Topswara.com -- Program makan bergizi gratis atau MBG di rencanakan akan tetap berjalan selama Ramadhan, dengan rencana tersebut ada kekhawatiran kepada anak-anak yang sedang belajar berpuasa.
Bagaimana pun juga anak sekolah penerima MBG ini adalah mayoritas muslim yang mempunyai kewajiban melaksanakan ibadah puasa selama bulan Ramadhan. Namun apa jadinya jika MBG selama bulan Ramadhan tetap di paksakan.
Menurut Menteri coordinator bidang pangan Zulkifli hasan memastikan MBG tetap dijalankan selama bulan Ramadhan 2026, ada skema yang akan diatur dalam pelaksanaannya, sehingga mendukung umat dalam menjalankan ibadah.
Untuk siswa muslim MBG akan di berikan berupa makanan kering, sedangkan untuk ibu hamil dan balita tetap berjala seperti biasa, begitupun dengan sekolah non muslim menu MBG seperti biasa yaitu makanan siap saji. (kemenkopangan.com, 29/01/2026)
MBG di bulan Ramadhan terkesan program yang di paksakan, menurut pengamat pertanian dari Center Of Reform On Economics (CORE) Ind0nesia Eliza Mardian menilai pemberian makanan kering kepada penerima MBG berpeluang besar tidak memenuhi kebutuhan gizi secara optimal.
Karena pemenuhan gizi dari makanan kering justru berpotensi menambah resiko penyakit dalam jangka panjang. Ini menunjukan kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat, tetapi berpihak pada pengelola SPPG yang harus terus berjalan.
Selain itu ada komentar dari ahli gizi Tan Shot Yen menilai skema pemberian makan bergzi gratis (MBG) pada saat bulan puasa lebih baik diserahkan pada keluarga masing-masing.
Namun kenyataannya usulan para ahli ini sering diabaikan demi mengejar target proyek SPPG agar tetap beroperasi. Inilah bukti kebijakan yang berpihak pada paradigma kapitalistik pasti berfokus memberikan keuntungan pada para pemilik modal, bukan pada kemaslahatan rakyat, dan tidak berpijak pada syariat.
Sebenarnya yang di butuhkan rakyat adalah pendidikan berkualitas gratis, banyaknya lapangan pekerjaan, agar orang tua bisa maksimal dalam memenuhi kebutuhan keluarga dan tercukupinya gizi seluruh keluarganya.
Negara seharusnya memberikan jaminan kesejahtraan dengan sungguh-sungguh kepada rakyatnya, karena rakyat adalah tanggung jawab negara, dan ini bukan dalam bentuk makanan siap saji yang justru menjadi ladang bancakan para penguasa dan pengusaha, bahkan saat ini TNI dan Polri pun di gadang-gadang ikut dalam mengurus MBG.
Berbeda halnya dengan Islam, Islam menjamin makanan bergizi pada anak dan keluarga, selain di bebankan pada para penanggng nafkah keluarga, memang menjadi tanggung jawab negara, yaitu Ketika kondisinya tidak tercukupi. Mekanisme penjaminan makan dalam syariat melalui mekanisme kepala keluarga, wali, kerabat yang mampu, dan terakhir negara melalui baitul mal.
Selain itu, penjamnan negara terhadap kecukupan makan individu harus murni pelayanan langsung, bkan di jadikan sebagai komoditas bisnis, seperti yang terjadi dalam sistem kapitalis, target proyek dan peluang politik praktis.
Dalam Islam, negara sebagai raa’in yang harus menjaga amanah dalam mengelola keuangan di Baitul mal, sesuai dengan fungsi dan skala prioritas bukan soal kemanfaatan semata.
Semua bisa terwujud hanya dalam sistem Islam, yaitu khilafah yang di pimpin oleh seorang khalifah, khalifah yang takut kepada Rab-nya dan akan memberikan jaminan kesejahteraan kepada rakyat yang di pimpinnya.
Sehingga rakyat merasakan kesejaheraan di bawah naungan khilafah, dan semua pernah terjadi ketika Islam tegak di muka bumi ini, dan akan kembali seizin Allah SWT dalam waktu yang makin dekat InsyaAllah.
Wallahu’alam bishawab.
Oleh: Ade Siti Rohmah
Aktivis Muslimah

0 Komentar