Topswara.com -- Dalam Kitab Nashā’ihul ‘Ibād karya Imam Nawawi al-Bantani
Di antara mutiara hikmah yang dinukil dalam kitab Nashā’ihul ‘Ibād, karya ulama besar Nusantara Imam Nawawi al-Bantani, terdapat nasihat-nasihat agung dari sang pintu ilmu, Ali bin Abi Thalib.
Beliau bukan hanya sahabat Nabi ﷺ, tetapi juga seorang arif billah, pemilik hati yang jernih dan pandangan ruhani yang tajam. Dalam nasihatnya, beliau mengingatkan tentang hal-hal yang menghalangi keshalihan perkara-perkara halus yang sering tidak kita sadari, namun perlahan mengeraskan hati dan menjauhkan dari Allah.
Keshalihan bukan sekadar rajin ibadah.
Keshalihan adalah hidupnya hati. Dan ada hijab-hijab yang menutupnya.
1. Cinta Dunia yang Berlebihan: Akar Segala Kelalaian
Sayyidina Ali r.a. menegaskan bahwa dunia itu fana dan akhiratlah yang kekal. Dunia bukan musuh, tetapi ketika ia masuk ke dalam hati dan menjadi tujuan, maka di situlah ia menjadi racun.
Rasulullah ﷺ bersabda:
حُبُّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيئَةٍ
“Cinta dunia adalah pangkal segala kesalahan.”
Cinta dunia: Membuat seseorang lupa akhirat. Menghalalkan cara demi keuntungan. Mengorbankan prinsip demi posisi. Menggadaikan agama demi pujian
Allah berfirman:
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا
وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى
(QS. Al-A’la: 16–17)
Hati yang terlalu sibuk mengejar dunia akan sulit merasakan manisnya iman. Keshalihan membutuhkan hati yang ringan terhadap dunia, namun serius terhadap akhirat.
2. Panjang Angan-Angan: Penunda Taubat
Thūlul amal (panjang angan-angan) adalah penyakit halus. Seseorang berkata:
“Nanti kalau sudah pensiun saya fokus ibadah.” “Nanti kalau sudah kaya saya akan sedekah.” “Nanti kalau sudah tua saya akan hijrah.”
Padahal Allah berfirman:
وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ
(QS. Luqman: 34)
Kematian tidak menunggu kesiapan kita.
Ia datang saat kita sedang menunda. Panjang angan-angan: Mengurangi kesungguhan amal. Menghilangkan rasa gentar. Menjadikan dosa terasa ringan
Orang shalih selalu merasa ajal dekat.
Bukan untuk takut berlebihan, tetapi untuk serius dalam beramal.
3. Mengikuti Hawa Nafsu: Musuh dari Dalam
Sayyidina Ali r.a. mengingatkan bahwa musuh terberat manusia adalah nafsunya sendiri.
Allah berfirman:
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ
(QS. Al-Jatsiyah: 23)
Nafsu: Menghias dosa. Membenarkan maksiat. Membisikkan pembenaran. Keshalihan bukan berarti tidak memiliki nafsu. Keshalihan adalah kemampuan mengendalikan nafsu.
Inilah jihad terbesar:
Jihad melawan diri sendiri.
4. Lalai dari Muhasabah: Hati yang Tidak Pernah Dikoreksi
Sayyidina Ali r.a. berkata:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.”
Orang yang tidak pernah muhasabah: Merasa selalu benar. Sulit menerima nasihat. Tidak sadar dosa-dosanya
Muhasabah adalah cermin ruhani.
Tanpa muhasabah, hati menjadi gelap tanpa disadari.
5. Lingkungan yang Buruk: Api yang Menghanguskan Iman
Teman yang buruk lebih berbahaya dari musuh yang nyata.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ
“Seseorang itu tergantung agama sahabat dekatnya.”
Lingkungan yang salah: Meremehkan dosa. Menertawakan kebaikan. Mengolok-olok orang taat. Keshalihan tumbuh di tanah yang subur. Jika lingkungan adalah racun, iman akan layu.
Akar Masalah Ada di Hati
Jika kita renungkan, semua penghalang keshalihan bermuara pada satu tempat: hati.
Hati yang: Terlalu cinta dunia. Terlalu panjang angan. Terlalu tunduk pada nafsu. Terlalu jarang muhasabah
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً
إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ
وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ
أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
Keshalihan dimulai dari hati.
Jika hati bersih, amal akan lurus.
Refleksi untuk Umat
Wahai umat Islam…
Kita hidup di zaman di mana dunia dipuja, maksiat dinormalisasi, dan ketaatan dianggap kuno. Tetapi nasihat Sayyidina Ali r.a. tetap relevan sepanjang zaman. Keshalihan tidak terhalang oleh kemiskinan. Tidak terhalang oleh kesibukan. Tidak terhalang oleh jabatan.
Yang menghalanginya adalah: Hati yang lalai. Nafsu yang dituruti. Dunia yang dipertuhankan. Jika kita ingin menjadi hamba yang dekat dengan Allah: Ringankan hati dari dunia. Pendekkan angan-angan. Tundukkan nafsu. Perbanyak muhasabah. Pilih lingkungan yang shalih
Maka keshalihan bukan lagi mimpi.
Ia menjadi jalan hidup.
Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Penulis, Akademisi dan Spiritual Motivator

0 Komentar