Topswara.com -- Dunia pendidikan kita kembali berduka akibat coretan hitam dari institusi yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi moral anak-anak kita. Kasus tragis yang menimpa tiga santri di Lombok Tengah baru-baru ini bukan sekadar alarm biasa, melainkan sirene darurat yang memekakkan telinga.
Berawal dari perundungan yang luput dari pengawasan, seorang santri senior tega membakar tiga adik kelasnya di dalam kamar asrama. Akibat insiden keji ini, satu korban meninggal dunia dan korban lainnya harus berjuang mencari keadilan karena pihak pondok pesantren terkesan lepas tangan.
Tragedi memilukan ini adalah tanda dari kerusakan sistemis yang mendalam. Akar masalah dari brutalnya karakter generasi hari ini bermuara pada gaya hidup sekuler yang memisahkan nilai agama dari kehidupan sehari-hari.
Ketika batasan dosa dan pahala disingkirkan, anak muda tumbuh tanpa rem emosional sehingga menjelma menjadi pribadi yang kejam, suka menindas, dan sadis.
Sekularisme telah meracuni cara berpikir generasi hingga mereka kehilangan empati dan menganggap penderitaan orang lain sebagai bahan candaan atau ajang unjuk kekuasaan.
Kondisi ini diperparah oleh sistem pendidikan saat ini yang salah arah karena terlalu berorientasi pada materi dan nilai akademik di atas kertas. Sistem ini gagal membentuk karakter anak didik yang memiliki keseimbangan pola pikir cerdas dan perilaku mulia.
Akibatnya, lingkungan sekolah atau asrama beralih fungsi menjadi lahan subur bagi senioritas negatif yang melanggengkan kekerasan atas nama tradisi. Ditambah lagi dengan hilangnya fungsi kontrol sosial dari lingkungan sekitar asrama yang cenderung permisif dan abai sebelum jatuh korban jiwa.
Di sisi lain, potret buram ini merefleksikan kegagalan pemerintah dalam melindungi generasi muda. Lonjakan kasus bullying dari tahun ke tahun membuktikan bahwa penanganan selama ini hanya bersifat formalitas dan reaktif setelah kasusnya viral, alih-alih memberantas akar masalah sejak awal.
Terlebih lagi, aturan hukum saat ini mandul. Sanksi bagi pelaku sangat tidak tegas dan kerap memaklumi tindakan kriminal dengan dalih di bawah umur, sehingga lingkaran setan kekerasan terus berulang dengan kekejaman yang kian parah.
Untuk memutus rantai kekerasan ini, dibutuhkan perombakan total melalui penerapan aturan Islam secara menyeluruh.
Langkah pertama dimulai dengan mengokohkan keimanan generasi muda sebagai benteng internal agar mereka sadar bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.
Fondasi ini harus didukung kurikulum pendidikan berbasis akidah Islam yang fokus mencetak generasi berakhlak mulia, sehingga senioritas negatif terkikis menjadi senioritas positif yang saling membimbing.
Selanjutnya, negara harus hadir memberikan pengawasan ketat ke setiap lembaga pendidikan untuk menutup celah kekerasan. Terakhir, keamanan generasi harus dipagari oleh penegakan hukum Islam yang tegas tanpa pandang bulu. Dalam Islam, setiap Muslim yang sudah baligh wajib menanggung sanksi penuh atas kriminalitasnya tanpa ada perlindungan semu dengan dalih usia.
Tragedi di Lombok Tengah harus menjadi momentum perubahan untuk menyelamatkan masa depan generasi. Sudah saatnya kita keluar dari sistem sekuler yang gagal dan kembali pada aturan Islam yang agung secara menyeluruh.
Mari bergerak bersama mewujudkan peradaban yang membawa rahmat bagi semesta alam, sebelum api kelalaian kembali menelan korban tak berdosa berikutnya.[]
Oleh: Eka Hartati
(Praktisi Pendidikan)

0 Komentar