Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Kasus Siswa di Ngada, Tamparan Keras untuk Negara


Topswara.com -- Publik dikejutkan dengan kabar meninggalnya seorang anak di Ngada, NTT. Bukan kematian karena sakit atau kecelakaan, melainkan lantaran sang anak mengakhiri hidupnya sendiri. 

Kisah tragis dialami YBR (10) seorang anak yang juga merupakan salah satu siswa di Kabupaten Ngada. Ia ditemukan gantung diri di pohon cengkeh dekat pondok neneknya pada 29 Januari pagi. Aksi mengakhiri hidup sendiri ini diduga karena beratnya tekanan batin yang dialami YBR. 

Kemiskinan membuat YBR tidak memiliki uang untuk membeli kebutuhan sekolah seperti buku dan pena. Sejak usia dua tahun, YBR diasuh oleh sang nenek. Ibu YBR bekerja sebagai petani dan tinggal bersama empat saudaranya di desa lain, sedangkan sang ayah merantau ke Kalimantan sejak YBR masih dalam kandungan. 

Kondisi ini membuat YBR tumbuh tanpa pendampingan langsung dari orang tuanya dan menimbulkan rasa kesepian hingga tekanan mental. (kompas.com, 11-2-2026)

Kasus anak di Ngada ini lebih dalam dari sekadar buku dan pena. Peristiwa ini menguak adanya kemiskinan ekstrem, pola pengasuhan anak yang tidak tepat, dan pendidikan yang belum merata di Kabupaten Ngada. 

Tidak hanya orang tua yang bertanggung jawab atas kasus ini, tetapi juga pihak berwenang setempat dan terutama negara sebagai penyelenggara urusan rakyat. 

Tersiar kabar bahwa YBR juga ditagihi uang sekolah sebesar Rp1.220.000. Namun, ia tidak mampu membayarnya lantaran kondisi ekonomi yang tidak mampu. YBR juga diketahui tidak tercatat sebagai penerima bantuan akibat kendala administrasi kependudukan. 

Kemiskinan membuat orang tua tidak mampu mencukupi kebutuhan anak secara fisik maupun pengasuhan yang baik. Bukan hanya kebutuhan sandang, pangan, dan papan anak yang tak terpenuhi, tetapi juga perhatian dari orang tua tak didapatkan. 

Anak tumbuh dalam kekurangan materi dan atensi orang tua yang memengaruhi perkembangan mentalnya. Tidak adanya tempat untuk bercerita membuat anak-anak memendam sendiri masalahnya hingga akhirnya tak sanggup lagi ditahan sendiri. Anak pun nekad mengambil tindakan yang menurutnya tepat, padahal malah makin merusak.

Pemerintah jelas bertanggung jawab atas hal ini. Bagaimana bisa anak yang tidak mampu secara ekonomi ini tidak mendapatkan bantuan gara-gara masalah administrasi. Harusnya anak dengan kondisi YBR mendapatkan prioritas. 

Bukan hanya kebutuhan pokoknya, tetapi juga hak mendapat pendidikan secara layak menjadi perkara penting yang harus diukataman dipenuhi pemerintah. 

Kasus YBR merupakan tamparan keras bagi negara. Negara gagal dalam menjamin hak pendidikan bagi setiap anak. Tampak jelas bahwa tak semua anak mampu mendapatkan haknya untuk bersekolah dengan tenang dan layak. Anak masih harus dihadapkan pada persoalan biaya sekolah yang membebani, padahal tak mampu secara ekonomi. 

Inilah dampak dari sistem pendidikan yang kapitalistik. Pendidikan yang harusnya hak setiap anak menjadi terbatas pada mereka yang mampu membayar saja. Pendidikan menjadi ajang bisnis. Rakyat harus membayar mahal untuk dapat menikmatinya. 

Makin berkualitas sekolah, makin mahal biayanya. Dengan demikian, rakyat miskin hanya mampu menikmati pendidikan alakadarnya, bahkan terpaksa menutup mimpi untuk bersekolah.

Kondisi berbeda bila sistem Islam yang diterapkan. Dalam sistem Islam, pendidikan menjadi hak dasar rakyat yang wajib dipenuhi oleh negara. Karena itulah, negara akan mengerahkan segenap sumber dayanya demi memenuhi kebutuhan dasar ini. Hal ini sebagai bentuk pelayanan negara untuk rakyatnya.

Negara akan menyelenggarakan pendidikan berkualitas dan gratis bagi seluruh rakyat. Setiap anak akan berkesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan. Tidak ada anak yang akan merasa terbebani dengan biaya sekolah karena negara telah menjamin semuanya.

Meskipun gratis, negara sangat memperhatikan kualitas pendidikan yang dijalankan. Negara tidak hanya menyediakan sekolah atau lembaga pendidikan yang terjangkau, tetapi juga segala sarana dan prasana pendukungnya seperti laboratorium, perpustakaan, asrama, percetakan, buku, jurnal, alat tulis, dsb. Guru yang berkualitas dan kurikulum berbasis akidah Islam juga disiapkan negara secara serius. 

Semua itu mampu diwujudkan karena negara memiliki dana yang cukup dari baitulmal. Pembiayaan pendidikan diambil dari pos fa’i dan kharja serta kepemilikan umum. Dengan dukungan dana dari baitulmal ini, setiap orang akan terpenuhi hak dasarnya. Setiap anak dapat bersekolah tanpa terkendala masalah biaya. 

Para orang tua dapat menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang tertinggi tanpa risau dengan biayanya. Para guru pun dapat fokus mengajar karena mendapatkan gaji yang layak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Hal ini hanya mungkin terwujud ketika Islam diterapkan sebagai sistem kehidupan secara kaffah. Untuk itu, memperjuangkan sistem Islam untuk Kembali tegak menjadi sebuah keniscayaan.


Oleh: Nurcahyani 
Aktivis Muslimah 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar