Topswara.com -- Tugas pendidik untuk mencerdaskan anak bangasa, adakalanya hal tersebut tidak sesuai dengan yang terjadi di lapangan. Pendidikan saat ini sangat mengkhawatirkan di tengah berbagai peristiwa yang terjadi di sekolah maupun di kampus.
Berbagai macam tindakan yang sudah tidak sesuai dengan adab bagi seorang yang menuntut ilmu, sering terjadi tindak kekerasan, pelecehan, hingga pada penyalahan narkoba.
Belum selesai persoalan tersebut dalam dunia pendidikaan, sudah ada wacana baru untuk pendidikan di perguruan tinggi yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan industri akan segera ditutup .
Kementrian Pendidikan Tinggi, Sains dan Tekhnologi (Kemdiktisaintek) berencana akan menutup program studi yang sudah tidak relevan untuk masa depan. Hal tersebut juga diungkap sekjen Kemdiktisaintek, Badri Munir Sukoco, dalam simposimnya beliau mengatakan, bahwa tidak lama lagi prodi-prodi yang tidak relevan dengan kebutuhan akan ditutup (kompas.com, 25/04/2025).
Namun hal tersebut tidak serta merta disetujui oleh semua kampus. Rektor UMM dan Unisma menolak penutupan prodi yang tidak sesuai pasar, sebab kampus bukan pabrik untuk bekerja. Suatu kekeliruan jika prodi ditutup karena akan mematikan akar keilmuan (malang.suara.com. 02/05/2026).
Di lain kesempatan, wakil Rektor UMY lebih memilih melakukan penyesuaian kurikulum dibanding menutup prodi. Sementara Rektor UGM mengaku kampusnya rutin mengevaluasi prodi dan terbuka untuk menutup atau membuka bahkan melakukan penggabungan prodi.
Adopsi Liberalisme-Sekuler menyebabkan perguruan tinggi harus menyesuaikan dengan tuntutan dunia industri. Pendidikan diukur hanya untuk mencapai materi dan berorientasi untuk mendapatkan pekerjaan yang layak sesuai dengan keilmuan.
Tanpa disadari bahwa perguruan tinggi hanya mencetak generasi yang hanya mementingkan indeks prestasi di atas kertas, yang pada akhirnya krisis moral merebak di kalangan kampus. Kapitalisme menjadikan materi sebagai standar utama, meraih keuntungan mengikuti keinginan penguasa dan pemilik modal.
Sistem kapitalisme berperan sebagai regulator, bukan sebagai pelindung rakyat.
Negara lepas tangan (kurang bertanggung jawab) terhadap kebutuhan SDM untuk melayani urusan rakyat, kebijakan yang diambil merupakan reaksi dan respons terhadap berbagai macam kepentingan yang saling bersaing.
Sistem saat ini telah gagal menjamin kebutuhan dasar rakyat, pendidikan terabaikan. Anggaran yang tersedia pun tidak cukup untuk kesejahteraan rakyat, karena sibuk untuk berbagai kepentingan penguasa. Sistem kapitalisme menzalimi rakyat yang berdampak pada pendidikan serta ke semua sektor.
Dalam Islam, negaralah yang memiliki kebutuhan untuk mencetak ahli di bidang apa, sesuai kebutuhan SDM dalam melayani urusan rakyat, karena tugas pokok negara dalam Islam adalah melayani rakyat.
Negara adalah raa’in (pengurus rakyat) dan menjamin kesejahteraan dan membuka lapangan pekerjaan. Dunia pendidikan (termasuk Pendidikan Tinggi) adalah tanggung jawab langsung negara, negara yang menentukan mulai dari visi-misi pendidikan, kurikulum dan pembiayaan untuk SDM pendidikan dan sarana prasarananya.
Negara secara mandiri dalam mengelola pendidikan tinggi, tidak tergantung pada tekanan baik dalam negeri maupun luar negeri karena bersandar kepada syariat.
Dengan demikian, pendidikan dalam Islam sudah terbukti mencetak para ilmuan hebat salah satunya adalah bapak kedokteran yaitu Ibnu Sina.
Sudah saatnya kita mengganti pendidikan sekulerisme dengan pendidikan Islam. Peradaban Islam telah mampu melahirkan tokoh-tokoh pejuang Islam bukan hanya dalam agama saja, melainkan di bidang sains, iptek yang dapat menguasai dunia.
Penerapan Islam secara menyeluruh sudah dapat dibuktikan tanpa keraguan bahwa pendidikan sebagai hak publik, Islam adalah solusi yang paling sempurna.
Oleh: Ariyana
Dosen dan Aktivis Muslimah

0 Komentar