Topswara.com -- Derita Gaza belum juga menemukan ujungnya. Agresi militer, blokade ketat, hingga kriminalisasi solidaritas kemanusiaan terus berlangsung tanpa jeda. Dunia menyaksikan, namun tak mampu menghentikan.
Lebih tragis, negeri-negeri Muslim yang memiliki kedekatan akidah justru tampak tak berdaya dalam memberikan perlindungan nyata.
Dalam beberapa waktu terakhir, Zionis kembali menuai kecaman internasional setelah menyita kapal bantuan kemanusiaan menuju Gaza di perairan internasional, dekat wilayah Yunani. Sebanyak 211 aktivis ditangkap dan 31 lainnya mengalami luka-luka dalam insiden tersebut (cnnindonesia.com, 01/05/2026).
Zionis berdalih bahwa kapal tersebut terkait dengan Hamas, sebuah justifikasi yang kembali digunakan untuk melegitimasi tindakan represif mereka. Sementara itu, Antara News (rilis 2026) melaporkan bahwa agresi berlanjut di Gaza sebagai bagian dari ekspansi pendudukan (jatim.antaranews.com, 04/05/2026).
Lebih memilukan, laporan dari OHCHR yang dikutip berbagai media menyebutkan hampir 300 jurnalis tewas sejak Oktober 2023. Gaza bahkan disebut sebagai tempat paling mematikan bagi jurnalis. Total korban jiwa telah melampaui 72.000 orang, dengan lebih dari 172.000 luka-luka dan sekitar 90% infrastruktur sipil hancur (bali.antaranews.com, 04/05/2026).
Pencegatan kapal bantuan di laut internasional menunjukkan satu hal: ada kekuatan yang merasa tidak perlu tunduk pada aturan.
Hukum internasional yang selama ini digadang sebagai penjaga keadilan global, tampak tidak berlaku ketika berhadapan dengan kepentingan politik tertentu. Ini bukan sekadar pelanggaran, tapi sinyal bahwa aturan dunia hari ini bisa “dipilih-pilih” sesuai siapa yang diuntungkan.
Di sisi lain, label “teroris” terus dipakai sebagai senjata narasi. Siapa pun yang berusaha membantu Palestina bisa dengan mudah dicurigai, disudutkan, bahkan dikriminalisasi.
Ini bukan hal baru. Istilah tersebut telah lama digunakan untuk membentuk opini publik, seolah-olah semua bentuk perlawanan atau solidaritas adalah ancaman. Padahal, yang terjadi di Gaza adalah krisis kemanusiaan yang nyata.
Yang lebih menyedihkan adalah sikap negeri-negeri Muslim. Tidak ada langkah tegas, apalagi pengawalan militer terhadap kapal bantuan. Ini mengindikasikan bahwa sistem negara-bangsa membuat setiap negara lebih sibuk menjaga kepentingannya sendiri. Ikatan umat menjadi lemah, karena dibatasi oleh garis-garis politik dan kepentingan nasional.
Di sinilah akar masalahnya. Ketika umat tidak memiliki satu kepemimpinan yang kuat dan satu arah, maka respon yang muncul akan selalu terpecah dan lemah. Sistem global yang didominasi kepentingan kapitalisme juga membuat banyak negara tidak benar-benar bebas mengambil keputusan.
Akibatnya, tragedi seperti Gaza terus berulang. Umat hanya bisa bereaksi, belum bertindak ke arah menghentikan. Tanpa perubahan cara pandang dalam melihat kepemimpinan dan persatuan, kondisi ini akan terus terjadi—dan solidaritas hanya berhenti pada simpati, bukan kekuatan nyata.
Gaza bukan sekadar wilayah konflik, tetapi bagian dari tanah kaum Muslimin yang kehormatannya wajib dijaga. Membiarkan blokade dan penindasan terus berlangsung tanpa upaya nyata berarti membiarkan kemungkaran terjadi di depan mata.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman: “Dan mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah…” (QS. An-Nisa: 75).
Ayat ini menegaskan bahwa membela kaum tertindas bukan pilihan, tetapi panggilan iman.
Realitas hari ini menunjukkan bahwa bantuan kemanusiaan saja tidak cukup. Dibutuhkan kekuatan politik yang mampu melindungi umat secara nyata. Dalam Islam, keberadaan kepemimpinan yang menyatukan umat memiliki peran penting sebagai pelindung.
Rasulullah ï·º bersabda: “Imam (pemimpin) adalah perisai (junnah), di mana orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menggambarkan bahwa kepemimpinan bukan hanya simbol, tetapi institusi yang menjaga keamanan dan kehormatan umat.
Karena itu, perjuangan menghadirkan kepemimpinan Islam yang berlandaskan akidah bukan sekadar wacana, melainkan bagian dari tanggung jawab umat.
Bukan hanya untuk Gaza, tetapi untuk memastikan tidak ada lagi kaum Muslimin yang dibiarkan tanpa perlindungan. Persatuan yang dibangun atas dasar iman akan melahirkan kekuatan yang tidak mudah dipecah oleh kepentingan politik sempit.
Kemarahan umat atas tragedi Gaza harus diarahkan menjadi kesadaran yang lebih dalam. Tidak berhenti pada kecaman atau empati sesaat, tetapi bergerak dalam aktivitas dakwah yang terarah.
Mengikuti metode perjuangan Rasulullah ï·º—membangun pemahaman, menyatukan barisan, dan menegakkan kepemimpinan—adalah jalan perubahan yang mendasar.
Allah SWT juga mengingatkan: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).
Ayat ini menjadi dorongan bahwa perubahan tidak datang dari luar, tetapi dari kesadaran dan usaha umat itu sendiri. Dari sinilah perisai umat akan kembali terbangun—bukan hanya sebagai harapan, tetapi sebagai kenyataan.
Wallahu'alam.
Zahida Ar-Rosyida
(Aktivis Muslimah Banua)

0 Komentar