Topswara.com -- Perang Iran-AS hingga hari ini masih memanas. Kekuatan Iran melawan AS menjadi pusat perhatian global setelah melihat pertempuran sengit rudal-rudal Iran meluncur dengan jarak tercepat hingga 4.000 km meluluhlantakkan pangkalan militer AS di timur tengah dan wilayah Israel di Tel Aviv.
Iran tak mudah dikalahkan oleh karena faktor strategis. Selain memiliki persediaan rudal tercanggih, Iran memiliki kemampuan menutup Selat Hormuz (jalur pengangkutan minyak paling vital di dunia).
Perang ini membuat AS ketakutan dan mengalami kesulitan menggalang dukungan dari negara sekutu untuk ikut terlibat melawan Iran. Penolakan sekutu (NATO dan Eropa) menegaskan tidak akan terlibat dalam operasi militer ofensif ke Iran dan menolak permintaan AS tersebut.
Konflik ini bukan tanggung jawab aliansi trans Atlantik dan memiliki solusi diplomatik. Namun Sikap AS mulai melunak setelah tidak mendapatkan dukungan dari negara G7.
Setelah 40 hari melawan AS dan Israel, press TV Iran, Rabu, 8 April 2016, menyatakan kemenangan Iran atas AS dan Israel. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi mengatakan bahwa musuh telah menderita kekalahan dan sekarang tidak melihat adanya jalan keluar selain tunduk pada kehendak bangsa Iran.
Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi menegaskan bahwa negaranya telah mengumumkan kemenangan dengan menyebut "kekalahan bersejarah dan telak" yang menunjukkan AS terpaksa menerima 10 kerangka tuntutan gencatan senjata yang diajukan Teheran sebagai landasan negosiasi (mediaindonesia.com, 12/4/2026).
Kesatuan Negeri Islam yang Semu
Kenyataan AS dan Israel tak sekuat yang dibayangkan sebagai negara adidaya, justru kekuatan ada di tangan Iran. Iran meraih kemenangan total menghadapi perang sendirian. Ketahanan politik Iran di tengah tekanan internasional sebagai sumber inspirasi bagi bangsa lain di dunia.
Mojtaba mengatakan strategi "perlawanan" Iran berhasil mematahkan dominasi Barat dan sekutunya di panggung global. Kekuatan iman dan kemandirian mampu mengalahkan kekuatan materialistik (mediaindonesia.com, 14/4/2026).
Negara pengusung kapitalis sekuler yang menjadi sekutu AS pun tak mampu menolongnya. Karena sejatinya tak ada negara yang bersekutu secara permanen kecuali memiliki kepentingan. Hal ini membuktikan pengkhianatan penguasa Muslim kepada orang kafir.
Demikian pula mereka berkhianat pada sesama Muslim. Kondisi ini sebagai akibat dari lemahnya kesatuan umat Islam dan lemahnya sikap peduli terhadap sesama muslim. Bergabungnya mereka dalam OKI (Organisasi Kesatuan Islam) pun tak mampu bersatu menolong Iran.
Kesatuan negeri Islam di dunia hanyalah kesatuan yang semu. Bangsa mereka tersekat-sekat berdasarkan nasionalisme (kebangsaan) yang rapuh dan merusak semangat kesatuan akidah Islam.
Kapitalis sekuler Barat telah berhasil membuat negeri Muslim terpecah-belah, menciptakan adu domba di dalam negeri serta menodai ajaran Islam yang murni menjadi ajaran sesat dalam tata cara berpikir Barat.
Ditambah lemahnya cara berpikir terhadap politik Islam dan meninggalkan sebagian hukum Islam demi kepentingan politik kapitalis sekuler sehingga Barat mudah mendikte dan memaksakan kekuasaan atas negeri Islam. Penguasa Muslim terpaksa bersahabat dengan mereka dan meninggalkan orang Islam.
Padahal kekuatan Muslim sangat besar, baik dalam jumlah dan potensi membangun kekuatan global dalam mengalahkan AS. Sejarah telah membuktikan prestasi gemilang kemenangan umat Islam dari sejak masa Nabi Muhammad SAW, hingga kekhilafahan terakhir di Turki Utsmani.
Kesatuan Negara yang Hakiki
Kondisi umat Islam di seluruh dunia hari ini dalam kondisi terpecah-belah sebagai akibat dari runtuhnya negara Islam yaitu khilafah. Sejak saat itu kaum Muslim di seluruh dunia tak lagi memiliki pemimpin yang memberi rasa aman.
Negara khilafah telah jatuh di tangan orang kafir dan merdeka berdasarkan paham nasionalisme. Umat Islam mengalami penderitaan yang amat sangat dahsyat sehingga tak ada yang menolongnya hingga hari ini.
Maka untuk membangun kembali kesatuan umat Islam harus menyingkirkan nasionalisme. Kesatuan umat harus berdasarkan akidah Islam. Kesatuan ini merupakan perkara yang sangat urgen dan tak boleh ditawar lagi. Menggerakkan jiwa umat Islam untuk tetap teguh memegang akidah Islam agar bersih dari noda (ide / pemahaman) selain Islam yang rusak.
Kesatuan negeri Muslim hanya mampu diikat dalam institusi negara khilafah Islam, bukan yang lain. Itulah kesatuan hakiki. Khilafah akan mengalahkan penjajah, tidak dengan gencatan senjata atau perdamaian.
Sebab orang kafir tidak akan paham bahasa perdamaian. Khalifah dengan tegas akan menindak segala macam bentuk penjajahan atas negeri Muslim. Yaitu melalui thariqah dakwah dan jihad akan membebaskan negeri muslim di bawah kekuasaan kafir. Dengan begitu kaum Muslim akan merdeka kembali dan aman sentosa. []
Oleh: Punky Purboyowati, S.S.
(Pegiat Literasi Islam)

0 Komentar