Topswara.com -- Israel kembali menunjukkan tabiat buruknya. Di tengah gencatan senjata, Israel kembali berulah. Alih-alih cooling down setelah berperang melawan Iran, Zionis Yahudi itu malah menggempur Lebanon hingga menimbulkan korban nyawa dan kerusakan di berbagai tempat.
Pada Rabu (8/), Israel menyerang Lebanon hingga menewaskan sedikitnya 254 orang dan 1.165 orang terluka. Serangan tersebut hanya beberapa jam setelah pengumuman gencatan senjata antara AS-Israel dan Iran. Militer Israel menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan operasi terkoordinasi terbesar sejak mereka memulai kampanye militer baru di Lebanon pada 2 Maret.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz mengatakan bahwa serangan tersebut menargetkan infrastruktur Hizbullah. Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri menyebut serangan tersebut sebagai kejahatan perang sepenuhnya.
Sementara itu, Hizbullah mengecam serangan itu dan menuding Israel menargetkan wilayah sipil di pinggiran selatan Beirut, ibu kota, Sidon, Lebanon selatan, dan Lembah Beeka. (cnnindonesia.com, 9-4-2026)
Aksi Israel ini makin mempertegas bahwa negara tersebut memang biang onar yang menimbulkan kerusakan di mana-mana. Israel tak segan-segan menyerang negara mana pun yang bertentangan dengannya atau yang menghalangi jalannya.
Bekingan kuat dari AS membuat Israel merasa di atas angin dengan bersikap seenaknya terhadap negara lain. Israel juga tak malu melanggar aturan. Israel bahkan tak peduli seluruh dunia mengecam dan menghujatnya habis-habisan. Ia terus saja bertindak menurut kepentingannya sendiri.
Bukan sekali ini saja Israel melanggar gencatan senjata. Palestina sudah kenyang menghadapi pengkhianatan Israel yang menjadikan gencatan senjata sebagai kesempatan untuk mengumpulkan kekuatan guna melakukan serangan kembali yang lebih keras.
Rakyat Palestina tidak hanya menghadapi kekejaman Israel yang merampas tanah mereka, tetapi juga berulang kali pelanggaran perjanjian gencatan senjata.
Hal ini seharusnya membuka mata para pemimpin negeri muslim bahwa tidak ada gunanya melakukan perjanjian gencatan senjata atau perundingan apa pun dengan Israel.
Segala macam diplomasi dan omon-omon jelas tak mempan mengakhiri keganasan dan kebiadaban Israel terhadap kaum muslim. Berbicara dengan ZionisYahudi Israel hanyalah sia-sia belaka karena sama sekali tak akan digubris.
Untuk itu, satu-satunya jalan yang tepat menghadapi Israel adalah dengan kekuatan senjata atau jihad. Para pemimpin negeri muslim harusnya mengirim tentaranya untuk melawan Israel yang tidak hanya menyerang negeri muslim seperti Iran dan Lebanon, tetapi juga menjajah secara keji rakyat Palestina.
Tentara itulah yang akan mengusir Israel dari setiap jengkal tanah umat Islam yang selama ini telah dikuasai dengan semena-mena.
Dengan jihad dan khilafah, setiap serangan, gangguan, atau ancaman terhadap negeri muslim dan penduduknya dapat dicegah dan ditepis. Penjajahan dan penindasan terhadap rakyat Palestina akan dapat diakhiri ketika jihad fi sabilillah dilancarkan.
Serangan terhadap Iran, Lebanon, Yaman, dan negeri muslim lainnya akan dibalas dengan sepadan hingga membuat musuh gentar. Dengan perintah khalifah, pasukan muslim akan menjalankan kewajibannya membebaskan negeri muslim yang tertindas dan menegakkan keamanan Islam di dalamnya di bawah naungan khilafah, seluruh elemen umat akan bersatu padu saling menjaga dan melindungi.
Namun, ini belum terwujud hingga kini. Penyebabnya adalah adanya penyakit wahn parah yang telah menjangkiti para penguasa muslim hingga tidak bertindak apa-apa selain mengikuti gendang negara adidaya dan menerima segala perintahnya.
Wahn atau kecintaan kepada dunia telah membuat para penguasa muslim tunduk kepada negara kafir kapitalis. Mereka lebih memilih bersekutu dengan AS dan Israel, baik secara terbuka maupun di balik layar. Para penguasa itu lebih takut kehilangan kedudukannya di dunia hingga sukarela menyerahkan keamanan dan keselamatan umat ke tangan kafir penjajah.
Karena itulah, seruan untuk kembali kepada jalan Islam menjadi sebuah kewajiban yang urgen terus dilakukan. Bukan hanya menyeru kepada umat, tetapi juga para penguasa muslim yang notabene pemegang amanah kekuasaan.
Tidaklah kekuasaan itu sejatinya untuk menegakkan hukum Allah. Sudah saatnya kita kembali kepada aturan Sang Khalik yang menjamin keselamatan dan kesejahteraan sebagaimana firman-Nya dalam surah Ali Imran ayat 133: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”
Dengan demikian, gencatan senjata atau segala macam perundingan dengan kafir penjajah bukanlah solusi atas situasi saat ini. Namun, dengan jihad dan Khilafahlah solusi yang tepat sebagaimana perintah syariat. Inilah jaminan kemenangan hakiki yang pasti terbukti sebab Allah sendiri yang telah menjanjikannya.
Oleh. Nurcahyani
Aktivis Muslimah

0 Komentar