Topswara.com -- Di tengah dunia yang gaduh oleh krisis ekonomi, perang, kerusakan moral, dan kehampaan spiritual, satu hal sering dilupakan umat Islam, waktu terus berjalan dan tidak pernah kembali.
Setiap detik yang berlalu sejatinya adalah potongan usia yang semakin mendekatkan manusia pada kematian. Dalam realitas seperti ini, tidak ada kemewahan untuk menunda amal terutama amal dakwah.
Dakwah bukan aktivitas sampingan bagi orang-orang yang hidupnya telah mapan. Dakwah adalah nafas orang beriman yang sadar bahwa hidup ini memiliki tujuan yang lebih tinggi daripada sekadar bertahan hidup atau mengejar kenyamanan dunia.
Dakwah adalah bentuk paling nyata dari tanggung jawab keimanan, menyampaikan kebenaran, mengingatkan yang lalai, dan membela jalan Allah di tengah sistem yang semakin menjauh dari-Nya.
Syaikh Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari dalam Al-Hikam mengingatkan, “Tertundanya pemberian dari Allah bukanlah penolakan, dan tertundanya pertolongan bukanlah pengabaian. Allah hanya sedang menempatkan segala sesuatu pada waktu yang paling tepat.”
Hikmah ini menegaskan bahwa seorang mukmin tidak boleh menunda ketaatan hanya karena hidupnya belum sempurna. Justru dalam kondisi lemah, terhimpit, dan diuji, seorang mukmin paling membutuhkan keterhubungan dengan Allah dan dakwah adalah salah satu bentuk keterhubungan itu.
Menyampaikan kebenaran bukan menunggu kita kuat, tetapi agar kita dikuatkan. Di sisi lain, dakwah juga bukan sekadar ajakan individual untuk berbuat baik.
Dakwah adalah proyek peradaban. Inilah yang ditekankan oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani ketika beliau menjelaskan hakikat dakwah Islam sebagai aktivitas ideologis yang bertujuan membentuk masyarakat dan menegakkan sistem yang diridhai Allah.
Menurut beliau, Islam tidak cukup diamalkan secara pribadi, tetapi harus diperjuangkan sebagai sistem hidup yang mengatur politik, ekonomi, pendidikan, dan hubungan sosial manusia.
Dalam kerangka ini, setiap Muslim sejatinya adalah subjek dakwah. Setiap Muslim adalah pembawa risalah. Tidak peduli apakah ia seorang ulama, ibu rumah tangga, pedagang, atau jurnalis. Selama ia memiliki iman, ia memiliki tanggung jawab dakwah.
Masalah umat hari ini bukan kekurangan orang pintar, melainkan kekurangan orang yang mau menyampaikan kebenaran. Banyak yang tahu bahwa sistem dunia saat ini rusak, bahwa kapitalisme menindas, bahwa umat Islam terjajah, namun hanya sedikit yang berani mengangkat suara.
Padahal dalam Islam, diam terhadap kebatilan bukan sikap netral, tetapi bagian dari kelalaian.
Syaikh Ibnu ‘Atha’illah juga mengingatkan, “Jangan menunda amal karena menunggu kondisi yang ideal, sebab kesempatan itu bisa dicabut sebelum ia datang.”
Waktu tidak menunggu kesiapan kita. Umur tidak berhenti sampai kita merasa siap berdakwah. Dan kematian tidak bertanya apakah kita sudah puas dengan hidup ini. Yang akan ditanya kelak adalah apa yang kita lakukan dengan waktu yang Allah titipkan?
Dalam dunia yang dipenuhi kesesatan ideologi dan kerusakan nilai, satu kalimat kebenaran bisa menjadi cahaya. Satu tulisan bisa membuka mata. Satu sikap tegas bisa membangunkan jiwa. Itulah makna dakwah, ia tidak selalu harus megah, tetapi ia harus terus hidup.
Dakwah adalah amal yang tidak berhenti ketika tubuh kita berhenti. Pahalanya terus mengalir ketika tulisan dibaca, ketika nasihat diingat, ketika seseorang berubah karena kebenaran yang pernah kita sampaikan. Itulah investasi akhirat yang tidak tergerus inflasi dunia.
Karena itu, apa pun kondisimu hari ini, entah lelah, sibuk, tertekan, atau bahkan terluka, jangan biarkan waktumu kosong dari amal dakwah.
Dunia ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan keluhan dan akhirat terlalu berharga untuk disia-siakan.
Dakwah adalah cara seorang mukmin menolak tenggelam dalam arus dunia. Dakwah adalah bukti bahwa hidupnya tidak sia-sia. Dan dakwah adalah jalan untuk tetap tegak di hadapan Allah ketika waktu telah berhenti dan kehidupan dunia telah selesai.[]
Oleh: Nabila Zidane
Jurnalis

0 Komentar