Topswara.com -- Telaah Ideologis Sufistik atas Hakikat Berpikir karya Taqiyuddin an-Nabhani
Umat ini tidak pernah kekurangan jumlah.
Tidak pernah miskin sumber daya.
Tidak pernah sepi dari masjid dan majelis taklim. Namun mengapa kebangkitan terasa jauh? Jawabannya mungkin bukan pada kurangnya amal, tetapi pada cara berpikir yang belum lurus.
Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam Hakikat Berpikir menjelaskan bahwa kebangkitan lahir dari perubahan pola pikir. Tetapi jika kita dalami secara ruhani, berpikir yang benar bukan sekadar aktivitas intelektual ia adalah ibadah akal dan penyucian kesadaran. Berpikir yang benar adalah jembatan antara akal dan hati. Dan di situlah tajdid (pembaruan) umat dimulai.
Hakikat Berpikir: Antara Akal dan Cahaya
Beliau menjelaskan bahwa berpikir adalah proses memindahkan realitas ke dalam otak melalui indra, lalu ditafsirkan dengan informasi sebelumnya. Namun dalam perspektif sufistik, ada pertanyaan yang lebih dalam: Informasi sebelumnya itu bersumber dari mana?
Standar penilaian itu dibangun di atas apa?
Jika informasi yang kita simpan dalam akal dibangun di atas: Sekularisme, materialisme, pragmatisme. Maka hasil berpikir pun akan duniawi.
Tetapi jika informasi itu dibangun di atas: Aqidah tauhid, kesadaran akhirat, rasa muraqabah kepada Allah. Maka berpikir menjadi ibadah.
Allah berfirman:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
(QS. Ali Imran: 190)
Ulul albab bukan sekadar orang cerdas.
Mereka adalah orang yang berpikir dengan hati yang hidup.
Akar Krisis Umat: Kerusakan Standar Berpikir
Hari ini umat sering menilai sesuatu dengan standar: viral atau tidak, untung atau tidak, disukai publik atau tidak. Bukan lagi: halal atau haram, ridha Allah atau murka-Nya. Inilah yang disebut krisis ideologis.
Berpikir tanpa aqidah adalah berpikir tanpa kompas. Bergerak tanpa arah.
Berjuang tanpa visi akhirat. Kebangkitan umat bukan hanya butuh semangat,
tetapi butuh revolusi kesadaran.
Dimensi Sufistik: Penyakit Hati Merusak Akal
Mengapa manusia bisa salah berpikir padahal cerdas? Karena akal dipengaruhi hati. Jika hati dipenuhi: Cinta dunia, hasad, ambisi kekuasaan, ketakutan kehilangan posisi. Maka akal akan mencari pembenaran. Di sinilah tasawuf dan ideologi bertemu.
Tasawuf membersihkan hati. Ideologi meluruskan standar berpikir. Tanpa tasawuf, ideologi bisa menjadi keras.
Tanpa ideologi, tasawuf bisa menjadi pasif. Kebangkitan membutuhkan keduanya.
Berpikir Ideologis yang Bertauhid
Syeikh an-Nabhani menekankan pentingnya akidah sebagai qaidah fikriyah (landasan berpikir). Secara ruhani, ini berarti: Setiap realitas harus ditimbang dengan tauhid. Ketika melihat kemiskinan berpikir solusi syar’i. Ketika melihat ketidakadilan berpikir hukum Allah. Ketika melihat kemaksiatan berpikir perbaikan sistem. Bukan sekadar mengeluh. Bukan sekadar marah. Tetapi berpikir dalam kerangka wahyu.
Kebangkitan Dimulai dari Individu yang Sadar
Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
(QS. Ar-Ra’d: 11)
Perubahan “ma bi anfusihim” bukan hanya perubahan akhlak, tetapi perubahan pola pikir. Individu yang bangkit adalah individu yang: Berpikir dengan standar syariat, hatinya bersih dari kepentingan dunia, mampu membedakan fakta dan propaganda, tidak mudah terseret opini
Ia bukan hanya ahli ibadah, tetapi ahli membaca realitas dengan cahaya iman.
Sejarah: Ketika Akal dan Hati Bersatu
Generasi sahabat tidak hanya kuat secara spiritual, mereka juga kuat secara ideologis. Tauhid menjadi standar berpikir mereka. Maka lahirlah peradaban yang adil, kuat, dan berwibawa. Kebangkitan mereka bukan hasil kebetulan. Ia lahir dari: aqidah yang kokoh, pola pikir yang lurus, hati yang bersih. Inilah kombinasi emas kebangkitan.
Refleksi: Apakah Kita Sudah Berpikir dengan Tauhid?
Coba tanyakan pada diri: Ketika saya menilai sesuatu, apakah saya menimbangnya dengan wahyu? Ketika saya mengambil keputusan, apakah ridha Allah menjadi standar? Ketika saya marah, apakah karena Allah atau karena ego?
Berpikir benar bukan sekadar rasional.
Ia adalah kesadaran akan pengawasan Allah. Berpikir benar adalah zikir dalam bentuk intelektual.
Penutup: Revolusi Dimulai dari Dalam
Umat ini tidak akan bangkit hanya dengan retorika. Tidak akan bangkit hanya dengan nostalgia kejayaan. Ia bangkit ketika:
Akalnya tunduk pada wahyu. Hatinya bersih dari dunia. Visinya terikat pada akhirat.
Berpikir benar adalah kunci kebangkitan.
Dan kebangkitan sejati adalah kebangkitan ruhani sebelum kebangkitan politik.
Jika hati bersih dan akal lurus, maka umat akan menemukan jalannya kembali.
Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Penulis, Akademisi dan Spiritual Motivator

0 Komentar