Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Masyarakat Islami: Ketika Islam Menjadi Jiwa Peradaban


Topswara.com -- Di zaman ini, banyak negeri yang dipenuhi kaum Muslimin, masjid berdiri megah, azan berkumandang lima kali sehari, dan berbagai simbol Islam tampak di ruang publik. 

Namun pertanyaan besar yang harus direnungkan adalah: apakah keberadaan simbol dan jumlah umat Islam otomatis melahirkan masyarakat Islami?

Pertanyaan inilah yang dijawab secara tajam oleh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Nidzamul Islam. Beliau menjelaskan bahwa masyarakat Islami bukan diukur dari mayoritas atau minoritas umat Islam, melainkan dari apa yang mendominasi kehidupan mereka: apakah pemikiran, perasaan, dan aturan yang mengikat masyarakat itu bersumber dari Islam atau bukan.

Pandangan ini sesungguhnya sangat mendalam. Ia tidak hanya berbicara tentang identitas lahiriah umat, tetapi tentang ruh peradaban. Sebab Islam bukan sekadar agama ritual, melainkan manhaj kehidupan yang membentuk cara berpikir, cara merasa, dan cara mengatur seluruh urusan manusia.

Hakikat Masyarakat dalam Pandangan Islam

Dalam Islam, masyarakat terbentuk dari tiga unsur utama: pertama, pemikiran yang hidup di tengah manusia. Kedua, perasaan yang mengikat hati mereka. Ketiga, sistem atau aturan yang mengatur hubungan antar manusia.

Jika tiga unsur ini bersumber dari akidah Islam, maka lahirlah masyarakat Islami. Tetapi bila ketiganya dibangun di atas selain Islam—meski penduduknya mayoritas Muslim—maka masyarakat itu sesungguhnya sedang berjalan di bawah naungan nilai lain.

Inilah tragedi terbesar umat hari ini.
Banyak kaum Muslimin masih mengucapkan syahadat, tetapi cara berpikirnya sekuler. Mereka memisahkan agama dari kehidupan. Islam dianggap cukup di masjid, sementara ekonomi diatur kapitalisme, politik diatur hawa nafsu manusia, pendidikan dipenuhi materialisme, dan budaya dipenuhi syahwat.

Akibatnya, lahirlah manusia yang mengenal Allah dengan lisannya, tetapi hidup dengan aturan selain Allah.

Ketika Islam Tinggal Simbol

Betapa banyak negeri Muslim yang dipenuhi: korupsi, riba, kezaliman, kerusakan moral, permusuhan, kerakusan dunia, dan hilangnya rasa takut kepada Allah.

Mengapa ini terjadi? Karena Islam tidak lagi menjadi pemimpin kehidupan, melainkan hanya aksesoris spiritual. Umat mencintai identitas Islam, tetapi takut menerapkan syariat Islam secara menyeluruh.

Padahal Allah SWT berfirman:
اَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَۗ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ ࣖ 
“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?”
(QS. Al-Ma’idah: 50)

Ayat ini bukan hanya seruan hukum, tetapi panggilan tauhid. Sebab menerima aturan Allah berarti mengakui bahwa hanya Allah yang paling mengetahui maslahat manusia.

Krisis Umat Adalah Krisis Pemikiran

Musuh terbesar umat Islam bukan semata kemiskinan atau kelemahan teknologi, tetapi rusaknya cara berpikir. Ketika umat memandang dunia sebagai tujuan akhir, maka lahirlah peradaban materialistik. 

Manusia diukur dari harta dan jabatan. Kehormatan dinilai dari popularitas. Ilmu kehilangan cahaya ketuhanan. Agama dipinggirkan dari kehidupan publik.
Padahal Islam datang untuk membebaskan manusia dari penghambaan kepada makhluk menuju penghambaan hanya kepada Allah SWT.
Rasulullah ﷺ tidak hanya membangun individu saleh, tetapi membangun masyarakat yang menjadikan wahyu sebagai sumber kehidupan. 

Di Madinah, Islam hadir bukan hanya di masjid, tetapi juga di pasar, pengadilan, pendidikan, keluarga, dan pemerintahan.
Karena itu, dakwah Islam sejati bukan hanya mengajak manusia memperbaiki ibadah pribadi, tetapi juga membangun kesadaran ideologis agar umat kembali menjadikan Islam sebagai asas kehidupan.

Tasawuf Tanpa Syariat Akan Lumpuh, Syariat Tanpa Ruh Akan Kering

Di sisi lain, umat juga harus memahami bahwa masyarakat Islami tidak cukup dibangun dengan aturan formal semata. Ia memerlukan hati-hati yang hidup.
Inilah pentingnya dimensi sufistik dalam Islam.

Syariat adalah tubuh, sedangkan ruhnya adalah ihsan. Hukum Islam tanpa penyucian jiwa dapat berubah menjadi kekerasan dan formalitas. Tetapi tasawuf tanpa syariat akan berubah menjadi khayalan yang menjauh dari perjuangan kehidupan.

Para ulama besar seperti Abu Hamid al-Ghazali, Ibnu Athaillah al-Sakandari, dan Abdul Qadir al-Jailani mengajarkan bahwa hakikat Islam adalah penyatuan antara: akidah yang lurus, syariat yang tegak, dan hati yang bersih. 

Masyarakat Islami lahir ketika manusia: takut bermaksiat meski tidak dilihat manusia, mencintai akhirat lebih daripada dunia, menolong sesama karena Allah, zuhud terhadap ketamakan, dan menjadikan ridha Allah sebagai tujuan hidup. Tanpa tazkiyatun nafs, umat akan mudah menjual agama demi dunia. 

Penyakit Peradaban Modern

Peradaban modern telah melahirkan manusia yang cerdas tetapi kosong jiwanya. Teknologi berkembang pesat, namun hati manusia semakin gelisah. Gedung menjulang tinggi, tetapi akhlak runtuh. Informasi melimpah, tetapi hikmah menghilang.

Manusia modern kehilangan makna hidup karena memutus hubungan dengan Allah SWT. Mereka mengejar kenikmatan dunia tanpa batas, namun justru tenggelam dalam: kecemasan, depresi, kesepian, dan kekosongan spiritual.

Inilah akibat ketika masyarakat dibangun di atas hawa nafsu dan materialisme.
Allah SWT telah mengingatkan:
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit.”
(QS. Thaha: 124). Kehidupan sempit bukan hanya kemiskinan harta, tetapi kesempitan hati.

Jalan Kebangkitan Umat

Kebangkitan umat Islam tidak akan lahir hanya dengan slogan atau nostalgia sejarah. Ia harus dimulai dari revolusi ruhiyah dan revolusi pemikiran sekaligus.
Pertama, umat harus kembali kepada tauhid yang murni. Menjadikan Allah sebagai pusat cinta, takut, harapan, dan tujuan hidup.

Kedua, umat harus membangun pola pikir Islam. Al-Qur’an dan sunah harus menjadi standar dalam menilai benar dan salah.
Ketiga, umat harus membersihkan hati dari penyakit: cinta dunia, riya, dengki, sombong, dan fanatisme golongan.

Keempat, umat harus memperjuangkan hadirnya sistem kehidupan yang adil berdasarkan syariat Allah, bukan sistem yang tunduk kepada kepentingan hawa nafsu manusia.

Kelima, dakwah harus menyentuh akal dan hati sekaligus. Dakwah yang hanya membakar emosi akan cepat padam, sedangkan dakwah yang hanya mengisi akal tanpa menyentuh ruh akan menjadi kering.

Membangun Peradaban Cahaya
Masyarakat Islami adalah masyarakat yang: pikirannya dipenuhi tauhid, hatinya dipenuhi cinta kepada Allah, lisannya dipenuhi zikir, amalnya dipenuhi keikhlasan, dan hukumnya dipenuhi keadilan syariat.

Di dalam masyarakat seperti itu, orang kaya tidak sombong, orang miskin tidak hina, penguasa takut kepada Allah, ulama membimbing dengan hikmah, dan rakyat saling mencintai karena iman.

Mereka hidup bukan sekadar untuk dunia, tetapi untuk perjalanan menuju Allah SWT.
Inilah masyarakat yang dirindukan langit.
Sebuah masyarakat yang ketika manusia melihatnya, mereka teringat kepada Allah. Ketika keadilan ditegakkan, rahmat turun dari langit. Ketika syariat dijalankan dengan kasih sayang dan ketakwaan, bumi menjadi bercahaya.

Maka tugas dakwah hari ini bukan sekadar mempertahankan identitas Islam, tetapi menghidupkan kembali ruh Islam dalam jiwa umat dan dalam bangunan peradaban manusia.

Karena kemenangan Islam bermula dari kemenangan hati manusia atas hawa nafsunya. Dan kebangkitan umat bermula ketika manusia kembali berkata dengan penuh keyakinan: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am: 162).


Oleh: Dr Nasrul Syarif M.Si. 
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar