Topswara.com -- Ketika nilai rupiah melemah, harga barang impor bisa menjadi lebih mahal berkali-kali lipat. Bersamaan dengan itu biaya produksi juga ikut meningkat sementara penghasilan masyarakat rata-rata tidak berubah atau tidak mengalami peningkatan. Lama-lama akan terasa daya beli masyarakat makin menurun. 

Melemahnya rupiah terkait erat dengan kondisi ekonomi global, kondisi politik dan ekonomi suatu negara, kebijakan suku bunga. Penting untuk memahami penyebab melemahnya rupiah agar kita tidak hanya melihat gejala, namun melihat akar permasalahan sehingga bisa tuntas dalam menetapkan solusi.

Perekonomian Indonesia tidak pernah berdiri sendiri, ia selalu menjadi bagian dari sistem ekonomi kapitalisme global yang kompleks. Sehingga dinamika ekonomi dunia hingga kebijakan bank-bank sentral negara besar bisa memberikan pengaruh dan tekanan terhadap mata uang negara berkembang seperti Indonesia.

Presiden RI Prabowo Subianto menanggapi santai kekhawatiran sejumlah pihak terkait kondisi ekonomi nasional dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat. “Rakyat di desa enggak pakai dollar kok,” ujar Prabowo dikutip dari tayangan YouTube Setpres, Sabtu (Kompas.Com Mei 2026). 

Pada kenyataannya di beberapa daerah seperti di Pati, ribuan nelayan menggelar aksi demo di depan kantor Bupati Pati pagi ini. Mereka protes terkait dengan kenaikan harga BBM solar nonsubsidi bagi nelayan yang naik 4 kali lipat (Detik Jateng Mei 2026).

Hal serupa juga dirasakan langsung oleh Samiatun 74 tahun pengrajin tempe asal dusun Kopen desa Genteng Kulon Banyuwangi bersama suaminya, Romlan 80 tahun sejak tahun 1962 berada di titik nadir (Radar Banyuwangi.id Juni 2026).

Melihat fakta yang terjadi, dapat disimpulkan ada tiga faktor utama yang mempengaruhi lemahnya rupiah :
1. Faktor Eksternal (Global)
Kekuatan Dolar AS (Safe Haven): Kondisi geopolitik dunia yang tidak menentu (seperti konflik di Timur Tengah) membuat investor global mencari aset yang aman (safe haven).

Suku Bunga AS Tetap Tinggi: Bank sentral AS (The Fed) mempertahankan suku bunga tinggi, sehingga pemilik modal memilih menarik uang mereka dari negara berkembang (capital outflow) dan memindahkannya ke Amerika Serikat untuk mendapatkan imbal hasil yang lebih pasti dan besar.

2. Faktor Domestik (Fiskal & Perdagangan)
Ketimpangan Ekspor dan Impor 

Pertumbuhan nilai ekspor Indonesia melambat jauh (hanya tumbuh sekitar 0,34% di Q1), sementara pertumbuhan impor melonjak tajam hingga 10,05%. Ketika Rupiah melemah, biaya impor menjadi jauh lebih mahal.

Lonjakan Belanja Pemerintah Pusat: Belanja negara di APBN Q1 meningkat pesat hingga 31,4% (mencapai Rp815 triliun), dengan Rp610 triliun di antaranya dihabiskan oleh pemerintah pusat untuk berbagai pengadaan. Hal ini memicu defisit anggaran sekitar Rp240 triliun.
Beban Subsidi Energi. 

Untuk menjaga daya beli masyarakat agar tidak terjadi inflasi, pemerintah mendongkrak anggaran subsidi energi lebih dari 266% (mencapai Rp118 triliun). Kombinasi tingginya belanja dan subsidi ini memperberat tekanan terhadap kestabilan mata uang.

3. Faktor Kepercayaan (Market Trust) Sentimen Negatif Pasar

Investor dan pelaku pasar saat ini jauh lebih pintar dan memiliki banyak alat analisis. Mereka tidak mudah teperdaya oleh glorifikasi angka pertumbuhan ekonomi semata. Ketika disiplin fiskal dan arah kebijakan dinilai kurang jelas, kepercayaan pasar akan menurun, memicu penarikan modal yang lebih masif.

Dari paparan diatas, kita bisa menyimpulkan bahwa sitem ekonomi kapitalis yang hari ini diterapkan akan terus menjebak kita dalam lingkaran “setan”berulang. Seperti labirin, susah menemukan jalan keluarnya malah justru tersesat tidak bisa keluar. Padahal ada sebuah sistem yang bisa mengatasi itu dengan sempurna, yaitu sistem ekonomi Islam. 

Ada beberapa hal yang bisa dilakukannnya yaitu, kembali ke mata uang berbasis emas dan perak. Mata uang emas dan perak nilai intrinsik stabil dan menghilangkan faktor spekulasi valas dan mengurangi ketergantungan pada dolar.

Menghapus sistem ribawi. Larangan riba menghentikan praktek pembebanan bunga atas hutang negara maupun swasta.

Pembiayaan dilakukan melalui akad syirkah dan mudharabah yang berbasis bagi hasil dan resiko bersama. 

Negara mengelola sumber daya alam seperti migas tambang air dan hutan sebagai milik umum hasilnya dialokasikan untuk kebutuhan rakyat. Islam mengatur kepemilikan harta. 

Baik individu, umum, negara diatur sedemikian rupa sehingga tidak ada kepemilikan umum dan negara jatuh kepada kepemilikan individu sehingga kekayaan tidak hanya beredar pada orang kaya saja.

Dengan menerapkan sistem ini nilai tukar menjadi stabil karena tidak bergantung pada spekulasi mata uang asing implasi terkendali karena suplai uang terkait langsung dengan nilai emas dan perak .

Allahu a'lam bishawab.


Oleh: Mashitoh 
Aktivis Muslimah 
Baca Juga