Topswara.com -- Badan gizi nasional (BGN) kembali menjadi sorotan publik, setelah dalam 3 hari sejak 1 hingga 3 September 2026 terjadi kasus keracunan secara beruntun di beberapa daerah, seperti Sidoarjo, Rembang, Nganjuk, Jombang, Agam, Tana Toraja.
Total jumlah korban tak main-main, mencapai angka sekitar 2.000 orang. Jika ditotalkan, jumlah korban keracunan sejak MBG diluncurkan pada bulan Januari 2025 mencapai angka yang cukup fantastis 50.000 orang.
Bagi pemerintah jumlah korban mungkin hanyalah angka di atas kertas, yang jika di hitung hanya sekitar nol koma sekian persen saja dari berjuta-juta penerima manfaat MBG.
Namun bagi orang tuanya, anak-anak merupakan buah cinta yang mereka rawat dan lindungi, mereka beri pendidikan terbaik hingga kelak dewasa nanti mereka bisa menjadi generasi penerus bangsa.
Memang benar, Kepala BGN sudah meminta maaf dihadapan publik dan berjanji akan melakukan langkah-langkah represif untuk menyelesaikan permasalahan ini, termasuk memberikan sanksi administratif kepada pihak-pihak yang bertanggungjawab.
BGN juga mengungkap bahwa sebagian besar kasus keracunan dalam pelaksanaan program MBG ini terjadi akibat pelanggaran standar operasional prosedur (SOP) yang dilakukan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), seperti tata cara penyimpanan makanan dan waktu konsumsi.
Kejadian keracunan massal ini bukanlah kali pertama, namun telah terjadi berulang kali. Sehingga tidak semudah itu menimpakan permasalahan pada kelalaian SOP semata. Ada kesalahan sistemik yang berpangkal pada mindset bisnis yang menjadi dasar pemerintah demokrasi kapitalisme dalam melaksanakan program MBG ini.
Apalagi faktanya banyak SPPG yang kemampuan dan kelayakannya masih dibawah standar. Sarana dan prasarana dapur produksi MBG tidak sebanding dengan jumlah produk yang harus disiapkan. Namun sangat tidak heran karena tujuan yang mendasari pelaksanaan program ini Kapitalisme.
Problem perizinan pendirian SPPG yang hanya bertumpu pada aspek administratif tanpa memastikan kelayakan tempat, peralatan dan rekrutmen karyawan SPPG, akibatnya banyak SPPG yang jauh dari kata layak untuk tetap beroperasi.
Ditambah lagi banyaknya kasus jual beli titik, korupsi berjamaah antara yayasan, investor dan mitra SPPG yang sangat berpengaruh pada kualitas bahan makanan MBG. Hal ini semakin mempertegas bahwa program MBG hanyalah proyek bancakan para oligarki.
Dalam Islam, negara adalah sebuah institusi tertinggi yang berfungsi sebagai pelayan dan pengurus rakyat. Hal ini menjadi asas dalam setiap kebijakan yang dibuat oleh negara. Artinya setiap keputusan negara akan selalu mempertimbangkan kemaslahatan rakyat, sehingga negara bersih dari tujuan-tujuan bisnis.
Adapun jabatan atau kekuasaan, merupakan amanah yang harus dipertanggung jawabkan dihadapan Allah SWT. Jabatan bukanlah sarana untuk memperkaya diri melainkan wasilah untuk mendapatkan pahala dan ridho Allah SWT.
Dalam sejarah peradaban Islam, negara memfasilitasi semua kebutuhan dasar rakyat seperti sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan dan keamanan. Negara akan memastikan para kepala keluarga mendapatkan pekerjaan yang layak, sehingga bisa memenuhi nafkah untuk keluarga dan memenuhi kebutuhan gizi keluarga.
Dalam bidang pendidikan, dimasa dinasti Abbasiyah Islam mendirikan bangunan sekolah lengkap dengan semua fasilitasnya, termasuk dapur sekolah. Di dapur tersebut, sekolah menyiapkan makanan gratis untuk para siswa setiap hari. Pelaksanaannya dilakukan semudah dan seefisien mungkin.
Negara akan senantiasa melakukan pengawasan dan yang bertugas melakukan pengawasan tersebut adalah qadhi hisbah, hakim yang bertugas mengawasi dan menyelesaikan berbagai pelanggaran yang merugikan hak-hak masyarakat umum, tanpa harus menunggu adanya aduan atau penuntut.
Demikianlah Islam memberikan tuntunan bagi manusia dalam kehidupan bernegara. Sejatinya Islam mampu menjadi solusi untuk setiap permasalahan hidup, namun keengganan manusia untuk menjadikan Islam sebagai satu-satunya pedoman hidup membuatnya jauh dari Rahmat Allah SWT.
Wallahu 'alam Bissawab
Oleh: Vini Setiyawati
Aktivis Muslimah

0 Komentar