Topswara.com -- Lucu ya, beda pendapat langsung dibakar. Seolah-olah yang berbeda itu pasti sesat. Padahal sampai hari ini, tidak ada fatwa resmi yang menetapkan hal itu sesat.
Lalu pertanyaannya sederhana, kalau ukurannya “beda lalu dibakar”, siapa yang paling benar? Yang paling keras suaranya? Atau yang paling kuat dalilnya?
Di sinilah kita perlu jujur. Masalahnya bukan sekadar beda pendapat. Masalahnya adalah cara kita menyikapi perbedaan itu sendiri. Dalam Islam, perbedaan bukan hal baru.
Sejak zaman para sahabat, perbedaan sudah ada. Salah satu contoh terkenal adalah ketika Rasulullah SAW bersabda kepada para sahabat agar tidak salat Ashar kecuali di Bani Quraizhah.
Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kalian melaksanakan salat Ashar kecuali di Bani Quraizhah.” (HR. Shahih Bukhari)
Dalam perjalanan, waktu Ashar hampir habis. Sebagian sahabat memahami perintah itu secara tekstual dan menunda salat. Sebagian lain memahami maksudnya sebagai dorongan untuk bergegas, lalu tetap salat di perjalanan.
Hasilnya? Dua kelompok berbeda.
Tetapi apa yang terjadi? Tidak ada yang membakar. Tidak ada yang saling menyesatkan. Dan Rasulullah SAW tidak menyalahkan keduanya.
Para ulama setelahnya juga berbeda pendapat. Imam Imam Abu Hanifah berbeda dengan Imam Malik. Imam Syafi’i berbeda dengan Imam Ahmad bin Hanbal. Tapi apakah mereka saling membakar kitab? Tidak.
Mereka berdialog. Mereka berdebat dengan ilmu. Mereka menghormati perbedaan.
Imam Syafi’i bahkan pernah berkata, “Pendapatku benar, tapi mungkin salah. Pendapat orang lain salah, tapi mungkin benar.”
Ini bukan kalimat lemah. Ini justru menunjukkan kedalaman ilmu dan kerendahan hati.
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa perbedaan dalam masalah ijtihad adalah hal yang wajar selama bersandar pada dalil. Yang tidak boleh adalah menjadikan perbedaan itu sebagai alasan untuk permusuhan, apalagi tindakan emosional yang jauh dari adab.
Begitu juga Syaikh Abu Rustah menegaskan bahwa umat ini seharusnya disatukan oleh pemahaman yang benar, bukan dipecah oleh emosi dan fanatisme tanpa ilmu.
Masalahnya hari ini bukan kurang ilmu. Masalahnya adalah cara berpikir yang salah terhadap ilmu.
Banyak orang hanya ingin menang, bukan mencari kebenaran. Ingin terlihat benar, bukan benar-benar memahami
ingin cepat menghakimi, tanpa mau mengkaji. Akhirnya, perbedaan dianggap ancaman. Bukan sebagai ruang berpikir, tapi sebagai alasan untuk menyerang.
Padahal, kalau kita yakin pada kebenaran, harusnya tidak perlu takut pada perbedaan. Karena kebenaran itu tidak butuh api untuk menang. Ia cukup dengan cahaya ilmu. Kalau memang salah, luruskan dengan dalil. Kalau memang keliru, jawab dengan hujjah. Bukan dengan membungkam.
Bakar buku bukan tanda kuatnya iman. Justru itu tanda rapuhnya argumen. Karena orang yang yakin dengan ilmunya, tidak takut berdialog. Sebaliknya, orang yang lemah, cenderung memilih cara instan, yaitu dengan menyerang, membungkam, atau memusnahkan.
Islam tidak mengajarkan itu.
Islam mengajarkan adab sebelum ilmu, dan ilmu sebelum tindakan.
Perbedaan itu biasa, bahkan tak terelakkan. Yang tidak biasa adalah
ketika perbedaan disikapi dengan emosi, bukan dengan ilmu.
Hari ini kita dihadapkan pada pilihan, mau menjadi umat yang dewasa dalam berpikir,
atau umat yang mudah tersulut emosi.
Mau mengikuti jejak para ulama, atau justru menjauh dari cara mereka. Karena sejatinya, Islam tidak pernah takut pada perbedaan. Yang ditakuti adalah ketika perbedaan tidak lagi dihadapi dengan kebenaran.
Beda itu biasa, Sobat Nabila. Yang tidak biasa adalah ketika perbedaan dibalas dengan api, bukan dengan ilmu. []
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)

0 Komentar