Topswara.com -- Kasus dugaan kekerasan anak di daycare “Little Aresha” Yogyakarta membuka mata banyak orang tua. Sejumlah laporan menyebut adanya perlakuan tidak layak terhadap anak, mulai dari penguncian hingga indikasi kekerasan fisik. Polisi pun turun tangan dan melakukan pemeriksaan terhadap pengelola serta pihak terkait (detik.com, 25/4/2026).
Ini bukan sekadar berita. Ini tamparan.
Karena di balik kasus ini, ada satu pertanyaan yang diam-diam menghantui, "Apakah anak kita benar-benar aman atau kita hanya berharap aman?"
Kadang kita pikir, menitipkan anak itu solusi. Karena ibu capek. Karena kerja di kantor harus jalan. Karena hidup gak bisa berhenti cuma buat rebahan sambil peluk anak seharian. Akhirnya kita bilang, “Tenang anakku di daycare kok. Aman.”
Eh aman dari siapa dulu? Fenomena daycare hari ini bukan tanpa sebab. Banyak orang tua terutama ibu dipaksa keadaan karena tuntutan ekonomi, biaya hidup naik ditambah standar sosial yang makin tinggi.
Belum lagi narasi zaman yang halus tetapi menekan bahwa ibu harus produktif, wanita sukses harus mandiri dan anak harus cepat “terlatih” sejak kecil.
Akhirnya, pilihan yang awalnya darurat, pelan-pelan jadi normal dan yang paling berharga justru dititipkan ke sistem yang belum tentu punya hati.
Kasus daycare di Jogja ini bukan cuma soal pelanggaran. Ini soal satu kata yang pelan-pelan hilang maknanya, yaitu amanah.
Anak itu bukan paket. Bukan barang titipan. Bukan juga “proyek sosial” yang bisa di-handle siapa saja. Dia itu manusia kecil yang bahkan belum bisa bela dirinya sendiri.
Masalahnya bukan cuma di pelaku. Tetapi di zaman. Zaman yang membuat kita sibuk mengejar “cukup”, sampai lupa menjaga yang paling berharga.
Lucunya Sobat Nabila, orang tua itu detail banget kalau pilih sekolah, baju, makanan organik, tetapi kadang lupa memastikan siapa yang memegang jiwa anaknya setiap hari.
Para ulama mengingatkan, Hati yang rusak akan merusak sekitarnya dan kalau yang rusak itu orang dewasa, yang kena dampaknya siapa? Anak kecil yang enggak ngerti apa-apa.
Yang bikin merinding bukan cuma kejadian ini. Tetapi fakta bahwa peristiwa ini terjadi di tempat yang katanya “penitipan anak” bukan di jalanan, bukan di tempat liar
Tetapi di tempat yang harusnya paling aman setelah rumah.
Bukan berarti semua daycare buruk. Enggak. Tetapi jangan sampai kita menitipkan anak karena terpaksa lalu menenangkan diri dengan asumsi “pasti aman.” Padahal kita gak benar-benar tahu.
Realita pahitnya adalah dunia ini gak kekurangan fasilitas. Yang kurang itu orang yang takut sama Allah. Karena kalau seseorang benar-benar sadar Allah melihat, maka gak akan ada tangan yang berani menyakiti, hati yang tega mengabaikan dan jiwa yang tega merusak anak kecil
Solusi Islam: Bukan Sekadar Moral, Tetapi Sistem
Islam tidak hanya bicara “jadi ibu yang baik”. Islam membangun sistem agar ibu bisa menjadi ibu.
Dalam Islam nafkah adalah kewajiban laki-laki. Negara wajib menjamin kebutuhan dasar rakyat. Perempuan tidak dipaksa keluar rumah demi bertahan hidup.
Artinya, seorang ibu tidak didorong meninggalkan anaknya karena tekanan ekonomi.
Rasulullah SAW bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dan ibu adalah pemimpin di rumahnya. Islam juga menekankan bahwa pendidikan pertama anak ada di rumah. Pembentukan akhlak dimulai dari ibu dan kedekatan emosional tidak bisa digantikan sistem.
Dalam Islam, jalur penafkahan itu jelas dan berlapis. Pertama, suami sebagai penanggung jawab utama. Allah mewajibkan laki-laki menafkahi istri dan anaknya. Bukan pilihan, tapi kewajiban. Artinya, perempuan tidak dijadikan “tulang punggung darurat” hanya karena sistem hidup makin mahal.
Kedua, keluarga sebagai penopang. Jika suami tidak mampu, maka tanggung jawab berpindah ke wali terdekat.
Ini menunjukkan bahwa perempuan tidak dibiarkan sendirian menghadapi tekanan ekonomi.
Ketiga, negara sebagai penjamin. Dalam sistem Islam, negara wajib memastikan kebutuhan dasar rakyat terpenuhi, seperti pangan, sandang, papan, pendidikan, dan kesehatan. Sehingga tidak ada ibu yang terpaksa meninggalkan anaknya hanya untuk bertahan hidup.
Di sinilah bedanya. Hari ini, banyak ibu bekerja bukan karena pilihan, tapi karena terpaksa. Bukan karena ingin berkembang, tapi karena takut tidak cukup.
Padahal dalam Islam, bekerja bagi perempuan itu boleh, tetapi bukan dengan mengorbankan peran utamanya. Bukan sampai anak diserahkan sepenuhnya ke orang lain. Bukan sampai kehilangan kontrol atas pendidikan dan akhlak anak. Bukan sampai rumah hanya jadi tempat singgah.
Karena ibu dalam Islam bukan sekadar “peran tambahan” Ibu adalah madrasah pertama, penjaga akhlak dan pembentuk generasi
Jadi solusi Islam itu bukan melarang ibu bekerja. Tetapi mengatur agar ibu tidak kehilangan jati dirinya. Agar ketika dunia menuntut banyak hal, ibu tetap bisa menjalankan satu hal terpenting, yaitu mendidik dan menjaga anaknya dengan penuh kehadiran, bukan sekadar pengganti. []
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)

0 Komentar