Topswara.com -- Dikutip Antaranews.com(7/4/2026) Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) disebut mendesak Hamas agar segera menyelesaikan rancangan kesepakatan demiliterisasi Jalur Gaza paling lambat akhir pekan ini, kata laporan media.
New York Times, mengutip sumber, pada Senin menyampaikan bahwa Amerika Serikat menginginkan Hamas menyerahkan hampir semua persenjataannya serta menyerahkan peta jaringan terowongan bawah tanah di Jalur Gaza.
Hamas menolak dan menganggap hal itu mengancam eksistensi serta perjuangan mereka. Hamas menuntut dunia bertindak atas pelanggaran gencatan Zionis. Meski gencatan senjata telah disepakati, Zionis terus melakukan penyerangan hingga menewaskan warga sipil hingga bulan ini (Metronews.com,12/4/2026).
Jika membedah arah kebijakan Board of Peace, adalah kebijkan absurd. Mengatasnamakan keadilan, namun realitasnya adalah penjajahan gaya elit. Wajar saja hamas menolak adanya demiliterisasi, karena hal itu sangat jelas Amerika dengan ambisi kuat ingin menghilangkan Gaza dari tanah kaum Muslimin.
Board Of Peace hanyalah media untuk legitimasi pembersihan etnis, genosida, dan perampasan tanah Palestina. Board Of Peace tidak benar-benar hadir untuk wadah perdamaian, melainkan juga alat untuk mengikat para pemimpin kaum muslim yang terkecoh dengan adanya BoP. Ketika Trump sudah berhasil mengikat para pemimpin kaum muslim, akan mudah baginya untuk mewujudkan Gaza New.
Tidak hanya itu, dengan adanya BoP, Amerika Serikat ingin mengalihkan opini publik bahwa dunia tidak bungkam atas kekejaman Israel. Mereka ingin menipu publik dengan lembaga yang mereka bentuk. Seolah-olah memperlihatkan kepada dunia bahwa mereka prihatin atas kondisi Palestina.
Board Of Peace bukan mediator netral, tetapi jebakan Kapitalisme global yang condong pada kepentingan Barat dan Zionis. Pelucutan senjata adalah upaya Barat (AS) untuk menghentikan perjuangan perlawanan rakyat Gaza dengan jihad.
Pelucutan senjata juga bagian dari serangan pemikiran sebagai upaya mengubah cara pandang umat agar menganggap perlawanan sebagai ancaman dan penyerahan senjata sebagai jalan damai.
Maka jelaslah bahwa Board Of Peace tidak menjadi solusi bagi Palestina, tetapi justru jalan untuk menghancurkan Palestina. Keberadaan negara-negara muslim di dunia, termasuk Indonesia hanya menjadi pelengkap legitimasi semata.
Artinya, Board Of Peace adalah alat untuk merealisasikan 20 poin rencana Trump atas Gaza. Begitupun dengan keikutsertaan negeri-negeri muslim dalam BoP, merupakan pengkhianatan terhadap muslim Gaza.
Jika dicermati, berbagai solusi yang telah dilakukan oleh PBB sekalipun, tidak pernah membuahkan hasil. Perundingan, solusi dua negara, bahkan gencatan senjata, apalagi dengan BoP yang didalangi oleh AS, tidak akan mampu menolong Palestina. Sejak awal penjajahan hingga detik ini, yang Palestina butuhkan adalah pembebasan hakiki, yaitu lepas dari pendudukan Zionis.
Sesungguhnya, perdamaian hakiki bagi Palestina hanya akan terwujud jika Zionis hengkang dari wilayah Palestina. Satu-satunya jalan untuk mewujudkan hal ini adalah jihad. Jihad ini akan digaungkan oleh pemimpin muslim yang menerapkan sistem Islam (khilafah). Khilafah adalah satu-satunya institusi yang akan mengomando jihad akbar untuk membebaskan Palestina.
Oleh karena itu, negeri-negeri muslim tidak boleh bersekutu dengan negara kafir harbi fi’lan yang tengah memerangi muslim Palestina (AS dan Zionis).
Negeri-negeri muslim justru harus bersegera menegakkan khilafah untuk menyelamatkan dan membebaskan Palestina. Begitupun umat Islam, tegaknya hukum-hukum Islam dalam naungan khilafah harus menjadi agenda utama dakwah.
Oleh karena itu, sudah saatnya umat Islam menyadari bahwa Palestina bisa terbebas dari penjajah bukan dengan perdamaian semu ala Board of Peace. Palestina akan bebas dan bangkit dengan solusi hakiki, yaitu dengan tegaknya khilafah.
Umat Islam harus menjadikan khilafah sebagai qadhiyah masiriyah (agenda utama) yang mendesak untuk direalisasikan segera. Kembalinya khilafah akan menegakkan kembali marwah umat melalui kepemimpinan Islam global yang akan mengakhiri dominasi asing dan membebaskan Palestina secara utuh
Oleh: Rasyidah
Pegiat Literasi

0 Komentar