Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Jangan Cuma Hijrah Outfit, Hijrahlah Cara Berpikir


Topswara.com -- Di era media sosial hari ini, hijrah sering kali mengalami penyempitan makna. Ia lebih mudah dikenali dari perubahan yang tampak oleh mata, seperti gamis yang makin panjang, khimar yang makin lebar atau feed Instagram yang makin bernuansa islami.

Semua itu baik. Bahkan menutup aurat sesuai syariat adalah bentuk ketaatan kepada Allah yang wajib dihargai dan dijaga. Namun pertanyaan mendasar yang perlu diajukan adalah apakah hijrah kita berhenti di depan cermin?

Jangan sampai pakaian telah berubah, tetapi cara memandang kehidupan masih sama. Jangan sampai lemari sudah penuh dengan busana syar’i, tetapi pikiran masih dipenuhi standar kehidupan yang lahir dari ideologi selain Islam. Sebab hakikat hijrah bukan hanya perpindahan bentuk luar, melainkan perpindahan cara berpikir. 

Hijrah yang sejati adalah ketika akidah Islam menjadi landasan dalam melihat seluruh persoalan kehidupan. Hari ini banyak orang bangga karena berhasil mengganti gaya berpakaian. 

Namun ketika berbicara tentang ekonomi, politik, pendidikan, keluarga, hukum, hingga aturan masyarakat, ukurannya masih menggunakan standar manfaat, kebebasan manusia, dan suara mayoritas.

Di sinilah letak persoalannya.
Bagaimana mungkin seorang muslim berkata bahwa Allah adalah Rabb yang menciptakan manusia, tetapi aturan Allah hanya dianggap cukup mengatur shalat, puasa, zakat, dan urusan pribadi?

Bukankah Allah yang menciptakan manusia lebih mengetahui apa yang terbaik bagi kehidupan manusia?

Islam bukan sekadar agama spiritual yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya. Islam datang sebagai manhaj kehidupan yang memberikan panduan dalam seluruh aspek kehidupan.

Karena itu, hijrah pemikiran menuntut seseorang untuk berani mengoreksi paradigma yang selama ini tertanam sejak kecil.

Dahulu kita diajarkan bahwa sukses adalah memiliki rumah mewah, kendaraan mahal, jabatan tinggi, popularitas, dan pujian manusia. Maka manusia berlomba mengejar dunia tanpa mengenal batas.

Waktu habis untuk membangun citra. Media sosial menjadi panggung mencari pengakuan. Jumlah pengikut menjadi ukuran keberhasilan. Like dan komentar menjadi penentu rasa bahagia.

Ketika angka meningkat, hati berbunga-bunga. Ketika angka menurun, semangat ikut meredup. Padahal kemuliaan seorang hamba di sisi Allah tidak diukur oleh jumlah pengikut, kekayaan, ataupun popularitasnya. Allah menilai manusia berdasarkan ketakwaannya.

Inilah revolusi terbesar dalam hijrah, yaitu perubahan orientasi hidup. Dari, “Apa yang membuat manusia senang kepadaku?”
Menjadi, “Apa yang membuat Allah ridha kepadaku?”

Dari, “Bagaimana aku mendapatkan dunia sebanyak mungkin?” Menjadi, “Bagaimana dunia yang Allah amanahkan ini menjadi jalan menuju akhirat?”

Namun perubahan cara berpikir tidak akan lahir hanya dengan mengganti penampilan. Ia membutuhkan ilmu, proses panjang, dan keberanian untuk menguji kembali seluruh pemikiran yang selama ini dianggap benar.

Jangan sampai hijrah hanya sebatas mengganti casing, sementara sistem operasi di dalamnya masih rusak.

Seseorang bisa memakai pakaian yang sangat islami, tetapi masih meyakini bahwa manusia memiliki kebebasan mutlak untuk menentukan halal dan haram sesuai keinginannya.

Seseorang bisa mengenakan peci atau gamis dan kerudung besar, tetapi masih mengukur keberhasilan hidup dengan materi, gengsi, dan pandangan manusia. Seseorang bisa rajin menghadiri kajian, tetapi masih memilih ajaran agama sesuai kenyamanan pribadi.

Yang ringan diambil. Yang sesuai keinginan dipraktikkan. Yang dianggap berat ditinggalkan.

Padahal Islam bukanlah menu prasmanan, tempat manusia bebas memilih bagian yang disukai dan meninggalkan bagian lainnya. Islam adalah wahyu dari Allah yang wajib diterima secara menyeluruh.

Maka hijrah pemikiran berarti menerima bahwa Allah memiliki hak mutlak untuk menentukan aturan kehidupan manusia. Manusia bukan pencipta hukum bagi dirinya sendiri, melainkan hamba yang terikat dengan syariat Rabbnya.

Dalam konteks inilah sebagian pemikir Islam seperti Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani mengajak umat untuk kembali memahami Islam sebagai sebuah sistem kehidupan yang menyeluruh (kaffah), bukan hanya terbatas pada aspek ritual, tetapi sebagai pedoman dalam seluruh aspek kehidupan.

Tentu pemahaman seperti ini tidak dapat lahir dari semangat semata. Ia membutuhkan proses menuntut ilmu, membaca, berdiskusi, dan memperdalam pemahaman terhadap ajaran Islam. Karena musuh terbesar dalam hijrah bukanlah pakaian lama yang tergantung di lemari. Musuh terbesar adalah pola pikir lama yang masih bersemayam di dalam kepala.

Kita mungkin sudah meninggalkan pakaian yang dahulu tidak sesuai syariat. Tetapi apakah kita juga telah meninggalkan cara berpikir yang menjadikan materi sebagai tujuan utama?

Apakah kita telah meninggalkan kebiasaan menilai segala sesuatu hanya berdasarkan keuntungan dunia? Apakah kita sudah menjadikan wahyu sebagai standar dalam menentukan benar dan salah?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang harus terus kita ajukan selama perjalanan hijrah. Karena hijrah bukan proyek satu hari.
Bukan proyek mengganti lemari. Bukan proyek memperindah foto profil. Bukan proyek agar manusia berkata, “Masya Allah, sekarang dia sudah berubah.”

Hijrah adalah proyek seumur hidup untuk menjadi hamba Allah yang semakin tunduk, semakin berilmu, semakin ikhlas, dan semakin dekat dengan Rabbnya.

Maka jika hari ini kita telah memperbaiki pakaian karena Allah, alhamdulillah. Itu adalah langkah awal yang mulia. Tetapi jangan berhenti di depan cermin. Lanjutkan perjalanan menuju hati yang lebih bersih, akhlak yang lebih mulia, dan pemikiran yang semakin tunduk kepada petunjuk Allah.

Sebab kain dapat menutupi tubuh dalam beberapa menit. Namun membangun cara berpikir yang berlandaskan ilmu membutuhkan perjuangan sepanjang hayat. 

Maka jangan hanya hijrah outfit. Hijrahlah cara berpikir. Karena ketika pakaian, hati, akhlak, dan cara pandang hidup sama-sama tunduk kepada Allah, di sanalah hijrah menemukan makna yang sesungguhnya. []


Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar