Topswara.com -- Di dunia yang penuh adu suara dan adu tenaga, banyak orang keliru memahami makna kuat. Yang paling keras dianggap paling hebat. Yang paling galak dianggap paling berkuasa.
Padahal dalam timbangan hikmah para ulama, yang paling kuat justru adalah yang paling mampu mengendalikan diri. Mengalah tidak selalu berarti menyerah. Kadang mengalah justru tanda seseorang sedang menyusun langkah.
Seperti pemain catur yang mengorbankan satu bidak, bukan karena takut, tetapi karena sedang menyiapkan langkah mematikan selanjutnya.
Syaikh Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari berkata dalam Al-Hikam, “Tidaklah Allah membuka bagimu pintu penerimaan kecuali setelah Dia menutup darimu pintu kesombongan.”
Orang yang memilih mengalah demi menjaga akal dan adab sedang menutup pintu kesombongan. Ia tidak terpancing adu ego, karena ia tahu bahwa yang paling mahal bukan menang cepat,
tapi menang dengan bermartabat.
Menghadapi orang yang mengandalkan otot dan emosi, bertarung dengan emosi hanya akan membuat kita tenggelam di lumpur yang sama. Orang berakal tidak mau turun ke medan orang bodoh. Ia memilih medan pikir dan strategi.
Imam Ali bin Abi Thalib berkata, “Aku tidak pernah berdebat dengan orang bodoh kecuali aku kalah. Karena ia menyeretku ke levelnya, lalu mengalahkanku dengan kebodohannya.”
Inilah mengapa mengalah sesaat adalah kecerdasan. Bukan karena kita lemah,
tetapi karena kita tidak mau terperangkap di arena yang salah.
Mengalah adalah cara menjaga tenaga. Mengalah adalah cara menjaga marwah. Dan mengalah adalah cara menyimpan peluru terbaik untuk waktu yang tepat.
Syaikh Ibnu ‘Atha’illah juga berkata, “Tenanglah dalam menghadapi takdir, karena apa yang telah ditentukan untukmu tidak akan meleset darimu.”
Orang yang yakin pada ketentuan Allah tidak panik. Ia tidak buru-buru membalas. Ia tidak tergesa-gesa membuktikan diri. Ia tahu bahwa kebenaran punya waktunya sendiri.
Sob, orang yang berisik biasanya sedang ketakutan. Yang tenang biasanya sedang menyusun kemenangan.
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa nafsu ingin menang sekarang, sementara akal dan iman ingin menang selamanya.
Maka orang yang dikendalikan emosi ingin memukul hari ini, sementara orang berakal ingin memastikan ia tidak kalah besok.
Dalam Ihya’ Ulumuddin, Al-Ghazali menulis bahwa mengendalikan amarah lebih mulia daripada memenangkan perdebatan. Karena kemenangan sejati bukan menjatuhkan lawan, tetapi menjaga diri agar tidak jatuh.
Mengalah yang lahir dari akal dan ilmu bukan kelemahan, tetapi kecerdasan spiritual. Seperti air yang mengalah pada batu. Air tidak melawan dengan keras, tetapi dengan kesabaran ia mengikis batu sampai hancur.
Maka ketika kamu memilih diam, bukan berarti kamu kalah. Bisa jadi kamu sedang membiarkan kebatilan menyingkap dirinya sendiri. Karena orang yang salah akan semakin terlihat salah jika terus dibiarkan bicara. Dan di sinilah letak kekuatan sejati.
Maka, hadapilah kekuatan otot dengan akal. Karena otot hanya mampu memukul, tapi akal mampu membaca keadaan, menimbang akibat, dan memilih jalan yang paling benar.
Emosi ingin menang sekarang, akal ingin menang dengan selamat. Nafsu ingin membalas, akal ingin menjaga martabat. Orang yang bertindak dengan otot akan cepat lelah, tapi orang yang bertindak dengan akal akan sampai tujuan.
Maka ketika kamu memilih sabar dan menahan diri, itu bukan tanda kalah, tetapi itu tanda akal sedang bekerja. Dan ketika waktunya tiba, akal yang dibimbing iman akan membawa kebenaran berdiri dengan tenang, tanpa perlu berisik, tanpa perlu kasar, karena yang benar tidak pernah butuh ribut untuk menang. []
Oleh: Nabila Zidane
Jurnali

0 Komentar