Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Ramadhan, Bulan Pembuktian Bukan Sekedar Rutinitas


Topswara.com -- Kita sering bangga menyebut diri Muslim. Tetapi Ramadhan selalu datang dengan satu pertanyaan yang tidak bisa kita hindari, Seberapa serius kita dengan Islam? Karena Ramadhan bukan sekadar ibadah tahunan. Ini bulan pembuktian. Pembuktian apakah Islam cuma identitas di KTP, atau benar-benar jadi standar hidup.

Hari ini kita puasa, lapar, haus dan menahan diri. Tetapi di luar sana, aturan Allah dipinggirkan dari kehidupan. Syariat dianggap urusan pribadi. Agama dibatasi di masjid. Seolah-olah Islam cukup jadi ritual, tetapi tidak boleh mengatur sistem.
Inilah realitanya.

Dalam sistem sekuler hari ini, agama dipisahkan dari negara. Akibatnya apa? Ketaatan jadi pilihan. Puasa dianggap hak individu, bukan kewajiban yang dijaga bersama. Lingkungan tidak dibangun untuk mendukung takwa, tetapi malah membuka pintu maksiat selebar-lebarnya.

Kita hidup di tengah suasana yang tidak dirancang untuk taat. Maka wajar kalau banyak yang tumbang. Banyak yang tidak puasa tanpa rasa bersalah. Banyak yang menganggap shaum sekadar tradisi, bukan kewajiban dari Allah.

Ini bukan semata soal individu lemah iman. Ini juga soal sistem yang tidak menopang ketaatan.

Islam itu bukan cuma ajaran spiritual. Ia adalah mabda, sebuah sistem hidup yang menyeluruh. Mengatur ibadah, muamalah, pendidikan, ekonomi, sampai pemerintahan. 

Tetapi hari ini, Islam direduksi menjadi “agama pribadi”. Selama shalat dan puasa, dianggap sudah cukup. Urusan hukum? Urusan negara? Katanya bukan wilayah agama.

Padahal sejarah menunjukkan, ketika Islam diterapkan secara kaffah dalam institusi seperti Khilafah, syariat bukan cuma teori. Ada peran negara dalam menjaga suasana ketakwaan. Ada aturan yang jelas. Ada sanksi bagi yang terang-terangan meremehkan kewajiban. Bukan untuk menzalimi, tetapi untuk menjaga kehormatan hukum Allah.

Bandingkan dengan hari ini. Maksiat dilegalkan atas nama kebebasan.
Nilai Islam diserang atas nama toleransi.
Syariat ditakuti, tetapi kemaksiatan dianggap wajar. Lalu kita bertanya, kenapa umat lemah?

Ramadhan seharusnya membuka mata kita. Bahwa masalahnya bukan cuma pada individu yang kurang semangat ibadah. Tetapi pada sistem yang memang tidak menjadikan Islam sebagai fondasi.

Maka Ramadhan bukan cuma soal memperbaiki diri secara personal. Tetapi juga momen menyadari bahwa Islam harus diperjuangkan secara menyeluruh. Bahwa ketaatan butuh lingkungan yang mendukung. Bahwa hukum Allah tidak boleh berhenti di sajadah.
Ini bulan pembuktian.

Apakah kita puas dengan Islam yang dibatasi?
Apakah kita rela syariat hanya hidup di ruang privat?
Atau kita ingin melihat Islam tegak sebagai pedoman hidup yang utuh?

Ramadhan mengajarkan kita disiplin. Mengajarkan kita tunduk pada aturan Allah dari subuh sampai maghrib. Kalau kita mampu tunduk dalam urusan makan dan minum, kenapa tidak dalam urusan sistem kehidupan?

Semoga Ramadhan ini bukan cuma membuat kita lapar, tetapi membuat kita sadar. Sadar bahwa Islam bukan sekadar identitas. Ia adalah aturan hidup yang harus ditegakkan, dijaga, dan diperjuangkan.

Karena Ramadhan bukan sekadar rutinitas. Ia adalah bulan pembuktian, siapa yang serius ingin Islam benar-benar hidup, bukan hanya disebut.

Wallahu 'alam bi shawwab.


Oleh: Nilam Astriati 
Aktivis Muslimah 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar