Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Ketika Pendidikan Kehilangan Arah dan Islam Menawarkan Jalan Pulang


Topswara.com -- Potret Buram Dunia Pendidikan Hari Ini

Setiap tahun, Hari Pendidikan Nasional diperingati dengan penuh seremoni. Namun realitas di lapangan justru menunjukkan wajah pendidikan yang kian buram dan memprihatinkan. 

Berbagai kasus kekerasan di kalangan pelajar terus terjadi mulai dari pengeroyokan hingga penganiayaan yang berujung kematian. Data juga menunjukkan ratusan kasus kekerasan dalam dunia pendidikan hanya dalam hitungan bulan.

Di sisi lain, praktik kecurangan seperti joki UTBK, plagiarisme, hingga manipulasi akademik semakin marak dan bahkan terorganisir. Ironisnya, pelajar dan mahasiswa yang seharusnya menjadi agen perubahan justru terseret dalam lingkaran narkoba, pergaulan bebas, dan tindakan kriminal.

Hubungan antara murid dan guru pun mengalami degradasi. Wibawa guru kian runtuh, bahkan tak sedikit guru yang harus berhadapan dengan hukum hanya karena mendisiplinkan siswa. 

Akar Krisis Pendidikan Sekuler

Krisis ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi dari kesalahan mendasar dalam membangun sistem pendidikan. Akar utama persoalan terletak pada paradigma sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. 

Akibatnya, pendidikan kehilangan ruh pembentuk kepribadian dan hanya berfokus pada aspek kognitif serta capaian materi.

Selain itu, dominasi kapitalisme dalam sektor pendidikan menjadikan sekolah dan kampus lebih berorientasi pada pasar kerja dibanding pembentukan manusia beradab. Pendidikan diposisikan sebagai investasi ekonomi, bukan sebagai proses pembinaan manusia seutuhnya.

Di sisi lain, negara belum menjalankan peran optimal sebagai penanggung jawab utama pendidikan. Lemahnya penegakan hukum, terutama terhadap pelajar yang melakukan pelanggaran, justru menormalisasi berbagai bentuk kriminalitas dengan dalih “kenakalan remaja”.

Tak kalah penting, lingkungan sosial yang permisif baik dari media, pergaulan, maupun budaya popular turut mempercepat degradasi moral pelajar. 
Fenomena ini sejatinya menjadi alarm keras bagi seluruh elemen bangsa. Peringatan Hardiknas bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum refleksi mendalam atas arah pendidikan yang kian kehilangan tujuan hakikinya.

Sistem pendidikan saat ini terbukti gagal membentuk kepribadian pelajar yang utuh. Output yang dihasilkan cenderung sekuler, liberal, dan pragmatis yang mengukur keberhasilan hanya dari materi dan capaian duniawi, tanpa fondasi moral yang kokoh. Dalam sistem sekuler kapitalistik, pendidikan direduksi menjadi alat produksi tenaga kerja, bukan pembentuk manusia beradab.

Akibatnya, lahirlah generasi yang menghalalkan segala cara demi kesuksesan instan. Kecurangan dianggap biasa, kejahatan dipandang sebagai kenakalan remaja, dan sanksi hukum yang lemah semakin memperparah keadaan. 

Negara pun tampak longgar dalam penindakan, terutama karena banyak pelaku masih berstatus di bawah umur.
Lebih jauh, minimnya pendidikan agama yang benar dalam sistem sekuler membuka ruang kebebasan tanpa batas. Kebebasan ini justru mengikis moral dan kepribadian, sehingga pelajar mudah terseret pada tindak kejahatan dan kemaksiatan.

Membangun Generasi Berkepribadian Islam

Dalam perspektif Islam ideologis, problem ini bukan sekadar krisis moral individu, tetapi kegagalan sistemik akibat diterapkannya sistem pendidikan yang tidak berlandaskan akidah. Islam memandang pendidikan sebagai pilar utama peradaban yang wajib dijamin oleh negara.

Pendidikan dalam Islam tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi membentuk syakhsiyah Islamiah (kepribadian Islam) yang menyatukan pola pikir dan pola sikap berdasarkan akidah dan syariat. Dengan asas akidah, pendidikan Islam akan melahirkan insan kamil: cerdas secara intelektual sekaligus bertakwa. 

Pelajar tidak hanya mengejar nilai, tetapi juga menjunjung tinggi kejujuran, amanah, dan tanggung jawab di hadapan Allah.
Selain itu, Islam menerapkan sistem sanksi yang tegas dan adil bagi setiap pelanggaran, tanpa menjadikan usia sebagai alasan pembenaran kejahatan. 

Sanksi berfungsi sebagai pencegah sekaligus penebus, sehingga mampu menjaga masyarakat dari kerusakan yang lebih luas.

Negara dalam sistem Islam juga akan membangun suasana kehidupan yang kondusif bagi tumbuhnya ketakwaan. Media, pergaulan, kurikulum, hingga kebijakan publik diarahkan untuk mendorong kebaikan dan mencegah kemungkaran. 

Sinergi antara keluarga, masyarakat, dan negara berjalan harmonis dalam satu visi: membentuk generasi beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.

Dengan demikian, solusi atas krisis pendidikan hari ini tidak cukup dengan tambal sulam kebijakan. Diperlukan perubahan mendasar menuju sistem pendidikan Islam kaffah yang berlandaskan akidah dan syariat. 

Hardiknas seharusnya menjadi titik balik bukan sekadar peringatan seremonial, tetapi momentum untuk mengembalikan pendidikan pada tujuan sejatinya: membentuk manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga tunduk dan taat kepada Sang Pencipta.


Oleh: Wulandari, SP., S.Pd. 
Pendidik 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar