Topswara.com -- Apa yang terjadi dengan generasi penerus bangsa saat ini?
Kasus yang tak kunjung teratasi. Ya, HIV/AIDS didominasi usia muda (usia produktif) sehingga mengancam bonus demografi di Indonesia.
Dinas Kesehatan Karawang menyebutkan tingginya kasus HIV (Human Immunodeficiency Virus) diakibatkan maraknya hubungan seksual sesama jenis. Terkhusus pada kelompok penyuka sesama lelaki (gay).
Selama beberapa tahun terakhir kasus HIV di Karawang cukup tinggi. Yayuk Sri Rahayu selaku Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Karawang menyebutkan kelompok yang mendominasi infeksi HIV yakni rentang usia 25 hingga 49 tahun, disusul yang kedua pada rentang usia 20 hingga 24 tahun. Dilansir dari Antaranews. (kamis, 11/06/2026).
Kaum Homoseksual saat ini semakin berani memamerkan penyimpangannya di depan publik. Bahkan dengan bangga mereka mengaku positif HIV dan mengonsumsi ATR.
Akar masalah HIV adalah tata pergaulan yang bebas dalam sistem sekuler kapitalisme. Tetapi upaya pemerintah justru lebih banyak pada aspek deteksi, penanganan, pengobatan, sehingga akar masalahnya tidak diselesaikan.
Jika dilihat, keberadaan media yang bebas dan sistem sanksi yang tidak menjerakan menjadikan kerusakan pergaulan makin luas, karena perilaku seseorang sejatinya berkaitan dengan pemahamannya.
Jika asupan dalam keseharian nya baik, maka perilaku yang keluar akan baik. Namun sebaliknya, jika asupan yang masuk buruk dan seseorang tidak mempunyai filter untuk menyaring informasi yang didapat maka perilaku yang keluar juga akan buruk.
Mirisnya, media hari ini bisa dikatakan semakin rusak. Jika sedari kecil anak disuguhkan internet tanpa pengawasan yang benar maka yang terjadi adalah kerusakan generasi. Seseorang yang tidak kuat dalam akidah akan mudah terbawa arus, dan mencontoh apa yang di indera mulai dari kekerasan, perilaku seks bebas, bahkan penyuka sesama jenis.
Inilah kondisi yang dialami generasi dalam sistem kapitalisme, diusia muda disuguhkan dengan konten yang buruk, pornografi dan pornoaksi dapat di akses dengan mudah.
Tidak dipungkiri, dalam sistem demokrasi kapitalisme media massa dikuasai oleh kaum elit barat, alhasil konten yang masuk ke media sosial masyarakat Indonesia pun bebas memperlihatkan gaya hidup hedon dan pergaulan yang salah arah.
Belum lagi para influencer yang menyimpang, mereka merasa bebas, diberikan panggung, serta perlindungan untuk menunjukkan kerusakan moral nya kepada khalayak ramai.
Jika dibandingkan dengan sistem Islam tentunya sangat jauh berbeda. Sistem Islam melarang pergaulan bebas. Islam memisahkan pergaulan antara laki-laki dan perempuan, kecuali pada hal yang dibolehkan syari'at, seperti muamalah, pengobatan dan kondisi lainnya yang sudah di tentukan syarak.
Sistem Islam juga melarang keras hubungan seksual sesama jenis, sehingga tidak menjadi sarana penularan HIV/AIDS. Larang tersebut didukung dengan sanksi yang menimbulkan efek jera dan rasa takut bagi para pelaku zina dan liwath, sehingga sangat efektif mencegah orang melakukan keharaman tersebut.
Untuk media sendiri, Islam mengatur informasi dan teknologi baik kabel maupun nirkabel. Media massa dalam kendali Islam agar mampu mendukung pembentukan kepribadian Islam. Tidak boleh ada konten yang melanggar syari'at, semua konten berisikan motifasi, pendidikan, dan hal lain yang berguna bagi masa depan peradaban.
Sejarah mencatat kurang lebih 1.300 tahun pernah ada peradaban yang mampu melindungi generasi dari hal yang merusak. Peradaban tersebut adalah negara yang menerapkan Islam secara sempurna.
Dengan penerapan Islam, negara mampu mengarahkan masyarakat agar beriman, bertakwa, dan memiliki rasa takut meskipun dalam kondisi sendirian. Oleh karena itu penerapan Islam secara sempurna melalui negara sangat penting agar terwujud Islam Rahmatan lil 'alaamiin.
Wallahualam.
Oleh: Siti Nurjanah
Aktivis Dakwah

0 Komentar