Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Palestina dan Janji Semu Perdamaian


Topswara.com -- Kalimat “perdamaian” sering kali diucapkan, tetapi tak pernah dirasakan. Di Palestina, janji-janji diplomasi bergema di ruang konferensi, sementara nyatanya tanah mereka terus digerus, rumah diratakan, dan air mata tak sempat dikeringkan.

Berbagai solusi politik dihidangkan, seperti solusi dua negara, proposal damai, hingga paket-paket diplomatik, namun realita sering berjarak dengan ide dalam tumpukan kertas rencana.

Solusi hanya menjadi wacana, bukan menjadi penyembuh luka. Dunia internasional tampaknya gamang, seolah kehilangan keberanian untuk menegakkan keadilan secara gamblang.

Dalam kumparannews.com (03/01/2026).
Israel kembali melarang organisasi kemanusiaan internasional beroperasi dan memberikan bantuan medis di Gaza, Palestina.

Sudartono Abdul Hakim selaku ketua MUI Bidang Hubungan luar Negeri dan Kerja Sama Internasional mengatakan bahwa tindakan israel ini merupakan pengabaian menyeluruh terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan tindakan kejahatan kemanusiaan.

Agresi militer Israel telah melampaui batas konflik bersenjata dan lebih seperti genosida. MUI juga menyinggung konferensi Janewa yang melindungi organisasi kemanusiaan dalam perang, jika tindakan Israel tersebut didiamkan, justru akan memperkuat pendapat internasional bahwa ada standar ganda istimewa untuk Israel sang penjajah.

Memandang hal ini, sebagian negara-negara besar telah geram, tapi di beberapa bagian, banyak negara yang memilih bungkam. Bukan mereka tidak tahu, tidak pula karena kurang bukti, melainkan karena perbedaan kepentingan yang saling bertabrakan.

Ketika tumpahan darah dan kezaliman dipertontonkan, nurani ternyata bisa dikalahkan oleh kekuatan politik, ekonomi, dan kekuasaan. Standar keadilan dunia bukan lagi kebenaran, melainkan keuntungan.

Batas wilayah yang diciptakan manusia menjadi tembok pemisah empati. Nasionalisme adalah bukti, penderitaan saudara seiman dianggap urusan luar negeri, seolah ikatan akidah kalah oleh garis batas buatan penjajah.

Selain itu, sistem sekuler telah mencabut agama dari badan kehidupan. Kezaliman tak lagi diukur dengan halal dan haram, tetapi dengan stabilitas dan kepentingan global.

Jadi, selama penindasan tidak mengganggu keseimbangan kekuasaan, ia akan dianggap wajar, bahkan dibenarkan. Di sinilah dunia kehilangan suara, dan keadilan kehilangan makna.

Namun yang lebih pedih bukan hanya dunia yang pilih kasih, melainkan pengkhianatan sebagian kaum muslimin sendiri. Inilah pengkhianatan yang paling pahit, yakni ketika umat melupakan saudara sendiri.

Tetapi di sejarah Islam, Pada masa kekuasaan Shalahuddin al-Ayyubi, keadilan ditegakkan bukan dengan dendam, tetapi dengan rasa kemanusiaan. Kekuasaannya digunakan untuk melindungi, bukan menyakiti.

Padahal, sebelum Yerusalem jatuh ke tangan kaum muslim, kota suci itu ada di bawah kekuasaan Tentara Salib selama hampir sembilan dekade. Tentara Salib merebut Yerusalem pada tahun 1099 M dengan cara yang mengerikan.

Kaum muslim dan Yahudi dibunuh membabi buta, darah mengalir di jalanan kota, bahkan tempat ibadah pun mereka jadikan tempat menganiaya.

Namun ketika giliran Shalahuddin al-Ayyubi, sejarah mengambil langkah yang berbeda. Dalam posisi sebagai pemenang yang berkuasa, Shalahuddin memiliki peluang penuh untuk membalas dendamnya.

Shalahuddin malah menjamin keselamatan warga sipil, baik Muslim, Kristen, maupun Yahudi. Tidak ada genosida, tak ada perusakan rumah ibadah. Gereja-gereja dilindungi, tempat suci lintas agama dijaga, dan masyarakat diberi keamanan nyata.

Sejarah ini harusnya menampar negara yang mengklaim diri sebagai penjaga hak asasi manusia, namun justru membenarkan penindasan selama sesuai kepentingannya.

Padahal Rasulullah S.A.W telah mengingatkan bahwa kaum muslimin adalah satu tubuh, maka jika salah satu anggota sakit, seluruh tubuh ikut merasakan.

Sudah saatnya umat Islam sadar, bangkit, dan bersatu. Kita disatukan oleh akidah, bukan sekadar batas teritorial wilayah. Kebangkitan untuk menolak membiarkan kezaliman dalam bentuk apa pun. Dan persatuan untuk mengembalikan kekuatan umat yang selama ini terpecah-belah.

Palestina bukan isu politik semata. Palestina adalah tanah warisan, tanah yang diberkahi, tanahnya para nabi, dan amanah umat hingga akhir zaman. Ia bukan milik suatu bangsa, melainkan milik seluruh kaum muslimin sedunia.

Dunia boleh memilih bungkam, tapi umat Islam tidak boleh ikut diam. Karena diam di hadapan kezaliman bukanlah kebaikan, melainkan keberpihakan. Dan keberpihakan pada kezaliman adalah awal dari kehancuran umat.

Wallahu’alam.


Oleh: Audina Putri
Aktivis Muslimah 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar