Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Hidup Adalah Perjalanan, Akhirat Adalah Tujuan


Topswara.com -- Kita hidup di dunia bagaikan seorang pengembara. Datang tanpa membawa apa-apa, lalu berjalan meniti waktu dengan langkah yang terbatas. Dunia ini hanyalah persinggahan, bukan tempat menetap. Ia laksana padang luas yang harus kita lalui sebelum tiba di kampung halaman yang sejati: akhirat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

 كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ
“Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau seorang pengembara.”
(HR. Bukhari)

Pengembara tidak akan terpedaya oleh gemerlap persinggahan. Ia tidak membangun istana di tengah perjalanan. Ia hanya mengambil secukupnya untuk melanjutkan langkah. Demikianlah seharusnya sikap seorang mukmin terhadap dunia.

Allah ﷻ mengingatkan:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.”
(QS. Ali Imran: 185)

Kematian bukanlah akhir, melainkan pintu pulang. Kita semua akan kembali kepada-Nya. Dan saat itu, yang ditanya bukan seberapa banyak dunia yang kita kumpulkan, tetapi seberapa dalam kita mengenal-Nya, seberapa tulus kita beribadah kepada-Nya, dan seberapa besar manfaat kita bagi sesama.

Merasa Butuh kepada Allah: Inti Kehambaan

Jalan paling dekat menuju rahmat Allah adalah selalu merasa membutuhkan-Nya. Inilah hakikat ubudiyah. Orang yang merasa cukup dengan dirinya akan jauh dari Allah. Tetapi orang yang merasa lemah, fakir, dan bergantung sepenuhnya kepada-Nya—itulah yang dekat.

Allah berfirman:

 يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
“Wahai manusia, kalianlah yang membutuhkan Allah; dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Fatir: 15)

Merasa butuh kepada Allah bukan berarti lemah dalam usaha. Justru sebaliknya, ia menjadi sumber kekuatan. Karena ketika seseorang sadar bahwa dirinya fakir di hadapan Allah, maka ia akan:

Tidak sombong saat berhasil.
Tidak putus asa saat gagal.
Tidak gelisah saat kehilangan.
Tidak takut kecuali kepada-Nya.

Ia sadar bahwa setiap nafas adalah pemberian. Setiap detak jantung adalah izin. Setiap langkah adalah takdir yang dituntun.

Dunia Menguji, Akhirat Menentukan

Dunia adalah ladang ujian. Kesenangan adalah ujian. Kesedihan pun ujian. Kekayaan ujian. Kemiskinan juga ujian. Semuanya akan dipertanggungjawabkan.

Sebagaimana firman Allah:

لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“Untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya.”
(QS. Al-Mulk: 2)

Yang dinilai bukan sekadar banyaknya amal, tetapi kualitasnya: keikhlasan, ketulusan, dan kesesuaian dengan tuntunan Rasulullah ﷺ.

Seorang pengembara yang cerdas akan mempersiapkan bekal terbaik. Bekal itu bukan harta, bukan jabatan, bukan popularitas. Bekal itu adalah iman yang hidup, ilmu yang bermanfaat, amal shalih yang ikhlas, dan hati yang bersih.

Hati yang Selalu Bergantung

Para ulama salaf mengajarkan bahwa puncak kedekatan seorang hamba kepada Allah adalah saat ia tidak lagi bersandar pada makhluk, tetapi hanya bersandar kepada Rabb-nya.

Ketika hati berkata: “Ya Allah, tanpa-Mu aku tidak mampu. Tanpa-Mu aku tidak kuat. Tanpa-Mu aku tersesat.” Maka saat itu rahmat Allah sangat dekat.

Merasa butuh kepada Allah adalah tanda hidupnya hati. Sebaliknya, merasa cukup dengan diri sendiri adalah awal kehancuran. Iblis jatuh bukan karena kurang ibadah, tetapi karena merasa dirinya lebih baik.

Menjadi Pengembara yang Sadar Arah

Maka wahai jiwa, jangan terlalu lama terpukau oleh dunia. Jangan jadikan dunia sebagai tujuan, tetapi sebagai kendaraan menuju tujuan.

Gunakan usia untuk mendekat.
Gunakan rezeki untuk berbagi.
Gunakan ilmu untuk menerangi.
Gunakan jabatan untuk melayani.

Karena pada akhirnya, kita semua akan kembali kepada-Nya. Dan saat kembali itu tiba, semoga kita pulang sebagai hamba yang membawa bekal takwa, hati yang tunduk, dan jiwa yang selalu merasa membutuhkan Allah dalam setiap keadaan.

Semoga Allah menjadikan kita pengembara yang selamat sampai tujuan.
Aamiin.


Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Penulis, Akademisi dan Spiritual Motivator
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar