Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Shalat: Komunikasi atau Sekadar Senam Pagi?


Topswara.com -- Mari kita berandai-andai sejenak, terbang menembus dimensi waktu. Bayangkan jika hari ini Allah mengumumkan bahwa setiap raka'at yang kita lakukan tanpa kehadiran hati, tidak dicatat sebagai pahala sehingga tidak bisa kita withdraw di akhirat nanti. Ngeri, bukan? Meskipun selama ini kita sudah menjalankan shalat, berapa rakaat yang tersisa dari umur kita yang bisa kita optimasi?

Jika selama ini Anda berdiri di atas sajadah namun pikiran Anda asyik bertransaksi di pasar, berdebat di media sosial, atau bahkan merancang agenda menaklukkan dunia, maka sebenarnya Anda tidak sedang shalat. Anda hanyalah sesosok tubuh yang sedang melakukan gerakan mekanis tanpa jiwa, yang melakuakan sebuah 'senam religius'.

Mungkin tujuannya baik, menafkahi qharizah tadayyun. Atau mungkin hanya sekedar menggugurkan kewajiban. Lantas, coba tanyakan pada cermin: Anda ini hamba yang sedang menghadap Pencipta Semesta, atau sekadar "robot biologis" yang sedang menjalankan program ritual agar tidak merasa bersalah terhadap fitrah penciptaan nya?"

Kok Bisa Begitu, ya?

Masalah ini muncul karena rusaknya rantai idrak (kesadaran) dalam menjalankan ibadah. Secara logika, sesungguhnya shalat adalah Mi’rajul Mukminin (mikrajnya orang beriman). Sebuah lompatan kesadaran dari alam materi ke alam ruhani.

Namun, ketika sekulerisme mental merasuk kedalam diri, shalat yang kita lakukan terpisah dari kesadaran rasional. Rantai logikanya putus ketika kita memperlakukan shalat sebagai "jeda" dari kehidupan, bukan sebagai "pusat" yang mengendalikan kehidupan. 

Akibatnya, kita hanya membawa raga keatas sajadah, sementara akal dan hati tetap tertinggal di luar, menjadikannya sebuah aktivitas tanpa makna.

Terus, Harus Bagaimana?

Untuk memperbaiki rantai yang rusak tadi, jalan yang harus ditempuh adalah mengembalikan shalat pada fungsi asalnya, yaitu kontrak politik dan ruhani antara hamba dan Sang Pencipta. Kita harus memposisikan shalat bukan sebagai beban waktu, melainkan sebagai sesi "sinkronisasi kesadaran". Gunakan setiap bacaan shalat untuk menghancurkan berhala-berhala dunia di kepala Anda. 

Saat Anda berucap Allahu Akbar, pastikan seluruh masalah Anda, bos Anda, dan ambisi Anda benar-benar menjadi "kecil" di hadapan-Nya. Shalat adalah satu-satunya momen di mana Anda diizinkan untuk 'mengundurkan diri' sejenak dari perbudakan dunia demi menjemput kemerdekaan jiwa.

Fitrah dan Martabat Kemanusiaan

Secara fitrah, manusia membutuhkan sandaran yang absolut dalam mengarungi kehidupan dunia. Menjadikan shalat sebagai rutinitas kosong adalah bentuk penghinaan terhadap martabat akal kita sendiri. Anda diberikan kemampuan untuk fokus, untuk mencintai, dan untuk memahami.

Lantas mengapa kemampuan itu tidak anda gunakan saat menghadap Zat yang Maha Kuasa yang telah memberikan kemampuan tersebut? 

Seorang manusia merdeka akan malu jika ia bisa fokus berjam-jam di depan layar ponsel, namun tidak sanggup fokus lima menit di depan Tuhannya. Karena martabat tertinggi seorang hamba adalah ketika ia merendah dihadapan Tuhannya.

Shalatnya Manusia Merdeka

Agar shalat kita bukan sekadar senam, mari kita lakukan beberapa hal :
1 Pembersihan Mental (Sebelum Shalat):
Jangan langsung takbir. Berdiamlah 1 menit sebelum wudhu, katakan pada diri: 'Dunia berhenti di sini, saya akan menghadap Raja dari segala raja.

2 Filter Makna (Ketika Shalat):
Bacalah setiap doa dengan tempo yang lambat. Jika anda tidak tahu artinya, cari tahu sekarang. Haram hukumnya berbicara kepada Tuhan tanpa tahu apa yang anda ucapkan.

3 Refleksikan (Setelah Shalat):
Setelah salam, jangan langsung lari. Duduklah 2 menit, tanyakan: "Apa satu hal yang akan saya ubah dalam hidup saya setelah pertemuan dengan Allah tadi?'"

Khatimah

Secara fitrah, manusia tidak didesain untuk menjadi penumpang pasif yang hanyut oleh arus zaman, apalagi menjadi budak dari persepsi sesama makhluk yang belum terbukti kebenarannya. Anda diciptakan sebagai khalifah di muka bumi. Sebuah mandat agung yang menuntut akal untuk terus terjaga dan hati yang tetap merdeka. 

Menggunakan akal untuk membedah realitas, menyuarakan kebenaran, dan memimpin perubahan adalah bentuk syukur tertinggi atas martabat kemanusiaan kita. Maka, jangan biarkan api fikrah anda padam oleh kenyamanan palsu atau rasa takut yang fana.

Teruslah berpikir, teruslah bergerak, dan tunaikanlah amanah kepemimpinan ini hingga kaki kita benar-benar menginjak gerbang kehidupan Islam yang gemilang, atau langsung pada peristirahatan terakhir yang abadi. 


Trisyuoni D. 
(Aktivis Dakwah)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar