Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Rupiah Melemah: Bukti Rapuhnya Ekonomi Kapitalisme


Topswara.com -- Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS mencetak rekor paling lemah terbaru. Per Jumat (15/05) kurs dolar menyentuh Rp17.600. Masyarakat makin bersiap mengencangkan ikat pinggang karena sejumlah pakar meneropong harga kebutuhan sehari-hari bakal ikut terdampak. 

Hampir sebagian besar semua barang jadi dari sektor industri ini ada di halaman rumah, di dalam laci lemari, kamar, dapur di rumah kita. Dengan nilai tukar rupiah yang makin melemah, harga-harga bahan baku impor ini terkerek naik karena transaksinya menggunakan dollar AS. 

Di tengah kondisi ini, ada dua kemungkinan yang dilakukan produsen: menaikkan harga barang atau terpaksa memangkas keuntungan meskipun di lapangan yang nampak lebih menaikkan harga atau mengurangi porsi produk. Implikasinya terhadap masyarakat sehari-hari adalah tentu biaya hidup yang akan semakin mahal (bbc.com, 16/5/2026). 

Melemahnya rupiah terhadap nilai tukar dolar AS adalah bentuk konfirmasi bahwa dunia saat ini sedang dalam genggaman imperialisme AS. Meski ada faktor lainnya yang menyebabkan rupiah melemah. Melansir dari BBC Indonesia (21-4-2024), pelemahan rupiah disebabkan sejumlah faktor, di antaranya sebagai berikut.

Pertama, menurut kepala ekonom Bank Permata Josua Pardede, The Fed atau bank sentral AS diperkirakan akan lebih lama mempertahankan suku bunga acuannya di level tinggi untuk meredam laju inflasi AS. 

Selama suku bunga The Fed masih tinggi, investor global akan lebih tertarik menaruh uangnya di pasar AS sehingga memicu arus keluar modal asing dari negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Kedua, konflik Israel-Iran di Timur Tengah yang kian memanas. Iran menggempur Israel dengan lebih dari 300 rudal dan drone pada Sabtu (13-4-2024) sebagai balasan atas serangan Israel ke Konsulat Iran di Damaskus dua minggu sebelumnya. 

Konflik Israel-Iran dikhawatirkan mengganggu rantai pasok minyak global, terutama apabila Iran memutuskan memblokade Selat Hormuz yang kerap disebut sebagai jalur pengiriman minyak terpenting di dunia.

Saat ini, dolar AS mendominasi transaksi global. Kekuatan dolar AS memiliki dampak ekonomi, yakni menjadikan AS mampu memberi sanksi secara ekonomi dan finansial kepada negara yang disasar. 

Mereka juga mampu meminggirkan negara-negara lain dari perdagangan dengan negara yang disasar. Dengan kata lain, eksistensi AS sebagai pengemban ideologi kapitalisme dan dominasi dolarnya sangat memengaruhi kondisi ekonomi global.

Ketidakpekaan pemerintah terhadap realitas kondisi masyarakat, berujung pada kekeliruan penyelesaian masalah ekonomi ini. Masyarakat pada akhirnya menanggung sendiri beban hidup karena ketiadaan peran pemerintah untuk menyelesaikan problem tersebut, justru kebijakan yang dibuat semakin memperburuk keadaan (jumlah utang semakin melambung).

Islam menetapkan sistem mata uang berbasis emas. Sistem ini lebih stabil dan adil sehingga dari aspek ekonomi akan aman dan jauh dari krisis. Emas dan perak sudah lama dipakai sebagai sistem mata uang sejak masa Rasulullah SAW. 

Emas dan perak adalah mata uang paling stabil yang pernah ada. Sejak masa awal Islam hingga hari ini, nilai mata uang Islam dwilogam itu tetap stabil dalam hubungannya dengan barang-barang konsumtif.

Jika emas digunakan sebagai mata uang resmi oleh negara, ketiga syarat tersebut akan terpenuhi dan bukan sekadar menjadi komoditas biasa. Jika khilafah menggunakan mata uang emas, negara ini akan memiliki kekuatan ekonomi. 

Ini karena mata uang emas tidak akan bisa dipermainkan atau terombang-ambing nilai tukarnya oleh mata uang kertas mana pun, sekuat apa pun mata uang kertas tersebut. Sebaliknya, justru seluruh mata uang kertas dunia akan menstandarkan nilai tukarnya pada mata uang emas ini. Semua mata uang kertas dunia akan bertekuk lutut pada mata uang emas ini.

Dengan penggunaan sistem mata uang emas yang diterapkan oleh negara khilafah, ekonomi rakyat akan berjalan stabil. Kehidupan masyarakat juga akan tenang tanpa merasa was-was dengan krisis ekonomi, resesi, atau pelemahan nilai tukar mata uang.

Kondisi melemahnya rupiah akan terus berulang selama negeri ini menerapkan ideologi kapitalisme yang mana sistem ekonominya berbasis ribawi dan fiat money. 

Sedangkan jika menerapkan sistem Islam, kondisi perekonomian akan lebih stabil dan kuat karena ditopang sistem ekonomi Islam berbasis emas dan perak yang memiliki beragam keunggulan, baik dari aspek bahannya, jangka waktu penggunaannya, dan nilainya. []


Oleh: Nita Nur Elipah
(Penulis lepas)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar