Topswara.com -- Di tengah gemuruh dunia yang memuja kecepatan, produktivitas, dan pencapaian materi, Islam datang membawa ideologi agung: waktu adalah amanah, dan umur adalah modal menuju keabadian.
Bukan harta yang menentukan nilai hidup.
Bukan jabatan yang mengangkat derajat di sisi Allah. Tetapi bagaimana setiap detik umur digunakan untuk mendekat kepada-Nya.
Allah bersumpah dalam Al-Qur’an:
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian.” (QS. Al-‘Ashr: 1–2)
Sumpah ini bukan sekadar retorika Ilahi. Ia adalah deklarasi ideologis bahwa manusia tanpa iman, ilmu, dan amal adalah makhluk yang merugi, betapapun dunia memujinya.
Waktu dalam Perspektif Tauhid
Dalam pandangan tauhid, waktu bukan sekadar fenomena fisika. Waktu adalah medan ujian, dan umur adalah proyek peradaban ruhani. Hasan al-Basri berkata:
“Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari. Jika satu hari berlalu, maka berlalu pula sebagian dirimu.”
Artinya, setiap hari bukan hanya kalender yang berganti—tetapi bagian dari diri kita yang terpotong dan tidak akan pernah kembali.
Di sinilah letak kesadaran sufistik:
Seorang mukmin tidak sekadar hidup dalam waktu, ia mengelola waktu sebagai jalan menuju Allah.
Ilmu dan Amal: Dua Sayap Keselamatan
Ideologi Islam tidak membangun umat dengan emosi sesaat, tetapi dengan ilmu yang mencerahkan dan amal yang menguatkan.
Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menegaskan bahwa ilmu tanpa amal adalah kesia-siaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesesatan. Keduanya harus berjalan seiring, seperti ruh dan jasad.
Ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan.
Amal adalah langkah yang menapaki jalan itu. Tanpa ilmu, manusia mudah tertipu oleh gemerlap dunia. Tanpa amal, ilmu hanya menjadi beban yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Nafas sebagai Mutiara Abadi
Setiap nafas adalah mutiara tak ternilai. Ia tak bisa diulang, tak bisa dibeli, tak bisa dipinjam dari esok hari. Bayangkan jika setiap tarikan nafas adalah peluang pahala. Maka orang yang lalai sejatinya sedang menyia-nyiakan permata yang tak tergantikan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
اغتنم خمساً قبل خمس…
“Manfaatkan lima perkara sebelum lima
perkara…” Di antaranya: hidupmu sebelum matimu, waktu luangmu sebelum sibukmu. (HR. Al-Hakim)
Hadis ini adalah manifesto kehidupan Islami: Jangan menunda kebaikan.
Jangan menunggu suasana sempurna untuk taat. Karena kematian datang tanpa notifikasi.
Teman Sejati di Alam Kubur
Ketika seseorang dimasukkan ke dalam liang lahat, dunia berhenti baginya. Harta tidak ikut masuk. Anak dan pasangan hanya sampai di tepi kubur. Sahabat kembali ke rumah masing-masing.
Yang tinggal hanyalah amal.
يتبع الميت ثلاثة… فيرجع اثنان ويبقى واحد
“Tiga perkara mengikuti mayit… dua kembali dan satu tetap bersamanya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Yang menetap hanyalah amal.
Di situlah ilmu yang diajarkan, sedekah yang diberikan, dan shalat yang ditegakkan menjadi cahaya dalam gelapnya kubur.
Maka janganlah engkau berbahagia kecuali ketika ilmumu bertambah dan amalmu meningkat. Karena kebahagiaan dunia tanpa bekal akhirat hanyalah fatamorgana.
Kesadaran Sufistik: Hidup untuk yang Abadi
Tasawuf bukan lari dari dunia. Tasawuf adalah menempatkan dunia di tangan, bukan di hati. Seorang mukmin sejati bekerja, berkeluarga, dan berkontribusi pada masyarakat. Tetapi hatinya terpaut kepada Allah. Ia menjadikan waktu sebagai ladang ibadah, bukan sekadar rutinitas kosong.
Ia sadar bahwa: Setiap detik adalah amanah. Setiap amal dicatat. Setiap nafas mendekatkannya kepada kematian. Dan kematian bukan akhir, melainkan gerbang menuju kehidupan hakiki.
Seruan Kebangkitan Umat
Wahai umat Islam,
Kita tidak akan bangkit hanya dengan retorika. Kita bangkit dengan disiplin waktu, dengan ilmu yang mendalam, dan dengan amal yang konsisten.
Bangunlah peradaban dari sajadah.
Hidupkanlah rumah dengan Al-Qur’an.
Didiklah generasi dengan ilmu dan akhlak.
Karena sejarah membuktikan: umat yang menghargai waktu akan memimpin dunia. Umat yang menyia-nyiakan waktu akan dipimpin oleh yang lain.
Penutup: Evaluasi Harian Seorang Mukmin
Setiap malam, tanyakan pada diri:
Apakah hari ini lebih dekat kepada Allah?
Apakah ilmuku bertambah?
Apakah amal shalihku meningkat?
Jika jawabannya ya, maka bergembiralah.
Jika belum, maka bertaubatlah sebelum terlambat. Karena pada akhirnya, umur bukan tentang berapa lama kita hidup
tetapi tentang seberapa bermakna kita hidup untuk Allah.
Semoga Allah menjadikan waktu kita penuh berkah, ilmu kita bermanfaat, dan amal kita diterima sebagai bekal cahaya di alam kubur. Aamiin.
Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Penulis, Akademisi dan Spiritual Motivator

0 Komentar