Topswara.com -- Di tengah penderitaan rakyat Gaza akibat aksi genosida, pemblokadean total, dan penghancuran wilayah yang tak kunjung usai, narasi perdamaian kembali dijajakan oleh Amerika Serikat (AS) bersama entitas zionis Israel.
Melalui konsep Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian serta pembentukan Pasukan Stabilitas Internasional, Barat menawarkan solusi yang seolah-olah ideal untuk mengakhiri konflik berdarah.
Namun, jika dicermati secara kritis, setiap diplomasi yang dimotori oleh kekuatan hegemonik Barat ini sejatinya tidak pernah berpihak pada kemerdekaan hakiki rakyat Palestina.
Narasi perdamaian tersebut hanyalah kedok diplomatis untuk menjinakkan potensi perlawanan, melestarikan eksistensi pendudukan, dan mengukuhkan cengkeraman imperialisme Barat di tanah suci.
Oleh sebab itu, umat Islam wajib memiliki kesadaran geopolitik yang jernih agar tidak terjebak dalam ilusi perdamaian yang menipu.
Kontradiksi antara janji diplomasi Barat dan realitas di lapangan terlihat sangat telanjang. Pengumuman resmi Presiden AS Donald Trump mengenai rencana pelucutan senjata Hamas dan seluruh faksi perlawanan di Gaza diklaim sebagai langkah monumental menuju keamanan yang langgeng (detik.com, Jumat, 31/7/2026).
Skenario geopolitik tersebut menggariskan bahwa setelah pelucutan senjata selesai, tentara zionis akan ditarik dan tanggung jawab keamanan dialihkan kepada Pasukan Stabilitas Internasional serta kepolisian Palestina yang baru.
Namun, kenyataan di lapangan justru menelanjangi kepalsuan komitmen ini. Gempuran militer, pembantaian warga sipil, pemusnahan infrastruktur, dan perluasan wilayah pendudukan oleh zionis tetap berlangsung tanpa henti.
Hal ini menegaskan bahwa rencana penarikan pasukan zionis hanyalah ilusi belaka, sementara agresi dan penderitaan rakyat Gaza terus berjalan.
Secara analitis, wacana pelucutan senjata melalui kerangka BoP sejatinya merupakan siasat yang dirancang AS dan zionis Israel untuk merontokkan benteng pertahanan terakhir rakyat Palestina. Di saat faksi perlawanan melucuti senjatanya, rakyat Gaza justru ditinggalkan tanpa perlindungan militer sedikit pun di hadapan keganasan musuh.
Narasi pemulihan seperti proyek New Gaza dan diplomasi kemanusiaan yang baru digulirkan setelah puluhan ribu jiwa melayang merupakan bentuk propaganda halus agar agenda pendudukan dapat diterima secara bertahap tanpa perlawanan bersenjata.
Ditambah lagi, kehadiran Pasukan Stabilitas Internasional sama sekali tidak ditujukan untuk membebaskan Palestina dari penjajahan, melainkan untuk melayani kepentingan keamanan entitas zionis dan menjaga status quo imperialisme.
Dalam pandangan Islam, persoalan Palestina bukanlah sekadar konflik teritorial atau krisis kemanusiaan lokal, melainkan persoalan akidah dan kehormatan seluruh umat Islam global.
Allah SWT telah memperingatkan karakter musuh-musuh Islam dalam Al-Qur'an; "Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rida kepadamu sebelum engkau mengikuti agama mereka" (QS. Al-Baqarah: 120).
Ayat ini menegaskan bahwa bergantung pada janji diplomasi musuh hanya akan membawa kebinasaan. Oleh karena itu, umat Islam harus terus mengkritik para pemimpin negeri Muslim yang justru bersekutu atau tunduk pada arahan BoP.
Langkah strategis utama yang harus ditempuh adalah menyatukan seluruh potensi umat di bawah kepemimpinan satu Khilafah Islam yang tangguh, sebagaimana sabda Rasulullah Saw;
"Sesungguhnya seorang Imam (Khalifah) itu adalah perisai, di mana orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung dengannya" (HR. Muslim).
Pada akhirnya, wacana pelucutan senjata dan pembentukan Board of Peace (BoP) bukanlah jalan menuju perdamaian sejati, melainkan jebakan diplomasi yang mematikan bagi perjuangan Palestina. Kemerdekaan dan pembebasan Al-Quds tidak akan pernah lahir dari meja perundingan musuh ataupun resolusi lembaga internasional yang bias.
Pembebasan sejati hanya dapat terwujud melalui persatuan hakiki umat Islam secara global dan mobilisasi kekuatan militer yang nyata di bawah komando kepemimpinan Islam untuk menghapuskan penjajahan zionis dari tanah Palestina selamanya.
Sudah saatnya umat Islam membuang jauh jauh ilusi diplomasi Barat dan kembali pada jalan keteguhan akidah serta perjuangan syariat yang membela kehormatan darah dan tanah suci kaum muslimin.
Wallahu a'lam bishawab.
Oleh: Tinie Andriyani
Aktivis Muslimah

0 Komentar