Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Lelah di Jalan Dakwah, Lebih Mulia dari Nyaman Tanpa Arah


Topswara.com -- Ada masa ketika seorang pengemban dakwah merasa lelah, seperti masalah keluarga datang bersamaan, ekonomi goyah, anak butuh perhatian, pekerjaan menumpuk, tubuh capek, hati pun ikut goyah.

Lalu muncul bisikan halus, “Kayaknya aku butuh istirahat dari dakwah dulu deh…” Padahal, yang sebenarnya terjadi bukan butuh istirahat, tetapi mulai goyah arah.

Coba jujur pada diri sendiri. Apa benar dakwah itu penyebab masalah? Atau justru dakwah satu-satunya jalan pertolongan yang Allah bukakan?

Allah sudah berjanji, "Jika kalian menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian." 
(QS Muhammad: 7)

Jadi, kalau hari ini hidup terasa berat, lalu kita malah menjauh dari dakwah, itu ibarat orang kehausan tapi menjauh dari sumur. Bukan hausnya yang hilang, malah bisa mati kehausan.

Ada juga yang menjauh karena hati mulai lalai. Dulu semangat ikut kajian, rajin tilawah, aktif bergerak.

Sekarang? Sibuk, capek, malas, akhirnya semua ditunda, lalu pelan-pelan ditinggalkan. Padahal Rasulullah Saw sudah mengingatkan, Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.

Jadi kalau hidup terasa sempit, doa seperti mentok di langit-langit, jangan buru-buru menyalahkan keadaan.
Coba tanya hati sendiri, “Masih dekat enggak sama dakwah?”

Ada juga yang pergi karena luka. Bukan luka karena musuh, tetapi karena teman seperjuangan.

Merasa tidak dihargai. Merasa disalahpahami. Merasa kurang diperhatikan. Lalu mundur. Diam. Menghilang.

Padahal dakwah itu tempat ditempa, bukan tempat dimanja. Kalau dengan satu-dua teman saja sudah ingin kabur, bagaimana nanti menghadapi umat yang keras, yang belum paham Islam, yang kadang menyakitkan, yang kadang menolak?

Dakwah Itu Bukan Ruang Nyaman Tapi Ruang Pembentukan. Ada juga yang berkata, “Aku capek, amanahnya berat.”

Tenang, kamu tidak sendirian. Semua pengemban dakwah pernah merasa seperti itu. Yang membedakan, ada yang tetap bertahan, ada yang memilih mundur pelan-pelan. Padahal kuncinya cuma dua, yaitu niat dan manajemen waktu.

Coba duduk sebentar. Tulis ulang prioritas hidupmu. Mana yang penting, mana yang hanya sekadar kebiasaan. Kadang kita bilang tidak punya waktu untuk dakwah, padahal waktu kita habis untuk hal-hal yang tidak mendekatkan kita ke surga.

Scroll berjam-jam bisa. Ngopi berjam-jam bisa. Ngobrol gak jelas bisa. Tapi dakwah? Katanya gak sempat. Jujur saja, kadang masalahnya bukan waktu yang kurang,
tapi prioritas yang berantakan.

Luruskan lagi niat. Kita berdakwah bukan untuk dipuji, bukan untuk disukai, bukan untuk dianggap penting. Kita berdakwah karena ini jalan menuju ridha Allah. Selesai. Sesederhana itu.

Manusia bisa salah menilai. Manusia bisa tidak menghargai. Tetapi Allah tidak pernah salah mencatat. Setiap langkah, setiap lelah, setiap air mata di jalan dakwah semuanya tersimpan rapi di sisi-Nya.

Ingat, hidup ini sebentar. Umat sedang terluka di banyak tempat. Kezaliman terjadi di mana-mana. Bayangkan suatu hari Allah bertanya, “Di mana kamu saat umat membutuhkan pembelaan?”

Apa yang akan kita jawab? “Sibuk urusan pribadi, ya Allah…”?Padahal umur, ilmu, harta, dan tubuh kita akan ditanya satu per satu. 

Dakwah itu seperti ladang. Kalau kamu garap, kamu akan panen. Kalau kamu biarkan, yang tumbuh bukan pahala, tapi rumput liar bernama nafsu.

Jadi, sebelum memutuskan mundur, tanya diri sendiri, “Aku ini sedang lelah di jalan Allah, atau justru sedang mencari alasan untuk menjauh?”

Kalau lelah, istirahat sebentar. Tetapi jangan pernah keluar dari barisan. Karena surga itu bukan untuk yang paling cepat,
tetapi untuk yang paling setia bertahan di jalan-Nya. []


Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar