Topswara.com -- Sebuah kabar memilukan datang dari Kabupaten Demak sebagaimana dikutip dari metrotvnews.com (16/02/26). Seorang bocah perempuan berinisial SA (13) ditemukan gantung diri di rumahnya pada Kamis, 12 Februari 2026.
Penelusuran lebih lanjut menduga tindakan nekat ini dipicu oleh kemarahan sang ibu. Hal ini diperkuat dengan temuan tangkapan layar WhatsApp berisi makian dan kata-kata kasar yang ditujukan kepada korban beberapa hari sebelumnya.
Secara medis, tidak ditemukan tanda kekerasan fisik. Korban meninggal murni karena gangguan pernapasan. Namun, secara psikis, ada "luka" yang tidak terlihat oleh mata medis namun berakibat fatal.
Fenomena Bunuh Diri dalam Kacamata Psikologi
Bunuh diri bukanlah masalah sederhana. Ia adalah isu kesehatan masyarakat yang kompleks dengan dimensi biologis, sosial, dan psikologis. Data WHO (2021) menunjukkan betapa mendesaknya masalah ini: satu orang meninggal dunia akibat bunuh diri setiap 40 detik, atau lebih dari 700.000 jiwa per tahunnya.
Dalam perspektif Teori Pembelajaran Sosial, manusia adalah peniru ulung. Perilaku bunuh diri bisa terjadi karena proses belajar dari apa yang dilihat, baik melalui lingkungan sekitar maupun tontonan media sosial yang sering kali menyajikan solusi instan nan keliru dalam menghadapi tekanan hidup. Bagi anak yang belum memiliki kematangan berpikir, dorongan untuk meniru perilaku ini sangatlah rentan.
Rapuhnya Fondasi Keluarga dan Tekanan Hidup
Kasus ini menjadi alarm keras mengenai pentingnya komunikasi antara orang tua dan anak. Saat ini, banyak faktor yang membuat hubungan keluarga menjadi tidak harmonis, seperti faktor ekonomi: kemiskinan, mahalnya biaya hidup, dan sulitnya akses pekerjaan membuat orang tua tertekan secara mental.
Kurangnya literasi mental: banyak orang tua yang abai terhadap kesehatan mental anak, sehingga anak cenderung menutup diri. Pengaruh sekularisme, gaya hidup yang memisahkan agama dari keseharian membuat orang tua terjebak pada sikap otoriter dan hanya fokus pada pemenuhan nafkah materi, tanpa memberikan nutrisi batin dan rasa aman.
Ibu: Madrasah Pertama atau Luka Pertama?
Peran seorang Ibu sangatlah sentral sebagai Al-Madrasatul Ula (sekolah pertama). Ucapan dan sikap seorang ibu akan terekam kuat dalam memori anak. Islam memberikan kedudukan istimewa sekaligus tanggung jawab besar pada lisan orang tua.
Pertama, lisan adalah doa: hadis riwayat Al-Baihaqi menegaskan bahwa doa orang tua kepada anaknya adalah doa yang tidak tertolak. Jika lisan dihiasi makian, maka kata-kata kotor itu bisa menjadi "pengotor" akal dan penghambat keberkahan hidup anak.
Kedua, kunci ridha Allah: Sebagaimana hadis riwayat At-Tirmidzi, rida Allah bergantung pada rida orang tua. Maka, sangat penting bagi orang tua untuk menjaga lisan agar tetap baik demi mengundang rahmat Allah bagi sang anak.
Solusi Sistemis: Kembali ke Adab dan Syariat
Permasalahan ini tidak bisa diselesaikan hanya di tingkat individu. Dibutuhkan kerja sama tiga pilar:
Pertama, individu dan keluarga. Mencontoh kelembutan Rasulullah SAW. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Anas bin Malik bersaksi bahwa Rasulullah tidak pernah membentak atau menghardik anak-anak. Beliau justru selalu menyapa dan menebar kasih sayang.
Kedua, masyarakat. Menghidupkan budaya amar makruf nahi mungkar (saling menasihati) agar lingkungan menjadi tempat yang suportif bagi tumbuh kembang anak (QS. Ali Imran: 110).
Ketiga, negara. Negara harus hadir untuk menjamin kesejahteraan ekonomi agar beban mental keluarga berkurang, serta menutup akses konten media sosial yang merusak mental generasi.
Anak adalah hamba Allah yang dititipkan kepada kita. Mereka membutuhkan bimbingan yang bersumber dari kasih sayang, bukan kekerasan lisan. Hanya dengan menerapkan Islam secara kaffah (menyeluruh) baik dalam ibadah, urusan pribadi, maupun sistem pendidikan kita dapat melahirkan generasi emas yang tangguh secara mental dan mulia secara akhlak.
Wallahu a’lam bishshawwab.
Oleh: Eni Yulika
Aktivis Muslimah

0 Komentar