Topswara.com -- Sudah setahun berbagai skema “penyelesaian” Palestina dipamerkan ke publik dunia. Dari gencatan senjata, solusi dua negara, hingga paket-paket diplomasi ala Barat.
Namun yang terjadi justru sebaliknya: penderitaan rakyat Palestina kian nyata, wilayahnya terus tergerus, dan Israel semakin percaya diri bertindak tanpa rasa takut.
Fakta terbaru menunjukkan Israel menyetujui pembukaan 19 permukiman baru di Tepi Barat yang menuai kecaman internasional, termasuk dari Chile. Namun kecaman tersebut berhenti pada pernyataan politik tanpa sanksi nyata, menegaskan sikap dunia yang mengetahui kesalahan ini tetapi memilih diam (Antara News, 22/12/2025).
Di hari yang sama, CNN melaporkan aksi brutal pemukim ilegal Israel yang menyerang warga Palestina di Tepi Barat dan mencuri sekitar 150 ekor domba. Peristiwa ini menegaskan bahwa yang terjadi bukan sekadar konflik bersenjata, melainkan teror terhadap warga sipil yang hidup di bawah pendudukan (Antara News mengutip CNN, 26/12/2025).
Tak berhenti di situ, Antara News juga memberitakan kecaman Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) terhadap pengakuan Israel atas wilayah Somaliland, sebuah langkah politik yang dinilai berbahaya dan mencerminkan ambisi dominasi Israel di tingkat global (Antara News, 27/12/2025).
Rangkaian fakta tersebut menyampaikan satu pesan jelas: narasi perdamaian internasional untuk Palestina telah gagal.
Solusi dua negara yang terus diulang selama puluhan tahun tidak pernah benar-benar menghadirkan keadilan.
Wilayah Palestina makin menyempit, sementara Israel terus memperluas kontrol. Gencatan senjata silih berganti dengan serangan, dan negosiasi berjalan seiring bertambahnya permukiman ilegal. Ini bukan kegagalan teknis, melainkan kegagalan sistemis.
Solusi yang lahir dari sistem global hari ini lebih berpijak pada kepentingan politik daripada keadilan sejati. Palestina diperlakukan sebagai isu diplomasi, bukan bangsa yang haknya dirampas.
Islam Wajibkan Penjajahan Dihentikan
Dalam Islam, penjajahan bukan sekadar persoalan politik, tetapi kejahatan syar’i. Al-Qur’an dengan tegas menolak segala bentuk pengusiran, perampasan tanah, dan penindasan atas suatu kaum.
Firman Allah: “Dan mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang penduduknya zalim…’” (QS. An-Nisa: 75).
Ayat ini sering dipahami para ulama sebagai legitimasi syar’i untuk melawan penjajahan, karena inti penjajahan adalah kezaliman terstruktur terhadap kaum lemah. Palestina hari ini adalah gambaran paling nyata dari ayat ini: rakyat sipil dikepung, diusir, kelaparan, dan dirampas tanahnya secara sistematis.
Sejarah membuktikan, Palestina pernah merasakan hidup aman di bawah pemerintahan Islam. Saat Umar bin Khattab ra memasuki Al-Quds, tidak ada pengusiran massal atau pembantaian.
Berbagai pemeluk agama hidup berdampingan di bawah keadilan. Fakta ini jarang diangkat karena tidak sejalan dengan narasi dominan Barat.
Allah SWT berfirman:
“Dan mengapa kamu tidak berjuang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah…” (QS. An-Nisa: 75). Ayat ini menegaskan bahwa membela kaum tertindas adalah kewajiban dan bagian dari tanggung jawab umat.
Negara Tidak Boleh Netral
Islam tidak membiarkan umat sendirian menghadapi penjajahan. Rasulullah ï·º menegaskan bahwa pemimpin adalah pelindung rakyatnya: “Imam (pemimpin) adalah perisai. Umat berperang di belakangnya dan berlindung dengannya”
(HR. Bukhari Muslim).
Artinya, penjajahan tidak akan berhenti hanya dengan doa dan simpati. Ia membutuhkan kekuatan politik yang benar-benar berpihak pada keadilan.
Khilafah: Jalan Keluar Nyata
Hari ini, umat Islam tercerai-berai dalam negara-negara yang terikat kepentingan masing-masing dan tekanan global. Akibatnya, Palestina dibiarkan berjuang sendiri. Ayat-ayat pembelaan terhadap kaum tertindas sering dikutip, tetapi jarang diwujudkan dalam kebijakan nyata.
Khilafah bukan sekadar romantisme sejarah. Ia adalah konsep kepemimpinan Islam yang menyatukan kekuatan umat, melindungi wilayah Muslim, dan menolak standar ganda. Sejarah mencatat, Palestina relatif aman di bawah Khilafah dan mulai terpuruk setelah institusi ini runtuh.
Islam tidak mengajarkan berdamai dengan penjajahan atau menormalisasi kezaliman. Selama umat Islam belum kembali pada kepemimpinan politik yang menyeluruh, penjajahan akan terus berulang. Palestina akan terus terluka, dan dunia akan terus berpura-pura lupa. []
Oleh: Zahida Ar-Rosyida
(Aktivis Muslimah Banua)

0 Komentar