Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Jangan Terlalu Cepat Menjadi Hakim atas Hidup Orang Lain


Topswara.com -- Manusia itu unik. Membaca satu status orang, merasa sudah membaca seluruh hidupnya. Melihat video tiga puluh detik, mendadak seperti memegang rekaman CCTV perjalanan hidup orang tersebut sejak lahir. Lalu keluarlah vonis.

“Oh, ternyata dia cuma cari validasi manusia” “Pantas saja hidupnya begitu.” “Kalau aku jadi dia, aku tidak mungkin melakukan itu.”

Tenang. Kita bahkan belum tentu kuat kalau benar-benar menjadi dia. 

Penilaian yang paling mudah justru sering menjadi penilaian yang paling keliru. Sebab kita hanya melihat satu potongan kecil kehidupan seseorang, lalu merasa sudah memahami seluruh ceritanya.

Padahal manusia bukan Instagram Story yang selesai dipahami dalam beberapa detik.

Ada latar belakang yang tidak kita ketahui. Ada pergulatan batin yang tidak pernah diceritakan. Ada keputusan yang lahir setelah malam-malam panjang penuh pertimbangan. Ada pula luka yang sengaja disimpan karena pemiliknya tidak merasa seluruh dunia perlu mengetahuinya.

Maka saya selalu berpikir, jangan terlalu percaya diri mengomentari kehidupan yang tidak pernah kita jalani.

Kita melihat keputusan, bukan perjalanannya. Kita sering melihat seseorang ketika ia sudah mengambil keputusan. Yang tidak kita lihat adalah perjalanan menuju keputusan tersebut.

Kita melihat seorang perempuan memilih diam, lalu menyebutnya lemah. Kita tidak tahu berapa kali sebelumnya ia sudah mencoba berbicara.

Kita melihat seseorang pergi, lalu menuduhnya tidak sabar. Kita tidak tahu berapa tahun ia sebenarnya bertahan.

Kita melihat seseorang tetap bertahan, lalu berkata, “Kok mau sih ada di posisi itu?”

Lho, repot juga. Pergi dikomentari. Bertahan dikomentari. Diam dicurigai. Bicara dianggap drama. Terus maunya orang disuruh salto? 

Itulah sebabnya menilai kehidupan orang lain dari luar sangat mudah. Kita tidak ikut menanggung konsekuensinya, tetapi merasa paling tahu keputusan apa yang seharusnya diambil. Padahal sepatu saja ukurannya berbeda-beda. Apalagi ujian hidup.

Media Sosial Membuat Semua Orang Mendadak Menjadi Hakim

Media sosial makin memperparah kebiasaan tersebut. Satu potongan video viral, ribuan orang langsung mempunyai kesimpulan.

Tidak tahu kejadian sebelum video direkam. Tidak tahu apa yang terjadi sesudahnya. Tidak mengenal orang-orang di dalamnya. Tidak membaca klarifikasi. 

Tetapi kolom komentar sudah seperti ruang sidang. Ada jaksa. Ada hakim. Ada saksi ahli dadakan. Tinggal palu sidangnya saja yang belum tersedia di marketplace

Inilah penyakit zaman digital, yaitu informasi bergerak sangat cepat, tetapi kebijaksanaan sering berjalan tertatih-tatih di belakangnya. Orang berlomba menjadi yang pertama berkomentar, bukan menjadi yang paling benar memahami persoalan. Padahal semakin sedikit informasi yang kita miliki, seharusnya semakin hati-hati kesimpulan yang kita buat.

Allah SWT mengingatkan, “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.” (QS Al-Hujurat: 12)

Ayat ini sangat relevan dengan kehidupan digital hari ini. Sebab prasangka sekarang tidak lagi berhenti di kepala. Ia diketik, diunggah, dibagikan, lalu dibaca ribuan manusia.

Tidak Semua yang Kita Ketahui Harus Dikomentari

Makin bertambah usia, aku semakin menyukai satu kemewahan yang tidak bisa dibeli dengan uang, yaitu kemampuan untuk tidak ikut campur pada semua hal.

Tidak semua peristiwa membutuhkan pendapat kita. Tidak semua unggahan membutuhkan komentar kita. Tidak semua masalah orang harus kita analisis. Kadang cukup membaca, kemudian berkata dalam hati, “Oh, begitu, kasihan juga ya”

Setelah itu tutup layar dan lanjutkan hidup. Sederhana, tetapi ternyata sulit. Sebab ego manusia mempunyai keinginan untuk merasa tahu alias KEPO.

Kita ingin pendapat kita didengar, penilaian kita dianggap penting, bahkan terkadang ingin terlihat lebih bermoral daripada orang yang sedang kita komentari. Padahal Rasulullah Saw. bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Diam dalam konteks seperti ini bukan tanda tidak mempunyai pendirian. Justru terkadang diam adalah bukti bahwa seseorang mengetahui batas pengetahuannya. Ia sadar, “Aku tidak mengetahui seluruh persoalannya, jadi aku tidak berhak membuat kesimpulan terlalu jauh.”

Sebab kita mengetahui perbuatannya, tetapi tidak mengetahui seluruh dirinya.
Bahkan nasihat pun membutuhkan ilmu, tabayun, dan adab.

Allah SWT berfirman,
“Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti.” (QS Al-Hujurat: 6)

Artinya, Islam tidak mendidik kita menjadi manusia yang mudah menelan informasi lalu segera bereaksi. Islam mengajarkan tabayun. Periksa. Pahami. Pastikan. Baru bersikap. Bukan lihat judul, emosi, komentar, lalu share

Jangan menjadi hakim atas cerita yang bukunya saja tidak pernah kita baca secara utuh. Terlebih hidup manusia bukan novel yang bisa kita tamatkan dalam semalam.

Jadi Sobat Nabila, sibuklah memperbaiki diri. Ada alasan lain mengapa aku semakin malas menghakimi kehidupan orang lain. Karena mengurus diri sendiri ternyata sudah cukup melelahkan. 

Masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Masih banyak ilmu yang belum dipahami. Masih banyak dosa yang membutuhkan ampunan. Masih banyak amal yang entah diterima atau tidak. Kalau daftar pekerjaan rumah diri sendiri sepanjang itu, rasanya agak lucu kalau masih mempunyai banyak waktu untuk menjadi auditor kehidupan orang lain.

Imam Hasan Al-Bashri pernah mengingatkan bahwa seorang mukmin sibuk melakukan introspeksi terhadap dirinya dan memang seharusnya demikian.

Makin seseorang mengenali kekurangannya sendiri, biasanya semakin sedikit energinya untuk merendahkan orang lain. Bukan berarti berhenti peduli terhadap kemungkaran atau ketidakadilan.

Kritik tetap diperlukan. Nasihat tetap diperlukan. Amar makruf nahi mungkar tetap menjadi bagian dari kehidupan seorang Muslim. Tetapi semuanya dilakukan berdasarkan ilmu dan fakta, bukan prasangka dan tujuannya pun untuk memperbaiki, bukan mempermalukan serta dengan kesadaran bahwa kita sendiri bukan manusia tanpa dosa. []


Oleh Nabila Zidane
(Jurnalis)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar