Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Gonjang-ganjing BBM, Inikah Imbas Konflik Global?


Topswara.com -- Konflik di Timur Tengah berimbas pada bahan bakar minyak. Harga minyak dunia mengalami lonjakan. Kondisi ini tentu saja turut berdampak di dalam negeri. Sejumlah masyarakat pun melakukan aksi panic buying karena khawatir harga BBM benar-benar naik.

Menanggapi itu, pemerintah melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan harga BBM bersubsidi tidak akan naik hingga akhir 2026 meski rata-rata harga minyak dunia mencapai US$100 per barel. Di sisi lain, pemerintah juga menetapkan sejumlah strategi penghematan energi nasional yang dimulai pada 1 April 2026. 

Salah satunya dengan membatasi pembelian solar dan bensin bersubsidi (Pertalite). Pembelian solar bagi kendaraan pribadi roda empat maksimal 50 liter/hari, sementara untuk angkutan umum orang atau barang roda empat dibatasi 80 liter/hari. 

Solar untuk angkutan umum roda enam dibatasi 200 liter/hari, sedangkan untuk kendaraan pelayanan umum seperti ambulans, jenazah, damkar, dan sampah dibatasi maksimal 50 liter/hari. Bagi kendaraan pribadi atau umum roda empat dan kendaraan pelayanan umum, pembelian Pertalite dibatasi 50 liter/hari. (bbc.com, 3-4-2026)

Meski pemerintah memastikan BBM bersubsidi tidak naik, tetapi itu hanya sementara, yakni hanya sampai akhir April. Bulan depan masih belum tentu. Sangat mungkin harganya akan naik mengingat APBN saat ini sudah defisit. Terlebih lagi di tengah lonjakan harga minyak dunia seiring konflik di Timteng yang tampaknya kian memanas.

Pemerintah mengalami dilema lantaran bila harga tidak dinaikkan, defisit APBN akan makin besar. Namun, bila dinaikkan, inflasi akan meningkat. Harga-harga barang dan jasa terkerek naik. Daya beli masyarakat pun terancam. Sosial akan bergejolak. Saat belum jelas naik saja, antrean sudah terjadi di mana-mana. Aksi panic buying merebak.

Gonjang-ganjing BBM ini tak dapat dielakkan lantaran Indonesia sebagai negara importir minyak tergantung pada pasokan dari luar. Ketika terjadi konflik global, Indonesia sudah pasti terdampak. Pasokan menjadi terhambat dan harga pun melonjak. 

Masyarakat mengalami kesulitan dalam menjangkau BBM, baik karena jumlahnya yang terbatas ataupun harganya yang kian mahal.

Inilah gambaran negeri yang tergantung pada impor komoditas strategis seperti BBM. Ekonomi dan politik dalam negeri kerap terguncang akibat sentimen global. Ketika konflik global pecah, negeri ini turut menuai imbasnya. Stabilitas nasional menjadi rentan karena kemandirian BBM yang lemah.

Sebagai komoditas strategis, BBM sangat penting bagi rakyat. BBM menjadi kebutuhan setiap hari bagi masyarakat. Bukan hanya untuk individu, BBM juga penting untuk keperluan industri dan usaha. 

Mengingat strategisnya BBM, sudah semestinya negara memiliki ketahanan dan kemandirian energi ini. Terlebih lagi dengan sumber daya alamnya yang melimpah, sudah seharusnya negara mengelola dengan serius sehingga kemandirian BBM tercapai demi kemaslahatan rakyat,

Bukan hanya Indonesia yang memiliki sumber daya yang luar biasa, banyak negeri muslim lainnya dilimpahi kekayaan alam yang cukup untuk menjadikannya independen dan kuat. Negeri-negeri muslim ini tidak gampang terpengaruh oleh kondisi global yang dipengaruhi oleh kepentingan negara adidaya. 

Mereka tidak hanya mampu mencukupi kebutuhan minyak dalam negerinya, tetapi juga tetap tegak di tengah gempuran konflik global.

Kemandirian BBM tersebut akan tercapai manakala negeri-negeri muslim di seluruh dunia bersatu dalam naungan Daulah Khilafah. Seluruh rakyat di negeri ini akan terpenuhi kebutuhan minyak tanpa khawatir adanya kelangkaan atau ketidakpastian harga. Negeri dengan Islam kaffah ini mampu berdiri dengan tegak, mandiri tanpa takut intervensi dari mana pun, bahkan menjadi negara adidaya yang disegani.

Sistem Islam kaffah mewajibkan negara untuk mengelola sumber daya alam agar dapat menghasilkan secara maksimal tanpa merusak lingkungan. Pengelolaan sumber daya dilakukan secara bijak sesuai kebutuhan rakyat dan tidak boleh adanya eksploitasi alam. 

Penggunaan BBM pun diatur secara tepat dan bertanggung jawab sebagaimana ketentuan syariat. Masyarakat juga secara sadar menggunakan bahan energi secukupnya sesuai kebutuhan. 

Mengenai penghematan, negara hanya melakukannya untuk hal-hal yang memang perlu untuk dihemat. Adapun untuk kebutuhan pelayanan publik atau kewajiban seperti jihad, maka tidak ada penghematan. Malahan untuk kebutuhan tersebut, negara wajib mengadakannya dengan segala upaya. 

Negara Khilafah juga akan terus bereksplorasi untuk terus mengembangkan sumber energi selain minyak seperti nuklir. Hal ini dilakukan untuk menjamin pemenuhan kebutuhan energi sekaligus dalam rangka menjaga visi sebagai negara adidaya yang bersendikan Islam kaffah.


Oleh: Nurcahyani 
Aktivis Muslimah 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar