sabdanya :
أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلَاتِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلَاتِهِ قَالَ لاَ يُتِمُّ رُكُوعَهَا وَلاَ سُجُودَهَا أَوْ قَالَ لاَ يُقِيمُ صُلْبَهُ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ
“Manusia paling buruk pencuriannya adalah orang yang mencuri dari shalat”. Mereka (para sahabat) berkata, “Bagaimana ia mencuri shalatnya?” Beliau bersabda, “Dia tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya”, atau beliau bersabda, “Dia tidak meluruskan punggungnya ketika ruku’ dan sujud.” [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (5/310). Hadis ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (no. 885)]
Dalam hadis yang lain Rasulullah saw menegaskan ada orang yang shalat selama 60 tahun tetapi shalatnya tidak diterima lantaran rukuk dan sujudnya tidak sempurna, sabdanya :
إِنَّ الرَّجُلَ لَيُصَلِّي سِتِّينَ سَنَةً مَا تُقْبَلُ لَهُ صَلَاةٌ، لَعَلَّهُ يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَلَا يُتِمُّ السُّجُودَ، وَيُتِمُّ السُّجُودَ وَلَا يُتِمُّ الرُّكُوعَ
“Sesungguhnya ada seseorang yang shalat selama 60 tahun, namun tidak diterima (oleh Allah) amalan shalatnya selama itu walau satu shalatpun. Boleh jadi (sebabnya) dia sempurnakan ruku’-nya tetapi sujudnya kurang sempurna, demikian pula sebaliknya.” (Hadis Hasan, riwayat Ibn Abi Syaibah dari Abu Hurairah ra, Shahih al-Targhib, no. 596).
Subhanallah, sampai 60 tahun shalatnya enggak diterima oleh Allah swt lantaran terlalu cepat alias tidak thuma'ninah. Karena itu sahabat muslim kalau shalat jangan tergesa, kosentrasikan pikiran sesuai bacaan yang sedang dibaca.
Pada suatu hari Rasulullah Saw melihat seseorang sedang shalat dengan gerakan yang cepat, tanpa menyempurnakan posisi sujud dan rukuk-nya, maka Rasulullah Saw bersabda:
لَوْ مَاتَ هَذَا عَلَى حَالِهِ هَذِهِ مَاتَ عَلَى غَيْرِ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
(Kalau dia mati dalam kondisi shalat model begini, maka dia mati bukan di atas (petunjuk) agama Muhammad Saw.” HR. Ibnu Abi Syaibah, At-Thabrany, dll. Shahih al-Targhib no. 528)
Melakukan gerakan shalat dengan cepat tanpa thumakninah itu termasuk orang yang 'lalai shalatnya' dan hal ini ada ultimatum Allah dalam Al-Quran ; berupa ancaman kecelakaan dan azab yang besar. (Q.S.Al-Maun ,4-5).
Bacaan yang Sunah Tak Dibaca
Disamping tidak thuma'ninah dalam shalat, hal yang sering dilakukan sebagian umat Islam yang lagi shalat adalah bacaan-bacaan yang hukumnya sunah tidak dibacanya. Toh kata mereka 'hukumnya kan sunah enggak membatalkan shalat, argumennya.
Seperti bacaan doa iftitah, surat atau ayat pasca bacaan Al-fatihah pada rakaat awal dan tsaani. Bacaan saat rukuk dan bangkit dari rukuk. Bacaan shalawat nabi enggak sampai shalawat 'ibrahimiyyah' padahal ini paling 'afdhal' shalawat nabi.
Ada lagi bacaan yang sering ditinggalkan para mushalliin yaitu bacaan doa mohon perlindungan kepada Allah dari 5 bahaya yaitu siksa jahannam, siksa kubur, fitnah kehidupan dan kematian dan jahatnya Al-masih-dajjal.
Doa ini dibaca sebelum salam.Ini doanya yang dipraktekkan Rasul :
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ، يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ (رواه مسلم)
Dari Abu Hurairah ra mengatakan, Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila diantara kalian telah tasyahud akhir, maka berlindunglah kepada Allah dari empat hal, beliau mengucapkan "Allahumama inni a’udzubika min ‘adzabi jahannam, wa min ‘adzabilqabri, wa min fitnatilmahya walmamati, wa min syarri fitnatil masihiddajjal.”
Doa itu sangat penting untuk dibaca. Kita semua minta selamat dari empat macam fitnah yang membahayakan itu.
Jadi betapa ruginya kalau kita shalat tidak semua bacaan shalat yang diajarkan Rasul dibacanya. Bacaan shalat itu lebih utama dibandingkan kita baca diluar shalat sebagaimana disebutkan dalam hadis :
Sayyidah Aisyah ra, ia berkata Rasulullah Saw bersabda,
قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ فى الصَّلاَةِ اَفْضَلُ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فىِ غَيْرِ الصَّلاَةِ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ فى غَيْرِ الصَّلاَةِ اَفْضَلُ مِنْ التَّسْبِيْحِ وَالتَّكْبِيْرِ التَّسْبِيْحُ اَفْضَلُ مِنَ الصَّدَقَةِ الصَّدَقَةُ اَفْضَلُ مِنَ الصَّوْمِ الصَّوْمُ مِنَ النَّارِ
“Membaca Al-Quran di dalam shalat lebih utama dari pada di luar shalat, membaca Al-Qur’an diluar shalat lebih utama daripada tasbih dan takbir, tasbih lebih utama daripada sedekah, sedekah lebih utama daripada puasa, dan puasa adalah penghalang dari api neraka.” (HR. Baihaqi).
Hadis ini menerangkan keutamaan membaca Al-Qur’an, kalau dibaca saat shalat lebih utama dari pada membacanya diluar shalat.
Khusyuk dalam Shalat
Agar kita benar-benar dapat merasakan ‘dzauq’ atau kenikmatan berkomunikasi dengan Allah SWT dalam shalat, tentu kita harus benar-benar khusyuk dalam shalat.
Ketahuilah, bahwa Allah Ta’ala memuji orang-orang yang khusyuk dalam shalat mereka, Allah SWT berfirman ;
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ
الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS. Al-Mu’minun 1-2)
Ulama kontemporer Syekh Wahbah bin Musthafa az-Zuhaili dalam at-Tafsir al-Munir saat menafsirkan surah al-Mukminun ayat 2, yakni “alladzina hum fi shalatihim khasyi’un”, dengan menyatakan:
وهو الخضوع والتذلل لله والخوف من الله تعالى ومحله القلب فإذا خشع خشعت الجوارح كلها لخشوعه إذ هو ملكها
"Kusuk adalah kepasrahan, kerendahan, rasa takut kepada Allah. Tempatnya di hati. Karenanya, orang yang hatinya khusyuk, tentu semua anggota badannya turut khusyuk. Sebab hatilah yang menguasai seluruh anggota badan (Wahbah bin Musthafa az-Zuhaili, at-Tafsir al-Munir, juz XVIII, halaman 14).
Salah satu caranya agar shalat kita khusuk adalah pahami makna bacaan-bacaan shalat. InsyaAllah jika paham benar akan membantu kekhusukan shalat kita.
Ayo, kita laksanakan shalat dengan sebaik-baiknya. Karena ketika kita shalat sejatinya kita sedang bermunajat dengan Allah Ta’ala, jangan sampai kita shalat dari kecil hingga tua 60 tahun, shalatnya ‘acak-acakan’ seperti ayam yang sedang ‘mematuk’ makanannya.
Kalau demikian halnya kita akan menjadi orang yang merugi. Na’udzubillahi mindzalik. Dan tentu saja kita harus rajin-rajin belajar tentang shalat yang baik sesuai tuntunan sunah Rasulullah Saw. Wallahu a’lam.
Oleh: Abdul Mukti
Pemerhati Kehidupan Beragama

0 Komentar