Topswara.com -- Penguatan sinergi ulama umara baru-baru ini kembali ditekankan oleh Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, Rabu (15/04/2026) dalam acara Silaturahmi Ulama Umara bersama Pimpinan Organisasi Kemasyarakatan (ormas) Islam se-Kabupaten Wonosobo, di Pendopo Selatan.
Menurut Afif agar capaian pembangunan tidak hanya berorientasi fisik tetapi juga harus memiliki landasan spiritual yang kuat diperlukan penguatan sinergi yang berjalan beriringan antara ulama sebagai pengawal moral dan umara selaku pelaksana kebijakan.
Ia juga menyebut, bersatunya umara dan ulama akan menghadirkan keberkahan dan kemaslahatan bagi pembangunan masyarakat. Lebih dari itu, Afif juga menilai, implementasi sinergi ulama umara dari desa hingga kecamatan diwujudkan dalam dukungan terhadap bimbingan teknis dan pelatihan bagi imam serta khatib muda guna memastikan keberlanjutan dakwah Islam yang moderat (wasathiyah).
Serta program pembinaan umat lainnya seperti pemulasaraan jenazah, khutbah manarul ummah, gerakan K3 masjid yang dinilainya mampu menjadikan masjid sebagai pusat peradaban yang bersih, nyaman dan bermanfaat bagi masyarakat.
Masalah pada umat Islam hari ini sebenarnya muncul dari cara pandang dalam kehidupan. Cara pandang yang diambil tidak dari Islam, melainkan dari paradigma Barat yang lahir dari ideologi kapitalisme, yaitu cara pandang sekularisme. Yaitu memisahkan agama dari kehidupan.
Meskipun mereka beragama Islam namun pemikiran sekularisme ini akan melahirkan perilaku yang tidak sesuai dengan Islam bahkan sering dinormalisasi dengan istilah ini kan kehidupan dunia yang mana boleh dijalankan sesuai dengan kehendak manusia.
Padahal dalam Islam seluruh perbuatan itu terikat dengan hukum Islam sebagaimana kaidah Ushul, Al ashlu fi Al af'al at taqayyud bi hukmi syar'i. Yaitu asal dari perbuatan manusia terikat dengan hukum syara yaitu syariat Islam.
Sehingga individu muslim kenapa harus dituntut bersih, karena kebersihan sebagian daripada iman. Kenapa muslim harus makan yang halal, karena syariat melarang makan makanan yang haram. Kenapa muslim harus saling menjaga keamanan saudaranya karena ada larangan Allah dalam membahayakan diri dan orang lain.
Dan masih banyak lagi syariat yang mengatur perbuatan manusia baik dalam bingkai hubungan dengan Allah, hubungan dengan dirinya sendiri hingga hubungan dengan sesama manusia.
Hal ini kontradiksi dengan realita hari ini yang banyak kita jumpai justru ulama melakukan korupsi, pencabulan di masjid hingga penipuan. Padahal hari ini sudah terjalin sinergi ulama umara dan seringkali diserukan untuk diperkuat lagi dengan berbagai narasi.
Padahal, kerusakan semua lini ini disebabkan oleh cara pandang individu baik dari umat, umara hingga ulama dalam memandang kehidupan, maslahat dan mudharat.
Kehidupan yang harusnya dipandang sebagai mazroatul akhirat dimana setiap individu harus berlomba-lomba dalam kebaikan, bertaawun juga dalam kebaikan dan taqwa bukan dalam hal maksiat.
Karena mereka memandang bahwa kehidupan yang Allah beri kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang mereka kerjakan apakah sudah sesuai dengan tuntunan Allah dan RasulNya atau masih sekehendak hawa nafsu manusia.
Lebih dari itu, adanya ulama yang berkolaborasi dengan umara dibawah sistem yang rusak justru akan menjadikan ulama ini menjadi pembenar atas kerusakan sistem yang ada sehingga mengaburkan umat dari kegelapan sistem rusak yaitu kapitalisme.
Harusnya ulama bisa membawa umat kepada perubahan menuju sistem yang membawa cahaya yaitu Islam.
Sinergitas ulama dan umara dalam mewujudkan pembangunan di bawah sistem kapitalisme berpeluang melahirkan ulama su' yaitu ulama dunia. Hal ini semakin mengacaukan umat Islam itu sendiri disebabkan perpecahan dari dalam.
Umat akan terbelah antara umat Islam yang berpegang teguh dengan Dien Al Islam dengan umat yang terombang ambing oleh kepentingan politik pragmatis.
Apalagi, sudah diperjelas tugas ulama ini nanti mendukung program pemerintah dalam bimtek dan pelatihan bagi imam dan khatib muda guna memastikan keberlanjutan dakwah Islam yang moderat.
Sungguh Allah telah melarang taawun atau tolong menolong pada kemaksiatan.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
ÙˆَتَعَاوَÙ†ُÙˆْا عَÙ„َÙ‰ الْبِرِّ Ùˆَا لتَّÙ‚ْÙˆٰÙ‰ ۖ ÙˆَÙ„َا تَعَاوَÙ†ُÙˆْا عَÙ„َÙ‰ الْاِ Ø«ْÙ…ِ Ùˆَا Ù„ْعُدْÙˆَا Ù†ِ ۖ Ùˆَا تَّÙ‚ُوا اللّٰÙ‡َ ۗ اِÙ†َّ اللّٰÙ‡َ Ø´َدِÙŠْدُ الْعِÙ‚َاب
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya." (QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 2)
Upaya ini tidak lepas dari agenda global yang hendak melemahkan kekuatan Islam sebagai pesaing ideologi existing yaitu kapitalisme yang berpeluang sangat besar untuk hidup kembali, maka di setiap negeri muslim berbagai propaganda baik pemikiran hingga fisik mereka gunakan agar Islam tidak bisa muncul sebagai ideologi petarung bagi ideologi karya manusia yaitu kapitalisme dan sosialisme.
Dalam Islam sinergi ulama dan umaro bukan untuk sekedar mendukung program umaro namun sebagai pengoreksi kebijakan umaro apakah sesuai dengan syariat Islam atau tidak.
Adanya ulama ibarat lentera ditengah kehidupan umat manusia manakala ulama benar benar mengamalkan apa yang ia ketahui terkait dengan perintah dan larangan Allah SWT dan RasulNya.
Ulama yang hanya membenarkan sekaligus menjadi jalan kedzaliman penguasa sungguh ia adalah ulama su' yang benar benar membahayakan umat manusia
"Tidak boleh berbuat mudharat (bahaya/mencelakai diri sendiri) dan tidak boleh berbuat mudharat (bahaya/mencelakai orang lain)."
(HR. Ibnu Majah no. 2340, Ad-Daruquthni 3/77, dan lainnya. Hadits ini shahih menurut Al-Hafizh Abu Thohir).
Selain itu, Rasulullah SAW sudah mengingatkan bahaya ulama su' sebagaimana hadis berikut, Rasulullah saw. bersabda, “Ada selain Dajjal yang aku takutkan melebihi Dajjal.” Lalu beliau ditanya, “Apa itu?” Beliau menjawab, “Para pemimpin yang menyesatkan.” (HR Ahmad).
Jika negeri ini serius ingin mewujudkan kemajuan tak hanya daerah maupun negara, maka satu-satunya solusi harus mengikuti cara nabi yaitu menyerahkan kekuasaan kepada ulama yang hanif bukan ulama su', agar kekuasaan ini dipimpin dan diatur dengan syariat Islam karena hanya Islam yang memiliki aturan paripurna baik aturan ibadah maupun muamalah. Islam bukan sekedar agama namun juga peraturan kehidupan.
Sebaliknya jika kekuasaan diserahkan kepada ulama su' maka kekuasaan ini akan diatur dengan sistem kapitalisme yang dibingkai dengan narasi Islam.
Sehingga seolah-olah Islam namun hakekatnya hanya kapitalisme yang covernya islami sebagaimana yang sudah banyak terjadi di beberapa daerah atau bahkan negeri ini juga pernah dipimpin oleh ulama namun tetap tidak membawa kemajuan, karena masalahnya adalah sistemnya yang masih kapitalisme.
Waallahualam.
Oleh: Heni Trisnawati, S.Si.
Aktivis Muslimah

0 Komentar