Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Pintar Tanpa Iman: Ancaman Nyata Generasi Hari Ini


Topswara.com -- Sadarlah, wahai para pemimpin negeri Ini!Yang dianggap lucu hari ini, bisa jadi kejahatan besok. Apa yang terjadi hari ini bukan sekadar “oknum”. Bukan pula insiden kecil yang bisa disapu dengan klarifikasi atau permintaan maaf. Ini adalah cermin. Cermin buram dari sistem pendidikan yang selama ini dibanggakan, tapi diam-diam kehilangan ruhnya.

Kasus pelecehan yang muncul di lingkungan kampus besar seperti UI dan ITB seharusnya menjadi alarm keras. Bukan hanya untuk kampus itu sendiri, tapi untuk seluruh arah pendidikan negeri ini. Karena jika di tempat yang disebut sebagai “puncak intelektual” saja adab bisa runtuh, maka kita harus jujur bertanya, "Apa yang sebenarnya sedang kita bangun?"

Mereka adalah mahasiswa. Generasi terpilih. Mereka yang lolos seleksi ketat, yang disebut-sebut sebagai harapan masa depan bangsa. Tapi mengapa di antara mereka, pelecehan bisa menjadi candaan? Mengapa lisan begitu ringan merendahkan? Mengapa rasa malu seolah menghilang?

Jawabannya pahit, tetapi nyata. Karena mereka bukan hanya hasil dari pendidikan. Mereka adalah hasil dari sistem. Sistem yang selama ini memisahkan ilmu dari iman. Yang menajamkan akal, tetapi mengeringkan hati. Yang mengajarkan logika, tetapi mengabaikan rasa takut kepada Allah. Akhirnya lahirlah generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara moral.

Mereka tahu mana yang benar. Tetapi tidak merasa terikat untuk melakukannya. Mereka paham aturan. Tetapi tidak merasa diawasi oleh Rabb-nya. Dan ketika standar hidup bukan lagi halal dan haram, tetapi suka dan tidak suka, maka batasan pun perlahan hilang.

Hari ini candaan.
Besok kebiasaan.
Lusa jadi perbuatan.
Dan hari ini, kita mulai melihat itu terjadi.

Pertanyaannya, sampai kapan ini akan dibiarkan?

Jika di level mahasiswa saja sudah seperti ini, bagaimana dengan adik-adiknya di SMA? SMP? SD? Bahkan di usia dini yang seharusnya dijaga kesuciannya? Apa yang akan mereka serap dari lingkungan yang sudah terbiasa menormalisasi pelecehan?

Ini bukan lagi soal satu kampus. Ini soal arah generasi. Jika dibiarkan, maka negeri ini tidak sedang membangun peradaban. Ia sedang mencetak manusia-manusia pintar tanpa iman. Dan itu jauh lebih berbahaya. Karena kecerdasan tanpa nilai hanya akan melahirkan kerusakan yang lebih sistematis.

Orang pintar bisa menciptakan teknologi.
Tetapi tanpa iman, ia juga bisa menciptakan kehancuran. Orang cerdas bisa memimpin. Tetapi tanpa takwa, ia juga bisa menindas. Inilah ancaman sebenarnya. Bukan kebodohan, tetapi kecerdasan yang kehilangan arah.

Islam tidak hanya mengajarkan ilmu. Ia membentuk manusia. Menjaga pandangan sebelum perbuatan. Menjaga lisan sebelum melukai. Menanamkan rasa malu sebagai bagian dari iman. Karena Islam memahami bahwa kehormatan manusia tidak dimulai dari tindakan, tetapi dari cara berpikir.

Maka solusi tidak cukup dengan sanksi. Tidak cukup dengan klarifikasi. Tidak cukup dengan imbauan moral.
Yang dibutuhkan adalah perubahan mendasar.

Mengembalikan pendidikan pada fitrahnya. Bukan sekadar mencetak orang pintar, tetapi membentuk manusia bertakwa. Manusia yang menjaga dirinya, bahkan saat tidak ada yang melihat. 

Manusia yang menghormati perempuan, bukan karena takut sanksi, tetapi karena takut kepada Allah.

Selama akar masalahnya tidak disentuh, selama agama terus dipinggirkan, maka kasus seperti ini akan terus berulang. Tempat boleh berbeda. Pelaku boleh berganti. Tetapi ceritanya akan sama.
Dan saat itu terjadi, yang rusak bukan hanya individu. Tetapi masa depan bangsa. []


Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar