Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Menyuarakan Kebenaran Berujung Teror


Topswara.com -- Bukan hari ini saja, namun sudah sering kita kita mendengar, bahkan menyaksikan ketika seseorang menyuarakan kebenaran akan berhadapan dengan berbagai intimidasi, teror, penangkapan berujung bui dengan pasal yang tidak masuk akal. Inilah konsekuensi kita hidup di sistem kapitalisme

Seperti dilansir bbc.com (2/1/2026) Sejumlah pemengaruh dikirimi teror berupa surat ancaman, bangkai ayam, sampai bom molotov. @dj_donny dikirimi bangkai ayam dengan kepala terpotong, dan surat ancaman yang menyebut aktivitasnya di media sosial. Dua hari kemudian, bom molotov dilempar ke depan rumahnya.

Beberapa influencer lain juga diteror, seperti Sherly Annavita yang mobilnya dicoret-coret, dan Chiki Fawzi yang mendapat ancaman digital yang disertai gambar kepala babi. Ancaman itu datang setelah mereka memublikasikan konten kritik penanganan pemerintah untuk bencana banjir dan longsor Sumatra.

Sungguh miris orang-orang yang menyuarakan kebenaran terkait kezaliman pemimpin hari ini malah mendapatkan teror, sedangkan mereka yang menutupi borok penguasa, rezim malah mendapatkan panggung, jabatan, dan fasilitas dunia lainnya.

Adanya teror yang diterima oleh sejumlah influencer menandakan bahwa sistem demokrasi yang disanjung-sanjung sebagai sistem pemerintahan terbaik nyatanya tidak memberikan ruang kebebasan untuk menyuarakan kebenaran. Ketika menyuarakan kebenaran akan mendapatkan konsekuensi. 

Semua orang harus tau, kritik yang diberikan kepada penguasa bukan untuk menjatuhkan, atau benci terhadap perilaku pemimpin, namun upaya untuk berbenah diri. Semua itu tidak akan didapatkan di sistem demokrasi yang berasaskan sekularisme yakni pemisahan agama dan kehidupan. 

Menurut Ketua Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa, Dr. Ahmad Sastra MM., mengatakan, kritik bukanlah pelemahan tetapi upaya kolektif memastikan kepemimpinan bertanggung jawab, adil, dan berpihak pada kemaslahatan rakyat.

Berbeda ketika sistem Islam diterapkan. Kritik, pendapat, merupakan sesuatu yang dibutuhkan pemimpin untuk berbenah, dari kritik inilah sebagai pemimpin akan terus belajar melayani rakyat, tidak melanggar syarak. 

Seperti kisah Khalifah Umar bin Khattab yang dikritik oleh seorang perempuan bernama Khaulah binti Tsalabah, ia menegur tentang batasan mahar, sehingga Umar menerima kesalahannya dan mengubah keputusannya.

Begitulah seharusnya sikap seorang pemimpin mendengar, menerima masukan dari rakyat bukan malah membuat teror, intimidasi, bahkan membungkam rakyatnya agar tunduk kepada peraturan yang zalim.

Sungguh umat hari ini sangat membutuhkan kepemimpinan Islam, dalam Islam kritik bukan ancaman namun merupakan kewajiban yang dilakukan setiap individu yakni amar makruf nahi mungkar. Janganlah suatu negeri ditimpa bencana akibat semua orang cuek dengan kezaliman yang merajalela.


Oleh: Alfia Purwanti 
Aktivis Muslimah 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar