Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Di Surga, Berdampingan dengan Nabi Muhammad Saw.


Topswara.com -- Mau berdampingan dengan Nabi Muhammad Saw di surga? Cintai anak yatim. Kita santuni anak-anak yang orang tuanya, ayah atau ibunya atau bahkan keduanya sudah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, Allah SWT. Insyaallah kita akan berdampingan dengan Rasulullah Saw di surga.

Simak hadis berikut ini: dari Sahl bin Sa’ad ra dia berkata: Rasulullah Saw bersabda,

« أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَا » وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئاً

“Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya.” (HR. Al-Bukhari).

Rasulullah Saw mengisyaratkan ‘jari telunjuk dan jari tengah agak merenggangkan keduanya’ ini artinya orang yang menanggung anak yatim itu berdekatan dengan Rasulullah Saw nanti di surga. Betapa mulianya orang yang menyayangi anak yatim.

Yang dimaksud dengan ‘menyantuni anak yatim adalah mengurusi dan memperhatikan keperluan hidupnya, seperti nafkah (makan dan minum), pakaian,mengasuh dan mendidiknya dengan pendidikan Islam yang benar. (Lihat Syarah Shahih Muslim).

Dalam menyantuni anak yatim itu bisa kita angkat sebagai anak asuh di rumah kita, atau di rumah keluarganya atau anak yatim yang ada di panti-panti asuhan anak yatim atau di lembaga-lembaga kesejahteraan sosial (LKSA) lainnya.

Menyayangi anak yatim dapat menumbuhkan rasa empati dan kasih sayang dalam diri seseorang. Rasulullah SAW bersabda:

أَتَى النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – رَجُلٌ يَشْكُو قَسْوَةَ قَلْبِهِ، قَالَ: ” أَتُحِبُّ أَنْ يَلِينَ قَلْبُكَ وَتُدْرَكَ حَاجَتُكَ؟ ارْحَمِ الْيَتِيمَ، وَامْسَحْ رَأْسَهُ، وَأَطْعِمْهُ مِنْ طَعَامِكَ، يَلِنْ قَلْبُكَ وَتُدْرِكْ حَاجَتَكَ 

“Pernah ada seorang laki-laki sowan kepada Rasulullah dan mengeluhkan kekerasan hatinya, lalu beliau berpesan, ‘Apakah kamu ingin hatimu lembut dan hajatmu terkabul? Sayangilah anak yatim, usaplah kepalanya, berilah ia makan dari makananmu, maka hatimu akan lembut dan hajatmu akan terkabul.’” (HR At-Thabarani). MasyaAllah, itulah keutamaan menyayangi anak yatim.

Momentum bulan Muharam ini yang merupakan bulan yang mulia, yuk kita menyantuni anak yatim. Datanglah ke Panti-panti anak yatim atau anak yatim di keluarga kita. Usaplah kepala mereka, berilah makanan atau paket sembako atau 'amplop' sebagai 'bisyarah di bulan mulia ini.

Betapa Islam sangat atensi terhadap anak yatim, sehingga orang yang menghardik dan berbuat kasar terhadap anak yatim termasuk orang yang mendustakan agama, sebagaimana firman Allah SWT:

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ (1) فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ (2) وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ (3)

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (Q.S. Al-Maun : 1-3).

Infaq kepada anak yatim juga langsung diperintah Allah swt sebagaimana dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 215,

يَسْـَٔلُوْنَكَ مَاذَا يُنْفِقُوْنَۗ قُلْ مَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْاَقْرَبِيْنَ وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَابْنِ السَّبِيْلِۗ وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْم

"Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah, “Harta apa saja yang kamu infakkan, hendaknya diperuntukkan bagi kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan (dan membutuhkan pertolongan).” Kebaikan apa saja yang kamu kerjakan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya."(QS Al-Baqarah : 215).

Menyantuni anak yatim juga disebutkan dalam surat An-Nisa 36 :

۞ وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ ۝٣٦

"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnusabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri". (QS.An-Nisa 36).

Ada yang sangat diperlukan oleh anak-anak Yatim dan juga anak keluarga kurang mampu yang diasuh di panti-panti adalah biaya pendidikan lanjutan. Pada umumnya panti hanya mampu membiayai hidup dan pendidikan sampai tingkat pendidikan SLTA.

Sehingga kalau sudah tamat tak bisa melanjutkan ke jenjang Perguruan Tinggi. Disinilah para dermawan untuk dapat memberikan bea siswa kepada anak yatim alumni panti sampai jenjang Perguruan Tinggi.

Dan insya Allah bea siswa tersebut akan menjadi amal jariyah sekaligus akan mendapat royaltinya. Ini dalilnya :

اِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتٰى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوْا وَاٰثَارَهُمْۗ وَكُلَّ شَيْءٍ اَحْصَيْنٰهُ فِيْٓ اِمَامٍ مُّبِيْنٍ

"Sesungguhnya Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati dan Kami (pulalah) yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan). Segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata (Lauh Mahfuz)." (QS.Yasin 12 ).

Surat Yasin ayat 12 diatas menjelaskan tentang "royalti amal" berupa pahala yang akan terus mengalir kepada para perintis kebaikan. Sebaliknya, aliran dosa akan terus dilimpahkan kepada perintis sebuah keburukan.

Dalam ayat 12 Surat Yasin terdapat kalimat وَاٰثَارَهُمْ yang dimaknai oleh para ulama sebagai suatu peninggalan yang kemudian diikuti atau diteruskan oleh followers maupun generasi berikutnya, terlepas sesuatu itu dinilai baik ataupun buruk.

Terkait amal jariyah atau royalti juga dusebutkan dalam hadis: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثَةٍ : إِلا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: (1) sedekah jariyah, (2) ilmu yang diambil manfaatnya, (3) anak shalih yang selalu mendoakan orang tuanya.” (HR. Muslim, no. 1631)

Insya Allah jika anak yang diberikan bea siswa berhasil sampai sarjana dan bisa bekerja adalah satu prestasi dunia akhirat.

Selama anak yang mendapat beasiswa beramal shalih selama itu pulalah kita yang memberikan biaya pendidikan akan mendapat royaltinya walau kita sudah wafat. Masya Allah.

Dan semoga kita yang mengurusi, mencintai dan membiayai anak yatim akan menjadi penghuni surga dan berdampingan dengan Rasulullah SAW. Aamiin.


Oleh: Abdul Mukti 
Pemerhati Kehidupan Beragama 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar