Topswara.com -- Aktivis Dakwah Siti Aisyah menegaskan setidaknya ada empat perbuatan seorang ibu yang mungkin terlihat ringan, namun dosanya bisa mengalir panjang jika tidak disadari dan diperbaiki.
Hal tersebut diungkapnya dalam Kajian Muslimah Salihah, Pelajaran Untuk Ibu Dalam Menjaga Generasi, Sabtu (25/04/2026) di Cipayung, Depok.
Adapun perbuatan tersebut yakni: Pertama, lalai menanamkan iman dan akhlak. “Kesibukan rumah sering membuat perhatian tertuju pada kebutuhan dunia anak, sementara iman dan akhlak terabaikan. Jika anak tumbuh tanpa tauhid dan adab, dampaknya bisa berlanjut sepanjang hidupnya,” jelasnya di hadapan sekitar 23 peserta.
Agar para Ibu tidak lalai menanamkan iman dan akhlak, terangnya, bisa melihat teladan Sahabiyah Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha. Ummu Sulaim menanamkan iman sejak dini kepada putranya, Anas bin Malik. Dari didikan seorang ibu beriman, lahirlah Anas bin Malik, sahabat Nabi dan perawi ribuan hadits. Oleh karena itu, menanam iman sejak dini adalah investasi akhirat yang pahalanya terus mengalir.
Kedua, membiarkan kemaksiatan di dalam rumah. “Gawai tanpa batas, tontonan tak terkontrol, dan ucapan yang tidak dijaga sering dianggap biasa, padahal ini membentuk karakter anak. Rasulullah SAW bersabda, dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, ‘Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban’,” ujarnya.
Ketiga, kurang menghormati suami dalam perkara makruf. “Sikap meremehkan suami atau sering mengeluh di depan anak akan ditiru dan merusak keharmonisan rumah,” ucapnya.
Ia pun membacakan hadis yang diriwayatkan Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang istri meninggal dunia dalam keadaan suaminya ridha kepadanya, maka ia masuk surga.”
Lebih lanjut dijelaskan, para Ibu bisa melihat teladan Khadijah radhiyallahu ‘anha. Khadijah adalah istri yang menenangkan Rasulullah SAW, mendukung dakwah beliau sepenuh hati, dan menjadi tempat bernaung saat beliau diuji. Keteladanannya membuat rumah Nabi dipenuhi ketenangan dan keberkahan. Maka, menghormati dan mendukung suami adalah jalan besar menuju ridha Allah.
Keempat, menjadi teladan buruk bagi anak. “Anak meniru lebih cepat daripada mendengar nasihat. Jika ibu mudah marah, menggunjing, atau meremehkan agama, anak akan melakukan hal yang sama. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Muslim, ‘Barang siapa memberi contoh buruk, maka ia menanggung dosanya dan dosa orang yang mengikutinya’,” sebutnya.
Teladan putri Rasulullah SAW, Fatimah az-Zahra radhiyallahu ‘anha jelasnya, dapat menjadi rujukan di mana beliau hidup sederhana, menjaga adab, kesabaran, dan ketakwaan meski menghadapi banyak kesulitan. Dari keteladanan beliau, lahirlah Hasan dan Husain, pemuda penghulu surga.
"Oleh karena itu, kesalehan ibu adalah warisan paling berharga bagi anak. Sekalipun Islam tidak menuntut kesempurnaan, tetapi kesungguhan untuk terus memperbaiki diri akan dinilai Allah sebagai ikhtiar yang insyaAllah akan bernilai pahala," pungkasnya. [] Mega Marlina

0 Komentar