Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Penghalang Menjadi Orang Shalih


Topswara.com -- Siapapun orangnya tentu ingin menjadi orang shalih. Namun,bagi sebagian orang menjadi orang shalih kadang hanya sebatas keinginan,tidak benar-benar diwujudkan. Kadang, keinginan menjadi orang shalih itu malah konktraproduktif dengan praktik-praktik yang dilakukan. Betapa banyak orang yang malah mendatangkan halangan-halangan bagi dirinya untuk menjadi orang yang shalih.

Terkait hal ini, shahabat Ali karromallahu wajhah pernah berkata : 

عَنْ عَلِيّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَوْلَا خَمْسَ خِصَالٍ لَصَارَ النَّاسُ كُلُّهُمْ صَالِحِيْنَ اَوَّلُهَا اَلْقَنَاعَة ُبِالجَهْلِ وَالْحِرْصُ عَلَى الدُّنْيَا وَالشُّحُّ بِالْفَضْلِ وَالرِّياَ فِى الْعَمَلِ وَالْإعْجَابُ بِالرّأيِ 

"Seandainya tidak ada lima perkara, seluruh manusia tentu menjadi orang-orang shalih. Pertama, merasa puas dengan kebodohan. Kedua, terlalu fokus terhadap dunia. Ketiga, bakhil terhadap harta. Keempat, riya' dalam beramal. Dan, kelima, membanggakan diri sendiri". (.M.Nawawi,Nashaihul 'ibad, 32).

Merasa Puas dengan Kebodohan

Sikap ini jelas tercela dalam Islam yang nyata-nyata telah mewajibkan setiap Muslim untuk menuntut ilmu. Rasulullah saw bersabda :
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu fardhu atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224).

Menuntut ilmu merupakan amalan yang sangat mulia dalam Islam. Dengan ilmu, seseorang dapat mengangkat derajat, membedakan antara yang benar dan yang salah, serta menjadikan ibadahnya lebih bernilai di sisi Allah.

Allah Ta’ala berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

(سورة المجادلة: ١١)

“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Orang yang sedang belajar ilmu agama, Allah akan permudah jalan menuju surga, sebagaimana hadis dibawah ini :

مَنْ سَلَكَ طَريقاً يَلتَمِسُ فِيه عِلماً ، سَهَّلَ الله لَهُ بِهِ طَريقاً إلى الجَنَّةِ

“Barangsiapa meniti jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).

Agar kita umat Islam menjadi orang baik, shalih-shalihah dan bertakwa kepada Allah swt, maka mau tak mau harus memahami dinul Islam. Tafaqquh fiddiin. Ini berdasarkan hadis :

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

“Barang siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan membuatnya faham tentang agamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Mu'awiyah bin Abi Sufyan).

Nasihat indah dari Imam Syafii : 
مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ.، ومن أرادهما معاً فعليه بالعلم

"Barang siapa yang menginginkan (kebahagiaan) dunia hendaklah ia mencarinya dengan ilmu. Barang siapa yang menginginkan (kebahagiaan) Akhirat hendaklah ia cari dengan ilmu. Dan barang siapa yang menginginkan (kebahagiaan) dari keduanya hendaklah ia cari dengan ilmu."

Terlalu Fokus terhadap Dunia

Sikap inipun buruk menurut pandangan Islam, sebab Allah swt telah berfirman :

وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ ۝٧٧

"Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS.Al-Qashash : 77).

Banyak ayat Al-Qur'an yang menganjurkan agar kita bersikap zuhud, artinya agar jangan terpaut hatinya dengan cinta dunia berlebihan.

Tetapi sayang kondisi saat ini, orang berlomba-lomba berebut dunia sehingga dampaknya terjadilah kerusakan moral : banyak perkelaian, kekerasan dan pembunuhan, serta banyak terjadi penyelewengan, korupsi, suap-menyuap, dan lainnya.

Allah swt berfirman :

 قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيْلٌۚ وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لِّمَنِ اتَّقٰىۗ وَلَا تُظْلَمُوْنَ فَتِيْلًا ۝٧٧النساء

"Katakanlah, “Kesenangan di dunia ini hanyalah sedikit, sedangkan akhirat itu lebih baik bagi orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dizalimi sedikit pun.” (QS.An-Nisa' 77).

Jika kita berzuhud, insya Allah kita akan mudah termotivasi untuk beramal shalih dan terhindar dari perbuatan maksiat, sehingga kita menjadi orang shalih dan bertakwa kepada Allah SWT.

Bakhil terhadap Harta

Sebagai seorang hamba, kita seharusnyalah menyadari bahwa apa yang ada pada kita adalah titipan dari Allah SWT. Untuk itu, tak selayaknya kita bakhil terhadap harta yang diamanahkan pada kita.

Betapa rugilah kita jika tidak menginfakkan di jalan Allah, baik sedekah maupun amal jariyah. Rasulullah Saw bersabda ;

إِذَا مَاتَ ابنُ آدم انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أو عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

“Apabila seorang manusia meninggal, maka terputuslah amalnya, kecuali tiga, yakni sedekah jariyah, atau ilmu yang diambil manfaatnya, atau anak saleh yang mendoakannya" (HR.Muslim).

Pahala amal jariyah akan terus mengalir, kendati orang yang bersangkutan tidak lagi mengamalkannya karena uzur, sudah lansia atau karena sakit misalnya. Bahkan walau yang bersangkutan sudah wafat masih dapat pahalanya 

Infaq atau sedekah merupakan amalan yang sudah dinampakkan pahalanya oleh Allah saat yang bersedekah sudah di alam barzah. Tak ayal, merekapun ingin dikembalikan lagi hidup didunia walau sebentar untuk sedekah atau menjadi orang shaleh. Hal itu diinformasikan Allah dalam firmanNya :

وَاَنْفِقُوْا مِنْ مَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُوْلَ رَبِّ لَوْلَآ اَخَّرْتَنِيْٓ اِلٰٓى اَجَلٍ قَرِيْبٍۚ فَاَصَّدَّقَ وَاَكُنْ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ ۝١٠


"Infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami anugerahkan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antaramu. Dia lalu berkata (sambil menyesal), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)-ku sedikit waktu lagi, aku akan dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang saleh"(QS.Al-munafiqun : 10).

Riya' dalam Beramal.

Riya adalah pamer yaitu melakukan satu amal ibadah dengan maksud mendapatkan pujian dari manusia. Atau dengan bahasa yang agak kasar riya dapat juga dikatakan dengan mengharapkan nilai dunia dengan pekerjaan akhirat. 

Rasulullah menegaskan bahwa riya termasuk dalam kategori syirik kecil (as-syirikul asyghar) dalam salah satu sabdanya:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ الرِّيَاءُ  

“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil, yaitu riya’.” (HR Ahmad).

Ancaman dosa orang beramal dengan riya, Rasulullah saw menegaskan dalam hadis:

اَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ يُرِى النَّاسَ اَنَّ فِيْهِ خَيْرًا لَا خَيْرَ فِيْهِ 

"Orang yang paling berat siksanya pada hari kiamat (nanti) adalah orang yang memberitahukan kepada orang, bahwa dalam dirinya ada kebaikan, padahal hal tersebut tidak ada (sama sekali" (HR.Ad-Dsilami).

Membanggakan Diri Sendiri

Sifat tercela terakhir yang dapat menghalangi seseorang menjadi shalih adalah bangga akan diri sendiri. Dalam bahasa agama, sifat ini biasa disebut dengan istilah ‘ujub. 

Ujub adalah merasa diri lebih baik dan lebih hebat dibandingkan orang lain. Sifat ini sering kali membawa seseorang pada sifat sombong, sebuah sifat yang tidak boleh ada dalam diri manusia.

Imam al-Thabarani meriwayatkan sebuah hadis dari sahabat Anas bin Malik bahwa Nabi saw bersabda,

  وأَمَّا الْمُهْلِكَاتُ : فَشُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ 

“Perkara yang membinasakan: kikir yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan rasa ujub seseorang akan dirinya sendiri.”

Semoga kita termasuk orang yang istiqamah dalam beramal shalih yang dilandasi dengan iman yang kokoh. Tidak sedikit ayat Al-Quran yang menyatakan bahwa orang yang beriman dan beramal shalih akan masuk surga. Antara lain :

وَبَشِّرِ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ كُلَّمَا رُزِقُوْا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا قَالُوْا هَذَا الَّذِيْ رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَأُتُوْا بِهِ مُتَشَابِهَا وَلَهُمْ فِيْهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَهُمْ فِيْهَا خَالِدُوْنَ

"Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : “Inilah yang pernah diberikan kepada Kami dahulu.” mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya. (QS.Al-Baqarah : 25).

Nashrun Minallah Wa Fathun Qariib.


Oleh: Abdul Mukti 
Pemerhati Kehidupan Beragama 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar