Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Gaza Terus Dibombardir, Umat Butuh Perisai


Topswara.com -- Gaza lagi-lagi dibombardir. Bantuan kemanusiaan dipersulit masuk, kapal bantuan bahkan sampai disita Zionis di perairan internasional dekat Yunani.

Aktivis yang ikut dalam misi itu ditangkap, sebagian terluka. Padahal mereka datang tidak membawa senjata, tetapi bantuan untuk warga Gaza yang sudah lama hidup di bawah blokade.

Seperti biasa, Zionis selalu punya alasan. Mereka menuduh kapal itu terkait Hamas. Narasi “teroris” kembali dipakai untuk membungkam solidaritas terhadap Palestina. Label itu terus diulang supaya agresi mereka terlihat seolah masuk akal di mata dunia.

Sementara di Gaza sendiri, situasinya makin parah. Rumah sakit dihancurkan, permukiman rata dengan tanah, jurnalis pun ikut jadi korban. OHCHR mencatat hampir 300 jurnalis tewas sejak agresi besar dimulai pada Oktober 2023. Dunia tahu, tetapi semua seakan hanya jadi angka yang lewat di berita.

Israel juga terus memperluas pendudukannya di Jalur Gaza dan menyiapkan serangan lanjutan. Korban meninggal sudah lebih dari 72 ribu orang, ratusan ribu lainnya terluka, dan hampir seluruh infrastruktur sipil hancur. Gaza seperti dihancurkan perlahan sampai tak lagi punya ruang untuk bertahan hidup. (Antara, 7 Mei 2026)

Yang membuat miris, negeri-negeri Muslim hari ini hanya sebatas mengecam. Tidak ada langkah nyata untuk menghentikan blokade ataupun melindungi bantuan kemanusiaan yang menuju Gaza. 

Umat Islam yang jumlahnya begitu besar justru terlihat tidak punya kekuatan untuk melindungi saudaranya sendiri.

Di titik ini kita mulai sadar, masalah Palestina bukan cuma soal bantuan makanan atau donasi. Ada masalah yang lebih mendasar, umat ini kehilangan pelindungnya.

Sistem negara yang ada hari ini membuat masing-masing negeri sibuk menjaga kepentingannya sendiri. Akibatnya, saat Palestina diserang, yang lain hanya bisa menonton. Padahal Gaza adalah bagian dari kaum Muslimin yang seharusnya dijaga dan dilindungi.

Dalam Islam, pemimpin adalah junnah, perisai bagi umat. Artinya, keberadaan kepemimpinan Islam bukan sekadar simbol, tetapi pelindung nyata bagi darah dan kehormatan kaum Muslimin.

Karena itu, penjajahan di Gaza seharusnya tidak berhenti jadi rasa sedih sesaat. Umat perlu sadar bahwa tanpa kepemimpinan Islam yang benar-benar menjadi perisai bagi umat, penjajahan dan pembantaian seperti ini akan terus berulang.

Maka perjuangan untuk menghadirkan kembali kepemimpinan Islam yang menerapkan syariat secara kaffah bukan sekadar wacana politik, melainkan bagian dari kebutuhan umat hari ini.

Dan Gaza tidak hanya sedang mengajarkan tentang penderitaan. Gaza sedang menunjukkan kepada dunia bahwa umat ini benar-benar kehilangan pelindungnya.

Wallahualam bishawab.


Oleh: Nilam Astriati 
Aktivis Muslimah 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar