Topswara.com -- Saudara muslim dunia jangan lupakan Gaza, Gaza hari ini masih terus terjajah. Zionis terus melancarkan serangan kepada penduduk Gaza yang masih tersisa, bahkan mereka lebih menunjukkan kekejamannya dengan melakukan perluasan pendudukan di jalur Gaza.
Hampir 59 persen wilayah Palestina tengah di persiapkan kemungkinan kembali dimulainya genosida. Sebelum gencatan senjata pada Oktober 2025 Israel sudah menguasai sekitar 53 persen wilayah jalur Gaza. (3/05/2026. antaranews.com).
Laporan kembali mencuat ditengah pelanggaran gencatan senjata yang terus berlangsung oleh Israel di jalur Gaza serta serangan di wilayah Tepi Barat. Gencatan senjata tersebut sebelumnya dimaksudkan untuk mengakhiri serangan Israel selama dua tahun di Gaza yang menewaskan lebih dari 72.000 orang dan melukai 172.000 lainnya.
Kini Zionis kembali menuai sorotan internasional, setelah menyita kapal-kapal pembawa bantuan kemanusiaan menuju Gaza di perairan internasional dekat wilayah Yunani.
Sebanyak 211 aktivis dilaporkan ditangkap oleh militer Zionis, dan 31 aktivis terluka karena serangan yang dilancarkan oleh Zionis. Zionis mencoba menjustifikasi penahanan tersebut dengan tudingan pelayaran kapal tersebut beroperasi di bawah arahan kelompok Hamas. OHCHR telah memverifikasi kematian hampir 300 jurnalis sejak Oktober 2023. Ketika Zionis Israel mulai meluncurkan agresi ke Gaza.
Serangan Zionis Israel laknatullah alaih kepada rakyat sipil Gaza dan juga kapal bantuan kemanusiaan merupakan pelanggaran hukum laut Internasional, adalah bukti nyata bahwa entitas Zionis tidak mengenal batas dalam melanggengkan blokade atas Gaza.
Label teroris yang digunakan untuk melegitimasi agresi mereka adalah, justifikasi palsu yang telah berulang kali digunakan Zionis untuk mengkriminalisasi setiap bentuk solidaritas untuk Palestina.
Lalu kemana umat muslim dunia?
Ada hal yang memilukan atas apa yang terjadi kepada saudara muslim Palestina, yaitu diamnya penguasa muslim dunia. Tidak ada satupun negeri-negeri muslim yang mengirimkan angkatan lautnya untuk melindungi kapal-kapal tersebut, padahal mereka mempunyai kapal dan persenjataan yang memadai, dan mampu untuk menjaga juga melindungi, namun mereka diam tidak peduli.
Ini membuktikan bahwa sistem negara bangsa-bangsa (natios state) yang ada hari ini tidak di rancang untuk melindungi umat Islam. Tetapi menjaga eksistensi Zionis.
Saat ini umat muslim dunia bagaikan anak ayam kehilangan induknya, setelah keruntuhan daulah Islamiyah negeri muslim terpecah-belah, dan kafir penjajah sewenang-wenang terhadap kaum muslim.
Akar masalahnya adalah tidak adanya negara yang berdiri atas landasan akidah Islam, sehingga negeri-negeri muslim termasuk Palestina menjadi sasaran kapitalis barat, juga negara pendukungnya.
Kaum muslimin wajib bersatu, karena Gaza adalah bagian dari tanah yang wajib di lindungi. Namun sejak Deklarasi Balfour pada 1917, Israel mencaplok hampir seluruh wilayah Palestina. Selama lebih dari satu abad, ekspansi ini terus berlanjut lewat pendudukan, pengusiran penduduk Palestina, hingga pembangunan permukiman.
Membiarkan blokade ini berlanjut tanpa tindakan nyata adalah kemunkaran yang wajib diubah dengan kemampuan tertinggi yang dimiliki umat.
Khilafah Islamiah adalah satu-satunya institusi yang secara syar'i memiliki kewenangan dan kewajiban untuk melindungi jiwa-jiwa kaum muslimin yang ditindas oleh kekuatan zalim dengan jihad fii sabilillah.
Perjuangan mewujudkan khilafah adalah perjuangan yang harus di tempuh umat, membangun kepemimpinan politik Islam yang bertumpu pada ideologi yang sahih.
Kemarahan umat atas penyitaan kapal ini harus mengarah bukan hanya pada kecaman dan keprihatinan, melainkan pada kesadaran mendalam pentingnya aktivitas dakwah mengikuti metode perjuangan Rasulullah SAW. Demi terwujudnya daulah khilafah Islam sebagai perisai dunia.
Wallahualam bishawab.
Oleh: Ade Siti Rohmah
Aktivis Muslimah

0 Komentar