Topswara.com -- Kadang negeri ini tuh lucu, Sob. Bukan lucu yang bikin ketawa lepas, tetapi lucu yang bikin kita garuk-garuk kepala sambil istighfar.
Di satu sisi, program Makan Bergizi Gratis (MBG) digadang-gadang sebagai solusi untuk anak-anak yang butuh asupan. MasyaAllah, niatnya mulia. Tapi pas kita lihat isi dapurnya eh, yang mahal malah “kompor”-nya, bukan makanannya. Motor listrik? Rp1,2 triliun. Kaos kaki? Rp6,9 miliar.
Lah ini mau kasih makan rakyat atau mau bikin fashion show keliling kampung?
Mari kita tarik napas sebentar. Kita hitung pelan-pelan biar enggak emosi duluan.
Sekitar 21.800 unit motor listrik dibeli. Kalau totalnya Rp1,2 triliun, berarti satu motor bisa tembus Rp46–50 juta. Pertanyaannya sederhana, apa semua petugas butuh motor baru? Enggak ada opsi lain yang lebih hemat? Subsidi transport kek, pakai kendaraan yang sudah ada kek?
Kalau semua harus seragam, mahal pula, ini bukan lagi efisiensi. Ini sudah masuk kategori, standarisasi mahal yang dipaksakan.
Lanjut kaos kaki. Rp6,9 miliar untuk 17.000 pasang. Sekitar Rp100 ribu per pasang. Ini kaos kaki apa? Anti air, anti selip atau anti rasa bersalah?
Lebih penting lagi, siapa yang dapat?
Apa urgensinya untuk program gizi? Kenapa bisa sampai segitu harganya? Nah, ini yang bikin rakyat bukan cuma bingung, tetapi juga curiga.
Padahal kalau kita lihat inti programnya, Rp2.000 per ompreng untuk pemilik dapur.
Rp3.000 untuk operasional. Di sini kontradiksi mulai kelihatan terang benderang. Kalau operasional sudah dihitung per porsi, harusnya distribusi, mobilitas, dan kebutuhan dasar sudah ter-cover. Tetapi kok masih ada pengadaan jumbo di luar itu?
Ini ibarat orang lagi lapar, tetapi yang dibeli malah piring emas duluan. Makanannya? Nanti pikir belakangan.
Syaikh Ibnu Atha’illah rahimahullah pernah mengingatkan, "Tidak akan bermanfaat amal yang bercampur dengan tujuan selain Allah."
Artinya apa, Sob? Ketika kebijakan mulai bergeser dari kemaslahatan rakyat ke arah pencitraan, proyek, atau bahkan kepentingan lain, maka di situlah keberkahan mulai dicabut.
Sementara Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa tugas negara dalam Islam itu jelas, yaitu mengurus urusan rakyat secara langsung dan memastikan kebutuhan pokok terpenuhi dengan sempurna. Bukan setengah-setengah, bukan simbolik, bukan sekadar program yang terlihat “wah” di permukaan.
Negara itu bukan event organizer. Bukan juga reseller proyek. Negara adalah raa’in (pengurus). Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, "Imam adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas rakyatnya." (HR. Bukhari & Muslim)
Dan pertanggung jawaban itu bukan ditanya, “Berapa besar anggarannya?” Tetapi “Tepat nggak penggunaannya?”
Masalah utama dari kisah ini bukan sekadar angka. Tetapi arah. Rakyat butuh makanan bergizi itu fakta. Tetapi lebih dari itu, rakyat butuh pekerjaan layak agar para ayah memiliki kemampuan untuk terus makan tanpa bergantung pada program bantuan pemerintah.
Kalau MBG ini diibaratkan, baru level “ngasih ikan”. Padahal yang lebih penting adalah kasih kail, kasih akses, kasih sistem yang bikin rakyat bisa mandiri.
Dalam Islam, negara tidak hanya bagi-bagi bantuan. Tetapi memastikan: pertama, lapangan kerja tersedia; kedua, sumber daya alam dikelola untuk rakyat; ketiga, distribusi kekayaan merata. Sehingga rakyat tidak perlu menunggu program untuk bisa makan.
Kalau hari ini yang dibesarkan justru fasilitas penunjang, seperti motor mahal, atribut mahal sementara porsi makan ditekan seminimal mungkin, ya wajar kalau publik bertanya, "Ini program untuk rakyat atau proyek untuk yang punya kuasa?"
Dan pertanyaan itu bukan bentuk kebencian. Tetapi bentuk kepedulian. Karena setiap rupiah yang keluar, itu bukan uang langit. Itu uang rakyat.
Dan lebih dari itu, semua akan dimintai pertanggungjawaban. Di dunia mungkin bisa rapi dengan laporan. Tetapi di akhirat? Tidak ada yang bisa disembunyikan.
Jadi Sob, kalau prioritas sudah terbalik, jangan heran kalau hasilnya juga jauh dari harapan. Karena dalam hidup ini, bukan soal seberapa besar yang dikeluarkan, tetapi seberapa tepat yang didahulukan. []
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)

0 Komentar