Topswara.com -- Allah ﷻ telah menenangkan hati orang-orang beriman dengan firman-Nya:
وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
“Dan tidak satu pun makhluk yang melata di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya.” (QS. Hūd: 6)
Rezeki bukanlah hasil kecerdikan semata. Ia bukan milik strategi, bukan pula milik jaringan. Rezeki adalah rahasia kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya. Tugas kita bukan mencemaskan rezeki, tetapi memperbaiki diri agar pantas menerima limpahan-Nya.
1. Rezeki Telah Ditentukan Sejak dalam Kandungan
Dalam hadis sahih, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa malaikat diperintahkan mencatat empat perkara bagi manusia, di antaranya rezekinya. (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim)
Artinya, sebelum kita mengenal dunia, Allah telah menuliskan jatah rezeki kita. Maka kegelisahan tidak akan mempercepatnya, dan ketakutan tidak akan menahannya.
2. Rezeki Bukan Sekadar Uang
Rezeki adalah: Nafas yang masih Allah beri. Kesehatan yang memungkinkan kita sujud. Ilmu yang menerangi akal. Keluarga yang menenangkan jiwa. Kesempatan bertaubat sebelum ajal tiba.
Kadang manusia sempit dalam memaknai rezeki, sehingga ia merasa miskin padahal ia kaya dalam banyak hal.
3. Kunci Lapangnya Rezeki
Allah berfirman:
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(QS. Ath-Thalaq: 2–3)
Perhatikan, bukan kecemasan yang membuka pintu rezeki, tetapi takwa. Bukan keluhan yang mengundang keberkahan, tetapi tawakal.
Imam sufi besar, Abdul Qadir al-Jailani, menasihatkan:
“Jika engkau yakin kepada Allah, maka janganlah engkau menggantungkan hatimu kepada makhluk.”
Karena siapa yang hatinya terpaut pada makhluk, ia akan gelisah. Tetapi siapa yang hatinya terpaut kepada Allah, ia akan tenang sekalipun dunia terasa sempit.
4. Ikhtiar dan Tawakal
Islam tidak mengajarkan pasrah tanpa usaha. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah memberi kalian rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung; pagi hari ia pergi dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang.”
(HR. Sunan at-Tirmidzi)
Burung tetap terbang. Ia tetap mencari. Tetapi ia tidak menyimpan kecemasan di dadanya. Ikhtiar adalah kewajiban. Tawakal adalah penenang jiwa.
5. Obat dari Kecemasan Rezeki
Jika hatimu gelisah karena urusan dunia, maka: Perbanyak istighfar. Perbaiki shalatmu. Lunakkan hatimu dengan sedekah. Jauhi yang haram meski tampak menguntungkan.
Sebab rezeki yang sedikit namun halal dan berkah lebih menenangkan daripada banyak namun membawa kegelisahan.
Renungan Penutup
Wahai jiwa yang sering cemas,
Rezekimu tidak akan tertukar.
Tidak akan terlambat.
Tidak akan diambil orang lain.
Yang perlu engkau khawatirkan bukanlah sedikitnya rezeki,
tetapi kurangnya syukur dan lemahnya tawakal.
Karena ketika hati sudah yakin bahwa rezeki dari sisi Allah,
maka hidup menjadi ringan, langkah menjadi lapang,
dan jiwa menjadi tenang.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang yakin, sabar, dan bersyukur.
Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Penulis, Akademisi dan Spiritual Motivator

0 Komentar