Topswara.com -- Kadang kita terlalu santai menjalani hidup. Seolah semua yang kita punya ini aman-aman saja. Padahal faktanya? Yang halal saja akan dihisab. Apalagi yang haram jelas diazab.
Nah lho. Serem? Iya. Tetapi ini justru tanda kalau Islam itu realistis. Karena dalam Islam, bukan cuma “boleh atau tidak”, tetapi juga “akan dimintai
pertanggung jawaban.”
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ditanya tentang umurnya, hartanya dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan…” (HR. Tirmidzi).
Perhatikan baik-baik, yang ditanya itu bukan cuma yang haram. Yang halal pun tetap diperiksa. Artinya apa? Punya harta halal? Tetap ditanya, dapatnya dari mana? Dipakainya buat apa?
Punya jabatan? Bukan cuma soal sah atau tidak, tapi dipakai untuk apa? Memudahkan atau menyulitkan?
Makanya jangan heran kalau ada orang hidupnya mewah, tetapi hatinya gelisah. Karena mungkin secara kasat mata “halal” tapi belum tentu selamat dari hisab.
Syaikh Ibnu Atha’illah rahimahullah pernah mengingatkan dalam Al-Hikam, “Jangan sampai tertundanya pemberian membuatmu putus asa, karena Allah menjamin terkabulnya doa sesuai pilihan-Nya, bukan keinginanmu.”
Artinya? Kadang yang kita anggap “nikmat dunia” itu belum tentu hadiah. Bisa jadi itu ujian. Dan lebih dalam lagi beliau juga mengingatkan bahwa ketergantungan pada dunia adalah akar kegelisahan. Karena dunia ini bukan tempat istirahat. Ini tempat ujian.
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani juga menjelaskan bahwa kehidupan dunia adalah ladang amal, dan manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas seluruh perbuatannya, baik dalam urusan pribadi maupun dalam pengelolaan urusan umat. Artinya, bukan cuma individu yang akan dihisab.
Sistem pun akan dipertanyakan. Bagaimana harta dikelola? Bagaimana kebijakan dibuat? Apakah memudahkan rakyat atau justru menyulitkan?
Karena dalam Islam, kekuasaan itu bukan fasilitas. Itu amanah yang berat. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya jabatan itu adalah amanah, dan ia pada hari kiamat menjadi kehinaan dan penyesalan…” (HR. Muslim).
Nah lho lagi. Jadi kalau hari ini ada yang bangga dengan jabatan, harusnya dia juga sadar bahwa itu bukan cuma posisi, tetapi potensi penyesalan. Kalau digunakan untuk kebaikan, dia jadi jalan pahala. Tetapi kalau dipakai untuk kepentingan diri, atau bahkan menyulitkan rakyat, maka siap-siap, itu berubah jadi beban di akhirat.
Makanya jangan heran kalau dalam Islam, yang paling ditakuti bukan miskin. Tetapi hisab. Karena miskin di dunia belum tentu sengsara. Tetapi gagal di akhirat? Selesai.
Jadi mulai hari ini jangan cuma fokus “ini halal atau tidak.” Naikkan levelnya, “Ini akan selamat saat dihisab atau tidak?”
Karena dunia ini cuma sebentar. Nikmatnya juga sebentar. Tetapi pertanggungjawabannya? Panjang. Dan ingat baik-baik, yang halal saja dihisab. Apalagi yang haram, tidak ada negosiasi apalagi remidi. []
Oleh: Nabila Zidane
Jurnalis

0 Komentar