Topswara.com -- Eskalasi konflik di Timur Tengah semakin memanas, setelah perundingan demi perundingan tak juga menemukan hasil. Ternyata tidak mudah bagi Amerika Serikat (AS) dan Israel untuk menaklukan satu negara seperti Iran.
Bahkan pengaruh AS sebagai negara adidaya pun tidak mampu memaksa negara-negara sekutunya untuk ikut serta membantunya melawan Iran.
Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran, secara gamblang menyatakan klaim kemenangan negaranya dalam persaingan geopolitik melawan AS dan Israel.
Kekuatan militer Iran di tengah tekanan internasional telah menjadikan Teheran sebagai sumber inspirasi bagi bangsa-bangsa lain di dunia, (MediaIndonesia.com, 10/04/2026).
Konflik pun meluas, setelah militer Israel mulai menyerang Lebanon secara bertubi-tubi. Israel dengan dukungan penuh dari AS terus menyerang negeri-negeri kaum muslim dengan maksud untuk melakukan penjajahan.
Alih-alih membantu, beberapa penguasa muslim yang notabene merupakan negara tetangga Iran dan Lebanon, mereka malah bersekutu dengan AS. Meskipun demikian, Iran tak gentar sedikit pun. Iran membuktikan konsistensi dan keberaniannya melawan AS.
Dalam upaya untuk menyudahi konflik ini Iran pun mengajukan sepuluh poin sebagai syarat gencatan senjata dengan AS. Perundingan yang digelar pada bulan April 2026, yang dimediasi oleh Pakistan itu berfokus pada tuntutan untuk menghentikan permusuhan secara global, mencabutan sanksi ekonomi terhadap Iran, serta penarikan pasukan militer AS dari kawasan Timur Tengah.
Namun perundingan tersebut mengalami kegagalan, setelah AS menolak syarat yang diajukan Iran.
Setelah berbagai macam cara dilakukan AS untuk menekan Iran, publik mulai menyadari bahwa AS yang saat ini menancapkan hegemoninya, nyatanya tak sekuat yang dibayangkan dunia sebagai negara adikuasa. Kekuasaannya tidak mampu membuat negara-negara sekutunya untuk mendukung setiap kebijakan politiknya.
Ini membuktikan bahwa tidak ada negara yang bersekutu secara permanen, kecuali adanya kepentingan yang melatarbelakangi.
Fenomena pengkhianatan para penguasa muslim karena bersekutu dengan AS justru semakin melemahkan kesatuan umat muslim. Para penjajah Barat sangat menyadari bahwa potensi kesatuan negeri muslim bisa menjadi kekuatan global baru yang akan menghancurkan hegemoni barat.
Sehingga sekat-sekat nasionalisme yang sengaja mereka ciptakan untuk memecah belah persatuan kaum muslim, saat ini akan senantiasa mereka pelihara dengan terus memberi deal-deal politik yang seolah menguntungkan penguasa negeri-negeri muslim.
Oleh karena itu sudah saatnya membangun kesadaran umat akan pentingnya persatuan negeri-negeri muslim. Umat harus paham bahwa sebenarnya negeri-negeri kaum muslim itu memiliki potensi menjadi negara yang bebas dari penjajahan jika saja kaum muslim bersatu. Hanya saja sekat-sekat nasionalisme telah melemahkan potensi itu.
Khilafah adalah sebuah institusi yang mampu menjadi pengikat kaum muslim untuk bersatu melawan hegemoni barat. Khilafah Islam merupakan sebuah sistem pemerintahan yang berlandaskan syariat Islam yang akan membebaskan negeri-negeri kaum muslim yang sangat ini sangat menderita dalam penjajahan Barat. Dengan dakwah dan jihad, Islam akan menerangi seluruh dunia dan membawa rahmat bagi seluruh umat manusia.
Wallahu'alam bisawab.
Oleh: Vini Setiyawati
Aktivis Muslimah

0 Komentar