Topswara.com -- Entitas Zionis Israel sekali lagi menelanjangi watak aslinya di hadapan dunia. Di tengah gencarnya narasi "gencatan senjata" dan "solusi dua negara", secara diam-diam Israel membangun tembok tanah raksasa sepanjang 23 km yang membelah lebih dari separuh wilayah Jalur Gaza.
Keberadaan penghalang raksasa ini terbongkar melalui citra satelit terbaru. Data menunjukkan pembangunannya berlangsung masif dalam beberapa bulan terakhir, tanpa ada pengumuman resmi sedikitpun. (Associated Press, 21-07-2026/kompas.id)
Proyek biadab ini tidak berdiri sendiri. Ia sengaja dibangun melintasi sejumlah permukiman Palestina yang telah lebih dulu diratakan oleh bom-bom Israel. Permukiman yang dulu dihuni ratusan ribu jiwa dari total 2 juta lebih penduduk Gaza. (aljazeera.com, 23-07-2026) (republika.co.id)
Artinya Ini bukan sekadar tembok namun garis pemisah baru. Ini proyek pemusnahan perlahan.
Penjajah Tahap Baru
Pertama, membelah Gaza menjadi dua.
Tembok 23 km ini secara de facto membagi Gaza Utara dan Gaza Selatan. Mobilisasi warga, bantuan kemanusiaan, bahkan jenazah syuhada akan semakin sulit melintas. Gaza dikurung, lalu dicabik-cabik dari dalam.
Kedua, mengosongkan Gaza.
Tembok ini dibangun tepat di atas reruntuhan rumah-rumah warga. Tujuannya jelas yaitu memastikan warga Palestina tidak akan pernah bisa kembali ke tanahnya. Ini taktik "penyempitan ruang hidup" agar 2 juta manusia terpaksa angkat kaki dari tanahnya sendiri.
Ketiga, dikerjakan secara klandestin.
Pembangunan berlangsung berbulan-bulan tanpa ada peringatan. Tidak ada negosiasi. Tidak ada "proses damai". Yang ada hanya fakta di lapangan: Israel terus mencaplok, sementara dunia hanya menonton dan bertepuk tangan untuk gencatan senjata semu.
Inilah Wajah Asli Zionis
Pertama, ambisi menguasai Gaza hingga tak bersisa. Tembok ini adalah bukti. Israel tidak sedang mencari keamanan. Israel sedang menyelesaikan proyek "Greater Israel". Selangkah demi selangkah, sejengkal demi sejengkal tanah Palestina dihabisi.
Kedua, mustahil ada kemerdekaan dari Zionis. Sejarah 77 tahun sudah membuktikan. Setiap kali dunia bicara "negara Palestina", Zionis menjawab dengan permukiman baru, jalan baru, dan sekarang: tembok baru. Israel tidak akan pernah rela melihat bendera Palestina berkibar merdeka.
Ketiga, BoP dan "New Gaza" adalah tipuan. Hari ini kita dicekoki wacana "Badan Otoritas Palestina" dan "Rekonstruksi New Gaza" yang katanya akan membawa kesejahteraan. Itu semua dusta. Itu semua proyek untuk melegitimasi penjajahan dan membuat umat lupa bahwa yang dijajah hari ini adalah Al-Aqsa. Berharap kemerdekaan dan pengakuan negara Palestina dari tangan penjajah adalah puncak kebodohan politik.
Saatnya Kembali Pada Islam
Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai umat Islam?
Pertama, jangan tertipu narasi kafir.
Umat harus cerdas membedakan antara bantuan kemanusiaan dengan proyek politik penjajahan. BoP, New Gaza, Konferensi Damai, semuanya adalah perangkap untuk melanggengkan penjajahan.
Kedua, tegakkan hukum syariat.
Dalam Islam, berdamai dengan entitas Zionis Israel yang menjajah tanah kaum muslimin hukumnya haram. Adapun melawan penjajah yang merampas tanah, membunuh anak-anak, dan menghancurkan masjid, maka hukumnya fardhu kifayah atas seluruh umat Islam.
Namun hari ini kita lumpuh. Karena tidak ada negara yang mengomando seperti negara ketika ada khilafah. Tanpa khilafah, jihad tidak bisa ditegakkan secara sempurna. Tanpa khilafah, tentara-tentara kaum Muslimin hanya bisa melihat saudaranya dibantai dari balik layar.
Ketiga, bongkar pengkhianatan penguasa.
Wahai umat, lihatlah! Di mana peran penguasa negeri-negeri Muslim? Perbatasannya dibuka untuk bantuan, tetapi ditutup untuk pasukan. Kecamannya keras di podium, tapi tangannya terikat perjanjian dengan penjajah. Inilah pengkhianatan yang harus terus kita ingatkan.
Khilafah Solusi Hakiki
Satu-satunya jalan adalah persatuan umat di bawah kepemimpinan Khilafah 'ala minhajin nubuwwah. Hanya khilafah yang akan menjadi junnah, perisai bagi rakyat Palestina. Hanya khilafah yang punya tentara, punya Baitulmal, punya wibawa politik untuk mengusir penjajah dan membebaskan Al-Aqsa.
Di bawah khilafah, umat Islam tidak akan mudah diadu domba. Tidak akan mudah dijajah. Tidak akan mudah tertipu propaganda.
Tembok setinggi ini dibangun bukan untuk damai. Tembok ini dibangun untuk mengubur harapan kemerdekaan Palestina selamanya. Selama umat masih berharap pada PBB, pada Amerika, pada konferensi para pengkhianat, selama itu pula Gaza akan terus disempitkan, dibelah, lalu dihapus dari peta.
Wahai kaum Muslimin.
Sudah cukup air mata. Sudah cukup orasi. Sudah cukup kutukan.
Sudah saatnya kita kembali pada Islam secara kaffah. Bersatu di bawah satu komando, satu bendera, satu negara yaitu khilafah. Karena hanya dengan itulah Al-Quds akan kembali, dan Gaza akan kembali merdeka.
Wallahu'alam Bishshawab.
Oleh: Nurfillah Rahayu
Forum Literasi Muslimah Bogor

0 Komentar