Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Gelombang Aksi "No kings": AS Suram, Sinyal Kebangkitan Islam


Topswara.com -- Amerika Serikat diguncang demonstrasi dengan massa yang jumlahnya belum pernah terjadi sepanjang sejarah negara tersebut. Sekitar 8 juta warga turun ke jalan mengusung tajuk "No Kings" pada Sabtu 28 Maret 2026. Peserta aksi tersebar di lebih dari 3.300 lokasi di 50 negara bagian. 

Gelombang aksi merupakan bentuk protes terhadap kebijakan presiden Trump. Termasuk dengan pecahnya perang antara AS-Iran dan kebijakan domestik yang dinilai kontroversial selama Trump memimpin. 

Aksi ini bukan kali pertama. Sebelumnya telah digelar aksi 18 Oktober tahun lalu yang disebut dengan "No King" Day. Tidak sedikit tuntutan yang diserukan dalam aksi terbesar ini, di antaranya menuntut AS dan Israel menghentikan serangan militernya ke Iran yang telah berlangsung 4 pekan. 

Hal ini memunculkan tingkat kekhawatiran masyarakat terhadap eskalasi konflik internasional yang melibatkan Amerika. Selain itu masyarakat memprotes kebijakan imigrasi yang dinilai terlalu agresif, lonjakan harga minyak dan kebutuhan pokok yang mencekik, serta menurunnya tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintah yang hanya sekitar 36 persen. 

Masyarakat yang turun ke jalan tidak hanya di perkotaan, namun hingga ke pedesaan terpencil di Kentucky. Situasi ini menandai titik jenuh publik terhadap kepemimpinan Trump yang melampaui batas dimana presiden mengabaikan kongres dan konstitusi. 

Sayangnya aksi besar ini direspon dingin oleh gedung putih. Melalui seorang juru bicara, pihaknya menyebut aksi ini hanya sebagai "seni terapi gangguan Trump" yang hanya dipedulikan oleh media. 

Namun para aktivis tidak berhenti, Ezra Levin pendiri indivisible, salah satu penggerak aksi, sudah menyerukan aksi mogok nasional pada 1 Mei mendatang. Kekuasaan Trump yang baru dimulai pada Januari 2025 lalu, kian diguncang oleh ketidakpuasan warganya sendiri. 

Tidak hanya sampai disitu, utang AS sendiri untuk pertama kalinya resmi menembus angka US$ 39 triliun (Rp. 661.440 triliun) pada Maret 2026. Utang yang membengkak, menyusul lonjakan pengeluaran akibat konflik AS-Israel dengan Iran, mengakibatkan utang penduduk AS Rp 1,93 M. Kondisi ini menjadi sinyal AS berada di ambang kebangkrutan. 

Ambisi Trump, Menggali Kuburnya Sendiri

Ambisi Trump menguasai dunia memang tidaklah main-main. Awal tahun 2026 Trump berupaya mengambil alih Greenland dari Denmark. Kebijakan ini untuk menjaga prioritas keamanan nasional AS dalam mengantisipasi potensi ancaman di kawasan Arktik oleh Rusia dan Cina. 

Meski sebagian negara Eropa tidak mendukungnya, Trump tidak segan memberi sanksi kepada negara-negara Eropa dengan ancaman menaikkan tarif perdagangan. Terbaru, keterlibatan AS mendukung Israel melakukan perang terbuka terhadap Iran yang pecah pada Februari lalu, membuat utang AS kian berlipat. 

Sikap mendukung Israel untuk menguasai Palestina, dan bersekutu dengan Eropa dan negara-negara teluk dalam memerangi Iran telah membuka mata dunia dan warga AS sendiri akan kejahatan Trump. Kerakusan hegemoni kapitalisme AS telah menimbulkan dampak negatif yang signifikan dalam tatanan global.

Kejenuhan akan situasi yang ditimbulkan akibat kebijakan Trump yang sering kontroversial ini ibarat menggali kuburnya sendiri. Trump menuai kebencian dan kemarahan tak terbendung dari rakyat yang tak lagi menginginkan kepemimpinannya.

Dari semua situasi ini, sikap negara Arab yang menjalin kerjasama dengan AS, menjadi bukti pengkhianatan yang nyata para penguasa negeri Muslim. Bahkan saat kunjungan pada 13-16 Mei 2025 lalu, Trump meminta dukungan yang diaminkan negara-negara Arab yaitu Arab Saudi, Qatar dan Uni Emirat Arab atas keinginannya untuk menjadikan Gaza sebagai zona bebas (free zone). 

Seharusnya, sikap pengkhianatan ini harus segera diakhiri. Setiap negeri Muslim adalah satu kesatuan karena kesamaan akidahnya. 

Persatuan Menuju Kebangkitan Islam

Kebangkitan Islam harus dimulai dengan munculnya kesadaran pada umat bahwa hegemoni kapitalisme yang direpresentasikan oleh AS hari ini, telah menimbulkan kerusakan global. Selain itu kapitalisme telah menimbulkan perpecahan antarbangsa. 

Umat Islam serta penguasa di negeri-negeri muslim menjadi korban adu domba yang tidak lain untuk kepentingan kekuasaan AS semata. 

Umat Islam harus memiliki kesadaran akan pentingnya mereka kembali pada politik Islam yang benar, yaitu mengurus perkara  yang terkait dengan kepentingan umat, sesuai dengan tuntunan yang telah diteladankan Rasulullah SAW. Sistem politik Islam hanya akan tegak melalui satu sistem kepemimpinan Islam. 

Di bawah satu sistem kepemimpinan itulah yang akan menyatukan negeri-negeri Muslim yang selama ini telah terpecah dan menjadi objek eksploitasi dan penjajahan tanpa disadari. Saatnya Umat dan para penguasa Muslim untuk mengarahkan upaya mereka dalam terwujudnya sistem Islam, khilafah yang mengikuti metode kenabian. 

Kembalinya sistem Islam inilah yang akan dapat merubah tatanan dunia yang rusak hari ini kembali menjadi kehidupan yang penuh kebaikan dan keberkahan setelah dipenuhi dengan kezaliman. []


Oleh: Noor Jannatul Ratnawati, S.Ikom.
(Aktivis Dakwah) 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar