Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Air Mata Gaza dan Kebisuan Dunia


Topswara.com -- Jeritan rakyat Palestina seakan tak pernah menemukan ujung. Dari hari ke hari, berita tentang serangan brutal, pembunuhan warga sipil, penghancuran rumah, hingga pencaplokan wilayah terus mengalir tanpa henti. Dunia menyaksikan, tetapi Palestina tetap berdarah. 

Pertanyaan yang terus menggema di benak umat Islam dan manusia berakal sehat adalah sampai kapan penderitaan ini berakhir?

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa rezim Israel laknatullah tak pernah berhenti melakukan agresi. Di Gaza dan Tepi Barat, nyawa manusia seolah tak bernilai. Ribuan warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, menjadi korban. 

Lebih dari itu, Israel bahkan melarang 37 organisasi kemanusiaan beroperasi di Palestina. Artinya, bukan hanya serangan militer yang dilakukan, tetapi juga pengepungan kemanusiaan yang disengaja.

Penderitaan yang Disengaja dan Dipelihara

Kondisi ini bukanlah kecelakaan sejarah. Penderitaan rakyat Palestina niscaya akan terus berlangsung selama negara Israel tetap eksis, baik diakui secara resmi maupun tidak oleh dunia internasional.

Sejak awal berdirinya, Israel adalah proyek penjajahan yang dibangun di atas perampasan tanah, pengusiran penduduk asli, dan kekerasan sistematis.
Israel tidak pernah menyembunyikan ambisinya. 

Cita-cita mendirikan “Israel Raya” dan menguasai percaturan politik serta ekonomi dunia dijalankan dengan segala cara, termasuk genosida terbuka. 
Setiap gencatan senjata hanyalah ilusi. Setiap perundingan hanyalah jeda sebelum agresi berikutnya. 

Data pelanggaran yang terus meningkat selama masa “gencatan senjata” membuktikan bahwa Israel tidak pernah berniat menghentikan kejahatannya.
Karena itu, membiarkan Israel tetap eksis sama dengan membiarkan Palestina menderita selamanya. Tidak ada solusi adil yang bisa lahir selama penjajah masih diberi ruang untuk hidup dan mengatur nasib bangsa yang dijajahnya.

Ilusi Solusi Internasional

Ironisnya, dunia internasional terutama Amerika Serikat terus tampil sebagai “penengah” konflik. Padahal, sejarah mencatat bahwa setiap tawaran penyelesaian yang dipimpin AS justru menjerumuskan Palestina ke jurang penderitaan yang lebih dalam. 

Solusi dua negara, perjanjian damai, hingga tekanan diplomatik hanyalah kemasan halus untuk melegitimasi penjajahan.

Israel dibiarkan melanggar hukum internasional tanpa sanksi nyata. Sebaliknya, Palestina dipaksa menerima realitas pahit yang wilayahnya yang terus menyempit, haknya yang dirampas, dan masa depannya yang dikunci. Dalam skema ini, kecaman dunia hanyalah formalitas, sedangkan kejahatan terus berjalan.

Mengutuk Israel atau memohon agar bantuan kemanusiaan dibuka jelas tidak cukup. Bantuan memang penting untuk menyelamatkan nyawa, tetapi bantuan tidak akan membebaskan Palestina. Bantuan hanya mengobati luka, bukan menghilangkan sumber penyakitnya.

Akar Masalah: Absennya Junnah bagi Umat

Islam memandang persoalan Palestina bukan sekadar isu kemanusiaan, melainkan masalah politik dan akidah. Palestina adalah tanah yang diberkahi, tanah milik umat Islam, yang di dalamnya terdapat Masjid Alaqsha salah satu tempat suci kaum muslimin. Penjajahan atas Palestina adalah penghinaan terhadap seluruh umat Islam.

Namun, mengapa penderitaan ini terus berlangsung? Jawabannya pahit, karena umat Islam tidak memiliki junnah (perisai). Rasulullah ï·º bersabda, “Sesungguhnya imam itu adalah junnah, tempat berlindung dan berperang di belakangnya.” Ketika junnah itu hilang, umat menjadi lemah, tercerai-berai, dan mudah diinjak.

Pengkhianatan para penguasa muslim yang lebih takut kepada Barat daripada kepada Allah SWT memperparah keadaan. Normalisasi hubungan dengan Israel, sikap diam terhadap genosida, hingga pembatasan dukungan nyata bagi Palestina adalah bukti bahwa kepentingan politik sempit lebih diutamakan daripada amanah kepemimpinan umat.

Islam sebagai Mabda’, Jalan Keluar Hakiki

Islam sebagai mabda’ tidak menawarkan solusi tambal sulam. Islam menegaskan bahwa penderitaan Palestina baru akan berakhir jika ada negara adidaya khilafah yang berfungsi sebagai junnah bagi umat. 

Negara yang kekuatannya disegani, keputusannya mandiri, dan kebijakannya berpihak penuh kepada kaum muslimin.
Khilafah bukan sekadar simbol romantisme sejarah. Dalam sejarah Islam, Khilafah adalah entitas politik nyata yang mampu membebaskan tanah-tanah Islam, melindungi non-muslim, dan menegakkan keadilan global. 

Selama berabad-abad, Palestina hidup damai di bawah naungan Islam, tanpa pengusiran dan genosida.

Karena itu, perjuangan membebaskan Palestina tidak bisa dipisahkan dari perjuangan menegakkan kembali Khilafah Islam. Inilah solusi ideologis dan politis yang menyentuh akar masalah, bukan sekadar gejalanya.

Membangkitkan Kesadaran Umat

Perjuangan ini tentu bukan jalan singkat. Namun, langkah awal yang paling mendasar adalah membangkitkan kesadaran umat. Umat Islam harus diyakinkan bahwa penderitaan Palestina bukan takdir, melainkan akibat dari sistem dan kepemimpinan yang rusak.

Kesadaran ini harus diterjemahkan menjadi perjuangan politik ideologis yang konsisten, damai, dan berkelanjutan untuk menegakkan khilafah. Di saat yang sama, umat juga harus terus diingatkan bahwa Palestina adalah milik umat Islam, bukan milik Israel, bukan pula milik PBB atau kekuatan dunia mana pun.

Khatimah 

Nasib Palestina tidak akan berubah dengan air mata dan kecaman semata. Selama Israel tetap eksis dan umat Islam tidak memiliki junnah, penderitaan itu akan terus berulang. Islam sebagai mabda’ telah memberikan arah yang jelas yakni persatuan umat, penghentian pengkhianatan penguasa, dan tegaknya khilafah sebagai pelindung umat dan pembebas Palestina.

Pertanyaannya kini bukan lagi “kapan Palestina merdeka?”, tetapi “kapan umat Islam bangkit dan mengambil peran sejarahnya kembali?”

Wallahu a'lam bishshawab.


Oleh: Ema Darmawaty 
Praktisi Pendidikan 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar