Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Kebijakan “Board of Peace” Bikin Kaum Muslim Meringis


Topswara.com -- Keputusan Indonesia melalui Presiden Prabowo Subianto untuk bergabung dalam misi perdamaian yang baru saja diinisiasi oleh Amerika yang dipimpin oleh Presiden Donald Trump cukup mengejutkan. 

Isi dalam perjanjian Board of Peace dikarenakan lebih mengutamakan pembangunan ulang dengan judul “ New Gaza” dengan membangun gedung-gedung pencakar langit, apartemen, komoditi, industri, wisata dan bisnis yang melanggengkan ide kapitalisme. 

Ada beberapa alasan yang dikemukakan oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono mengapa Indonesia bergabung dengan Board of Peace atau yang dimaksud Dewan Perdamaian buatan Amerika Serikat (AS) Donald Trump. 

Pertama sebagai cara atau komitmen Indonesia membangun perdamaian di kawasan Timur Tengah terutama di area Palestina dan di Gaza. Kedua, demi tercapainya two state solution untuk mewujudkan kemerdekaan Palestina. Dengan bergabungnya Indonesia dengan BoP sejalan dengan inisiatif internasional yang bertujuan untuk menyelesaikan konflik Palestina dengan Israel (kompas.com, 23/01/2026).

Alasan yang menjadi pertimbangan mengapa Indonesia bergabung dengan misi Board of Peace salah satunya pernyataan-pernyataan dari perwakilan tokoh Islam yaitu Gus Yahya dari PBNU “Terkait dengan keadaan sekarang berlangsung dan ada beberapa peluang yang tersedia di Indonesia agar secara lebih progresif, konkret, mengejar hasil yang nyata untuk menolong Palestina, yaitu termasak mengikuti partisipasi yang ididalamnya terdapat inisiatif yang dibuat oleh Amerika yaitu Board of Peace ini”. 

Jika menelusuri usungan program Board of Peace ini, ada banyak kejanggalan yang tidak luput dari sifat-sifat licik yang dimiliki oleh Amerika Serikat. Amerika sendiri tidak akan mudah untuk memberikan wewenang kemerdekaan begitu saja pada Palestina. 

Trump berencana akan memindahkan warga Gaza ke negeri-negeri Islam di sekitaran Palestina, dan rencana ini sudah membuat kegaduhan seperti Mesir, Suriah, dan sekitarnya. 

Board of Peace sendiri tidak dibangun dengan gratis, Trump meminta negeri-negeri muslim seperti Indonesia untuk ikut menyerahkan sejumlah dana iuran yang ditetapkan oleh Trump sukarela senilai US$ 1 miliar atau sekitar Rp. 16,7-Rp16,9 triliun dari Indonesia untuk bergabung Board of Peace. 

Di lain sisi menurut Netanyahu, ia tidak setuju jika Board of Peace akan memberikan hak kemerdekaan bagi Palestina secara total. Kenyataannya misi zionis Israel ingin menghabisi seluruh penduduk Palestina hingga tidak bersisa.

Amerika Serikat bersama Israel berambisi untuk segera mengusai Gaza dengan instan tanpa adanya perlawanan balik dan segera menghapus jejak genosida dengan membangun New Gaza. 

Demi memperkuat posisi kendali politik internasional Amerika membentuk Dewan Perdamaian Gaza (DPG) dengan merangkul negeri-negeri muslim. Semua dilakukan sebagai bentuk siasat mengendalikan Gaza secara total menyeluruh.

Syariah, Khilafah, dan Jihad

Sejatinya tanah Gaza dan Palestina milik umat Islam yang saat ini dirampas oleh Israel. Tanah Palestina yang kuncinya selalu dijaga dari zaman kekhalifahan Umar bin Khatab hingga berabad-abad lamanya. Sejatinya Allah membenci pengkhianatan yang dilakukan oleh pemimpin-pemimpin Islam. 

Allah melarang keras kaum muslim untuk tunduk patuh hingga memberikan loyalitas pada negara kafir seperti halnya sukarela bergabung dengan Board of Peace ini. Bersama umat dan penguasa dunia Islam wajib melawan semua makar yang dibangun oleh Amerika Serikat dan Israel untuk menguasai Gaza. 

Maka menegakkan Khilafah dan menunaikan jihad untuk membebaskan Palestina wajib untuk dilakukan sebagai bentuk prioritas perjuangan hakiki, menjadi saksi kepada Allah bahwa umat muslim mengusahakan sepenuhnya untuk meraih kembali tanah hak kaum muslim. Mengirimkan tentara dan berjihad untuk perjuangan bersama dalam bentuk dakwah partai politik Islam ideologis.[]


Oleh: Mislannada Fiddaraini, S.Hum. (Aktivis Dakwah)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar